Mega Tak Akan "Nyapres"?

Kompas.com - 10/01/2014, 12:08 WIB
Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri KOMPAS.com/Indra AkuntonoKetua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri
|
EditorInggried Dwi Wedhaswary

JAKARTA, KOMPAS.com — Politisi senior PDI Perjuangan Panda Nababan mengatakan, dalam perbincangannya dengan Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, ada sinyal bahwa Mega tak akan maju dalam Pemilihan Presiden 2014. Menurutnya, kepada dia, Mega mengatakan sudah sering kali kalah.

"Saya belum pernah mendengar dari ring satu. Dari Tjahjo (Tjahjo Kumolo), Sekjen PDI Perjuangan, Hasto, TB Hasanudin bilang juga Mbak Mega tidak akan maju. Tapi, dia mengajukan kader-kader muda, ada Jokowi, Ganjar, Risma. Dari pembicaraan saya langsung, Mbak Mega tidak akan maju. Alasan dia sangat sederhana, 'Panda kamu pikir saya tidak tahu malu, saya sudah sering kalah, 2014 saya sudah nenek-nenek'," papar Panda, seraya menirukan perkataan Mega, Jumat (10/1/2014), di sela peringatan HUT PDI Perjuangan, di Jakarta.

Perbincangannya dengan Mega itu berlangsung pada tahun 2010, setelah Pemilihan Presiden 2009. Ia menilai, sikap Mega itu tidak akan berubah.

Namun, kata Panda, Mega belum pernah memberikan sinyal atau menyebutkan siapa kandidat calon presiden yang akan diajukan PDI Perjuangan. Dalam sejumlah survei, nama kader PDI Perjuangan yang kini menjabat Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, selalu menjadi kandidat capres dengan elektabilitas tertinggi.

Ketika ditanya, apakah hasil survei ini menjadikan Jokowi berpeluang besar menjadi capres PDI Perjuangan, Panda mengatakan, "Siapa pun punya (peluang)".

Dalam wawancara dengan Kompas, Megawati belum bersedia membuka sosok yang dipilihnya. Bahkan, ia sendiri mengaku belum tahu apa akan maju lagi dalam pemilihan umum presiden kali ini.

”Kita mesti lihat, kita mesti ukur. Saya melihat siapa-siapa saja (yang potensial). Saya tidak mau memilih kucing dalam karung,” kata Mega, Senin (6/1/2014).

Langkah Megawati itu cukup mengejutkan mengingat hasil survei menunjukkan PDI-P dan Jokowi mampu mengungguli kandidat yang lain. Baginya, survei itu tidak bisa dijadikan pegangan untuk mencalonkan seseorang.

”Kalau itu dijadikan pegangan, kita akan lupa diri. Jadikan sebagai gambaran saja dan kita (tetap) kerja keras,” katanya.

Menurut Mega, sebagai ketua umum partai yang memiliki hak prerogatif, ia dapat memutuskan calon yang diusung tanpa mekanisme rapat di internal partai. Ia juga berhak memutuskannya kapan pun sesuai dengan kalkulasi politik yang dimilikinya.

”Saya tahu yang dimaksud adalah (apakah) Jokowi? Tunggu dulu. Itu kan kalkulasi saya. Sebagai ketum partai, saya dapat hak prerogatif,” katanya.

”Meskipun Rakernas III menyebutkan penyebutan nama setelah mendapat hasil Pemilu 9 April, saya ketua umum punya hak prerogatif. Artinya, bisa saja sewaktu-waktu. Bisa siapa saja,” lanjutnya.

Menangkan Samsung A71 dan Voucher Belanja. Ikuti Kuis Hoaks / Fakta dan kumpulkan poinnya. *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Didemo Ojol, Pimpinan DPR Akan Minta Klarifikasi Nurhayati Monoarfa

Didemo Ojol, Pimpinan DPR Akan Minta Klarifikasi Nurhayati Monoarfa

Nasional
Saat Ojol Menyela Orasi Sufmi Dasco di Depan Gedung DPR...

Saat Ojol Menyela Orasi Sufmi Dasco di Depan Gedung DPR...

Nasional
Orasi di Depan Massa Ojol, Pimpinan DPR: Pemerintah Tak Akan Bikin Rakyat Susah

Orasi di Depan Massa Ojol, Pimpinan DPR: Pemerintah Tak Akan Bikin Rakyat Susah

Nasional
Irjen Antam Novambar Jadi Plt Sekjen KKP, Polisi Cari Pengganti Wakabareskrim

Irjen Antam Novambar Jadi Plt Sekjen KKP, Polisi Cari Pengganti Wakabareskrim

Nasional
Soal Bentrokan Muslim-Hindu di India, Presiden PKS Minta Indonesia Ikut Redakan Situasi

Soal Bentrokan Muslim-Hindu di India, Presiden PKS Minta Indonesia Ikut Redakan Situasi

Nasional
Dubes India Jelaskan Kondisi Negaranya Pascakerusuhan

Dubes India Jelaskan Kondisi Negaranya Pascakerusuhan

Nasional
Temui Massa Ojol, Pimpinan DPR Janji Libatkan Mereka dalam Revisi UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan

Temui Massa Ojol, Pimpinan DPR Janji Libatkan Mereka dalam Revisi UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan

Nasional
Menlu Pastikan 68 WNI yang Dievakuasi dari Kapal Diamond Princess Negatif Corona

Menlu Pastikan 68 WNI yang Dievakuasi dari Kapal Diamond Princess Negatif Corona

Nasional
Curah Hujan Tinggi Hingga Maret, BMKG Minta Daerah Ini Waspadai Banjir

Curah Hujan Tinggi Hingga Maret, BMKG Minta Daerah Ini Waspadai Banjir

Nasional
Bentrok TNI-Polri di Tapanuli, Kapolsek Diperiksa Propam

Bentrok TNI-Polri di Tapanuli, Kapolsek Diperiksa Propam

Nasional
Dua WNI Tidak Ikut Evakuasi dari Kapal Diamond Princess

Dua WNI Tidak Ikut Evakuasi dari Kapal Diamond Princess

Nasional
Ketua MA Perintahkan Cabut Larangan Ambil Gambar dan Rekaman dalam Sidang

Ketua MA Perintahkan Cabut Larangan Ambil Gambar dan Rekaman dalam Sidang

Nasional
Ibadah Umrah Ditangguhkan, Dubes Arab: Bukan Berarti Indonesia Positif Corona

Ibadah Umrah Ditangguhkan, Dubes Arab: Bukan Berarti Indonesia Positif Corona

Nasional
Ojol Minta Dilibatkan dalam Revisi UU 22/2009, Ini Alasannya...

Ojol Minta Dilibatkan dalam Revisi UU 22/2009, Ini Alasannya...

Nasional
Temui Wapres Ma'ruf, Liga Muslim Indonesia Bahas Soal Radikalisme

Temui Wapres Ma'ruf, Liga Muslim Indonesia Bahas Soal Radikalisme

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X