Kompas.com - 26/12/2013, 12:00 WIB
Gua yang diteliti para ilmuwan dan mengungkapkan sejarah tsunami purba di Lhong, Aceh, 2 Desember 2013. Gua mengandung jejak gelombang raksasa 7.500 tahun yang lalu. AP PHOTO / HERI JUANDAGua yang diteliti para ilmuwan dan mengungkapkan sejarah tsunami purba di Lhong, Aceh, 2 Desember 2013. Gua mengandung jejak gelombang raksasa 7.500 tahun yang lalu.
|
EditorPalupi Annisa Auliani

Gempa dan tsunami 2004, kejutan untuk para ilmuwan

Gempa yang memicu tsunami pada 2004 sampai saat ini masih menyisakan kejutan untuk para ilmuwan. Gempa megathrust di kawasan tersebut sebelumnya sudah tenang selama paling tidak 500 tahun terakhir.

Bahkan, tak tersedia cukup sejarah lisan yang biasa ditularkan dari generasi ke generasi tentang gempa besar terakhir. Pada banyak peradaban, dalam rentang waktu tertentu, peristiwa besar yang tak tercatat dalam sejarah masih bisa ditelusuri dari simbol-simbol cerita lisan penduduk lokal.

Sejak 2004, banyak penelitian dilakukan untuk memahami masa lalu kawasan tersebut. Caranya, pemeriksaan endapan pasir, karang yang terangkat, dan data GPS. "(Karenanya) temuan (goa) ini sangat signifikan," kata Katrin Monecke, profesor geosains dari Wellesley College di Massachusetts lewat surat elektronik.

Monecke bekerja mempelajari endapan pasir sisa tsunami di rawa-rawa di pedalaman. Hasil penelitian goa disajikan bulan ini di konferensi American Geophysical Union di San Francisco.

"Lapisan pasir di goa mencakup rentang waktu yang sangat lama dan memberikan ide yang sangat baik tentang frekuensi gempa," ujar Monecke sekalipun tak terlibat langsung dalam penelitian goa.

Pakar geologi Kerry Sieh dari Singapura yang terlibat dalam penelitian goa memperkirakan gempa hebat lain bisa terjadi di kawasan ini dalam beberapa dekade mendatang. Namun, ujar dia, para ahli cenderung berpendapat ada siklus tertentu yang panjang dan gempa 2004 lebih merupakan "kesalahan".

Meski demikian, sejarah terjadi dengan banyak variabel terlibat. Tak pernah ada perkiraan paling tepat untuk terjadinya sebuah catatan sejarah baru.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"(Hanya), dengan belajar dari tsunami pada masa lalu, mungkin kita bisa merencanakan mitigasi yang lebih baik bila ada tsunami berikutnya," kata Nazli Ismail, Kepala Departemen Fisika dan Geofisika Universitas Syiah Kuala di Banda Aceh, yang terlibat proyek goa ini.

Indonesia merupakan negara kepulauan yang berada di atas lempengan pula dengan julukan "Ring of Fire", rangkaian patahan dan gunung berapi yang mengelilingi Basin Pasifik. Di sini, tersimpan potensi aktivitas seismik terbesar dan paling mematikan di dunia.

Halaman:
Baca tentang


Sumber AP
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Soal Pengganti Azis Syamsuddin, Golkar: Doakan Selesai Senin Sore, Paling Telat Selasa

Soal Pengganti Azis Syamsuddin, Golkar: Doakan Selesai Senin Sore, Paling Telat Selasa

Nasional
Bareskrim Bongkar Pabrik Obat Keras Ilegal di Yogyakarta, 4 Orang Jadi Tersangka

Bareskrim Bongkar Pabrik Obat Keras Ilegal di Yogyakarta, 4 Orang Jadi Tersangka

Nasional
SBY: Mungkin Hukum Bisa Dibeli, tapi Tidak untuk Keadilan

SBY: Mungkin Hukum Bisa Dibeli, tapi Tidak untuk Keadilan

Nasional
Mahasiswa Gelar Aksi di Gedung KPK, Firli Bahuri Pimpin Rakor di Jambi

Mahasiswa Gelar Aksi di Gedung KPK, Firli Bahuri Pimpin Rakor di Jambi

Nasional
Sekjen Lodewijk F Paulus Dipertimbangkan Golkar Gantikan Azis Syamsuddin

Sekjen Lodewijk F Paulus Dipertimbangkan Golkar Gantikan Azis Syamsuddin

Nasional
Menkes Pastikan Venue PON di Papua Dilakukan 'Fogging' Antisipasi Malaria

Menkes Pastikan Venue PON di Papua Dilakukan "Fogging" Antisipasi Malaria

Nasional
Rapat Pelaksanaan PON XX Papua, Menko PMK Ingatkan untuk Antisipasi Kerumunan Penonton

Rapat Pelaksanaan PON XX Papua, Menko PMK Ingatkan untuk Antisipasi Kerumunan Penonton

Nasional
Pemerintah Siapkan Opsi Selain PeduliLindungi, Ketua DPR: Urgen untuk Jamin Hak Warga

Pemerintah Siapkan Opsi Selain PeduliLindungi, Ketua DPR: Urgen untuk Jamin Hak Warga

Nasional
Geledah 3 Lokasi di Probolinggo, KPK Amankan Dokumen Terkait Kasus Jual Beli Jabatan

Geledah 3 Lokasi di Probolinggo, KPK Amankan Dokumen Terkait Kasus Jual Beli Jabatan

Nasional
Menkes: Vaksinasi Dosis Pertama di 5 Kota Penyelenggara PON XX Capai 62,7 Persen

Menkes: Vaksinasi Dosis Pertama di 5 Kota Penyelenggara PON XX Capai 62,7 Persen

Nasional
Demo Mahasiswa Depan KPK, Polisi Siapkan Tes Covid-19 Antigen untuk Periksa secara Acak

Demo Mahasiswa Depan KPK, Polisi Siapkan Tes Covid-19 Antigen untuk Periksa secara Acak

Nasional
Uji Materi UU KY, Ahli Sebut Pembentuk UU Berwenang Atur Rekrutmen Hakim

Uji Materi UU KY, Ahli Sebut Pembentuk UU Berwenang Atur Rekrutmen Hakim

Nasional
Moeldoko: Tidak Boleh Ada Lagi Pungli dan Perizinan yang Berbelit-belit

Moeldoko: Tidak Boleh Ada Lagi Pungli dan Perizinan yang Berbelit-belit

Nasional
Menaker: Nilai Bantuan Subsidi Upah Rp 1 Juta, Tak Ada Potongan Apa Pun

Menaker: Nilai Bantuan Subsidi Upah Rp 1 Juta, Tak Ada Potongan Apa Pun

Nasional
Publik Dinilai Perlu Menghukum Parpol yang Kadernya Korupsi

Publik Dinilai Perlu Menghukum Parpol yang Kadernya Korupsi

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.