Budi Akui Uangnya Dipakai Bayar Mercedes-Benz Djoko Susilo

Kompas.com - 20/12/2013, 16:15 WIB
Direktur Utama PT Cipta Mandiri Metalindo Abadi (CMMA) Budi Susanto kembali diperiksa penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta, Jumat (21/12/2012). Budi Susanto di periksa sebagai saksi terkait penyidikan kasus dugaan korupsi proyek simulator ujian SIM, dengan tersangka kasus itu, Inspektur Jenderal Polisi Djoko Susilo. 

KOMPAS/ALIF ICHWANDirektur Utama PT Cipta Mandiri Metalindo Abadi (CMMA) Budi Susanto kembali diperiksa penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta, Jumat (21/12/2012). Budi Susanto di periksa sebagai saksi terkait penyidikan kasus dugaan korupsi proyek simulator ujian SIM, dengan tersangka kasus itu, Inspektur Jenderal Polisi Djoko Susilo.
|
EditorCaroline Damanik

JAKARTA, KOMPAS.com — Terdakwa kasus dugaan korupsi pengadaan alat driving simulator SIM, Budi Susanto, mengakui uangnya sebesar Rp 1,8 miliar dipakai mantan Kepala Korps Lalu Lintas Polri Inspektur Jenderal Djoko Susilo untuk membayar uang muka pembelian mobil Mercedes-Benz. Direktur PT Citra Mandiri Metalindo Abadi (CMMA) itu membantah sengaja membayarkannya untuk Djoko.

"Sebetulnya uang muka itu saya yang punya mobil mau beli. Tapi sama Pak Mudjiharjo dibelokin uang saya, dibayar untuk mobil Pak Djoko. Tanpa sepengetahuan saya. Padahal, saya tunggu mobilnya enggak datang-datang," kata Budi dalam sidang pemeriksaan terdakwa di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Jumat (20/12/2013).

TRIBUNNEWS/DANY PERMANA Mantan Kakorlantas Mabes Polri Irjen Pol Djoko Susilo (dua kanan) menjawab pertanyaan wartawan usai menjalani sidang vonis di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Selasa (3/9/2013). Djoko Susilo divonis 18 tahun penjara dengan denda Rp 500 juta subsider 6 bulan kurungan karena terbukti terlibat dalam kasus korupsi pengadaan alat simulator SIM di Korlantas Mabes Polri.

Mudjiharjo adalah orang dekat Djoko. Anehnya, jika untuk membeli mobil pribadinya, mengapa Budi meminta tolong pada orang dekat Djoko? Jaksa Penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mencecar Budi soal mobil ini.

"Sampai hari ini saya belum terima Mercy itu. Kemarin keterangan Pak Djoko, uang saya dipakai untuk itu (beli mobil). Yang bisa jelasin Pak Mudjiharjo sebetulnya," jawab Budi.

Dalam dakwaan disebutkan, Budi membayar pembelian satu mobil Mercedes-Benz tipe jip G55 seharga Rp 1,87 miliar. Budi membayar dengan bilyet giro kepada Mudjiharjo. Perusahaan milik Budi adalah yang memenangi tender proyek pengadaan alat driving simulator SIM roda dua dan empat di Korlantas Polri. Diduga pemberian uang kepada Djoko agar perusahaannya memenangi proyek itu.

Budi didakwa telah memperkaya diri sendiri sebesar Rp 88,4 miliar. Dia juga dianggap telah memperkaya orang lain, yaitu mantan Kakorlantas Polri Irjen Djoko Susilo sebesar Rp 36,9 miliar, Wakakorlantas Brigjen (Pol) Didik Purnomo sebesar Rp 50 juta, dan Direktur PT Inovasi Teknologi Indonesia (PT ITI) Sukotjo S Bambang sebesar Rp 3,9 miliar. Kemudian telah memperkaya Primkoppol Polri senilai Rp 15 miliar.

Perbuatannya disebut telah merugikan keuangan negara sebesar Rp 144,984 miliar atau Rp 121,830 miliar dalam perhitungan kerugian negara oleh ahli dari BPK RI.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Mendagri: Indonesia Perlu Miliki Desain Besar Sektor Pertanian

Mendagri: Indonesia Perlu Miliki Desain Besar Sektor Pertanian

Nasional
Mahfud MD Diminta Desak Malaysia dan Filipina Implementasikan Kesepakatan Trilateral

Mahfud MD Diminta Desak Malaysia dan Filipina Implementasikan Kesepakatan Trilateral

Nasional
Firli Bahuri Sebut Pengembalian Jaksa KPK atas Permintaan Jaksa Agung

Firli Bahuri Sebut Pengembalian Jaksa KPK atas Permintaan Jaksa Agung

Nasional
Kejagung Tarik Jaksa KPK yang Tangani Kasus Dugaan Pelanggaran Etik Firli Bahuri

Kejagung Tarik Jaksa KPK yang Tangani Kasus Dugaan Pelanggaran Etik Firli Bahuri

Nasional
Wabah Virus Corona, Ketua MPR Minta Pemerintah Keluarkan 'Travel Warning' Ke China

Wabah Virus Corona, Ketua MPR Minta Pemerintah Keluarkan 'Travel Warning' Ke China

Nasional
KPK Kembalikan Sejumlah Jaksa ke Kejagung, Jubir Bantah Terkait Kasus

KPK Kembalikan Sejumlah Jaksa ke Kejagung, Jubir Bantah Terkait Kasus

Nasional
Komnas HAM Sarankan Kuasa Hukum Lutfi Laporkan Dugaan Penyiksaan secara Resmi

Komnas HAM Sarankan Kuasa Hukum Lutfi Laporkan Dugaan Penyiksaan secara Resmi

Nasional
Migrant Care Minta Pemerintah Berikan Materi Antiradikalisme ke Calon Buruh Migran

Migrant Care Minta Pemerintah Berikan Materi Antiradikalisme ke Calon Buruh Migran

Nasional
Ketua DPP Mengaku Tak Tahu soal Iklan Foto Lutfi Alfiandi Pegang Bendera Nasdem

Ketua DPP Mengaku Tak Tahu soal Iklan Foto Lutfi Alfiandi Pegang Bendera Nasdem

Nasional
Kasus Jiwasraya dan Asabri, SBY Sebut Tak Perlu Ada Gerakan Turunkan Jokowi

Kasus Jiwasraya dan Asabri, SBY Sebut Tak Perlu Ada Gerakan Turunkan Jokowi

Nasional
Cegah Penyebaran Virus Corona, Kemenkes Aktifkan 21 'Kapsul Evakuasi'

Cegah Penyebaran Virus Corona, Kemenkes Aktifkan 21 "Kapsul Evakuasi"

Nasional
Dilaporkan ICW ke KPK, Ini Respons Yasonna Laoly

Dilaporkan ICW ke KPK, Ini Respons Yasonna Laoly

Nasional
Komnas HAM Minta Pemerintah Tuntaskan Proses Hukum Tragedi Semanggi

Komnas HAM Minta Pemerintah Tuntaskan Proses Hukum Tragedi Semanggi

Nasional
Kejaksaan Agung Geledah 3 Kantor Terkait Kasus Korupsi Jiwasraya

Kejaksaan Agung Geledah 3 Kantor Terkait Kasus Korupsi Jiwasraya

Nasional
Direksi TVRI Heran Liga Inggris Jadi Alasan Dewas Pecat Helmy Yahya

Direksi TVRI Heran Liga Inggris Jadi Alasan Dewas Pecat Helmy Yahya

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X