Jokowi Capres, Elektabilitas PDIP Naik Hampir Dua Kali Lipat

Kompas.com - 01/12/2013, 16:20 WIB
KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO Joko Widodo saat mendampingi Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri menuju Tempat Pemungutan Suara pada putaran kedua Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2012 di Kebagusan, Jakarta Selatan, Kamis (20/9/2012).

JAKARTA, KOMPAS.com - Jika ingin hasil pemilu legislatifnya tinggi di April 2014, PDI Perjuangan disarankan menetapkan Joko Widodo alias Jokowi sebagai calon Presiden 2014. Pasalnya, elektabilitas PDIP dengan mengusung Jokowi sebagai capres lebih tinggi dibanding tanpa menetapkan Gubernur DKI Jakarta itu sebagai capres.

Hal tersebut terlihat dari hasil survei Centre for Strategic and International Studies (CSIS) yang dirilis di Jakarta, Minggu (1/11/2013).

Peneliti CSIS Tobias Basuki mengatakan, tanpa penetapan Jokowi sebagai capres, elektabilitas PDI-P berada di urutan pertama di angka 17,6 persen. Namun, jika PDI-P mencalonkan Jokowi sebagai presiden, presentasenya naik di angka 29,6 persen.

"Jadi, kalau PDI-P ingin elektabilitasnya naik pada Pileg mendatang, mereka harus segera mencalonkan Jokowi sebagai presidennya," kata Tobias.

Seperti diketahui, PDIP belum menetapkan capres. Penetapan capres-cawapres berada di tangan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Pihak PDIP menyebut penetapan capres-cawapres akan dilakukan di waktu yang tepat. Adapun Jokowi tak pernah mau mengomentari mengenai pencapresan.

Hal serupa terjadi pada partai lainnya seperti Partai Golkar, Partai Gerindra, Partai Hanura dan Partai Kebangkitan Bangsa. Menurut CSIS, elektabilitas parpol tersebut naik saat capres jagoannya dimasukkan dalam survei. Bedanya, perolehan suara mereka hanya naik sedikit.

Tanpa mengusung Ketumnya Aburizal Bakrie alias Ical sebagai capres, elektablitas Golkar berada di urutan kedua dengan 14,8 persen. Namun, dengan penetapan Ical sebagai capres, elektabilitasnya naik menjadi 15,1 persen.

Elektabilitas Partai Gerindra, menurut CSIS, sebesar 8,6 persen. Namun, dengan pengusungan Ketua Dewan Pembinanya Prabowo Subianto sebagai capres, elektabilitas Gerindra naik menjadi 9,2 persen.

Partai Hanura juga naik dari 2,4 persen menjadi 3,2 persen jika Ketua Umumnya Wiranto diusung sebagai capres. Dalam survei, CSIS memilih Mahfud MD sebagai bakal capres PKB. Jika mencalonkan Mahfud sebagai capres, elektabilitas PKB bakal naik dari 4,6 persen menjadi 5,9 persen.

Sedikit berbeda terjadi pada Partai Demokrat. Jika diandaikan Demokrat mencalonkan Pramono Edhie Wibowo sebagai pemenang Konvensi Capres Demokrat, menurut CSIS, elektabilitas Demokrat justru turun dari semula 7 persen menjadi 4,6 persen.

"Ini karena Demokrat tidak mempunyai tokoh yang kuat seperti partai-partai lainnya. Konvensi Demokrat belum bisa membangun tokoh yang kuat," pungkas Tobias.

Menurut CSIC, survei dilakukan dengan wawancara tatap muka terhadap 1.180 responden di 33 provinsi. Survei berlangsung dari tanggal 13-20 November 2013 dengan margin of error 2,85 persen pada confidence level 95 persen.

 

 



Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisIhsanuddin
EditorSandro Gatra

Terkini Lainnya

Lagi, Seorang TKI Ilegal Asal NTT Meninggal di Malaysia

Lagi, Seorang TKI Ilegal Asal NTT Meninggal di Malaysia

Nasional
LPSK Terbentur Aturan Permintaan Perlindungan Saksi, Ini Saran Pakar Hukum

LPSK Terbentur Aturan Permintaan Perlindungan Saksi, Ini Saran Pakar Hukum

Nasional
Survei SMRC, Kondisi Penegakan Hukum Sebelum dan Sesudah Kerusuhan 22 Mei Dinilai Baik

Survei SMRC, Kondisi Penegakan Hukum Sebelum dan Sesudah Kerusuhan 22 Mei Dinilai Baik

Nasional
Dugaan Kecurangan TSM dalam Pilpres, Pengamat Sebut Seharusnya Prabowo-Sandi Diperiksa Juga

Dugaan Kecurangan TSM dalam Pilpres, Pengamat Sebut Seharusnya Prabowo-Sandi Diperiksa Juga

Nasional
Tren Takut Bicara Politik dan Penangkapan Semena-mena Meningkat Pasca Kerusuhan 22 Mei

Tren Takut Bicara Politik dan Penangkapan Semena-mena Meningkat Pasca Kerusuhan 22 Mei

Nasional
Minim Jelaskan Hasil Hitung Suara Versi Prabowo-Sandi, Tim Hukum 02 Dikritik

Minim Jelaskan Hasil Hitung Suara Versi Prabowo-Sandi, Tim Hukum 02 Dikritik

Nasional
Survei SMRC: Pasca Kerusuhan 21-22 Mei, Penilaian Soeharto Demokratis Meningkat

Survei SMRC: Pasca Kerusuhan 21-22 Mei, Penilaian Soeharto Demokratis Meningkat

Nasional
Jabatan Ma'ruf Amin di Bank Syariah Dinilai Tak Timbulkan Konflik Kepentingan

Jabatan Ma'ruf Amin di Bank Syariah Dinilai Tak Timbulkan Konflik Kepentingan

Nasional
Survei SMRC: Soeharto Dinilai Diktator, SBY dan Jokowi Dinilai Demokratis

Survei SMRC: Soeharto Dinilai Diktator, SBY dan Jokowi Dinilai Demokratis

Nasional
Survei SMRC: 69 Persen Publik Nilai Pilpres 2019 Berlangsung Jurdil

Survei SMRC: 69 Persen Publik Nilai Pilpres 2019 Berlangsung Jurdil

Nasional
Survei SMRC: Mayoritas Publik Nilai Demokrasi Semakin Baik Selama 20 Tahun Terakhir

Survei SMRC: Mayoritas Publik Nilai Demokrasi Semakin Baik Selama 20 Tahun Terakhir

Nasional
Pakar: Petitum Gugatan Prabowo-Sandi Seakan Bukan Dibuat Orang Hukum

Pakar: Petitum Gugatan Prabowo-Sandi Seakan Bukan Dibuat Orang Hukum

Nasional
TKN: Tim Hukum 02 Bangun Narasi Saksinya Terancam

TKN: Tim Hukum 02 Bangun Narasi Saksinya Terancam

Nasional
Menurut KPK, Kasus Pelesiran Novanto Beresiko bagi Kredibilitas Kemenkumham

Menurut KPK, Kasus Pelesiran Novanto Beresiko bagi Kredibilitas Kemenkumham

Nasional
Tim 02 Minta Perlindungan Saksi, TKN Singgung Kasus yang Pernah Jerat Bambang Widjojanto

Tim 02 Minta Perlindungan Saksi, TKN Singgung Kasus yang Pernah Jerat Bambang Widjojanto

Nasional

Close Ads X