Kompas.com - 11/10/2013, 17:29 WIB
Penulis Ihsanuddin
|
EditorCaroline Damanik

JAKARTA, KOMPAS.com — Mahkamah Konstitusi (MK) menerima sebuah paket kiriman berupa peti mati, Jumat (11/10/2013). Peti mati tersebut diantar dari Solo, Jawa Tengah, oleh aktivis antikorupsi, Bambang Saptono. Peti yang diantar melalui pos tersebut berwarna putih. Di sisi kanan dan kiri, tertempel latar berwarna merah dengan tulisan "Hukum Mati Penegak Hukum Korup".

Di sisi atas peti, tertempel kertas berwarna kuning bertuliskan "Gerakan Rakyat Anti Korupsi", sedangkan di sisi lain tertulis identitas pengirim serta alamat Gedung Mahkamah Konstitusi layaknya kiriman-kiriman paket pada umumnya, yakni "Kepada: Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. Jalan Medan Merdeka Barat No 6, Jakarta 10110. Pengirim: Bambang Saptono. Gerakan Rakyat Anti Korupsi".

KOMPAS.COM/Sandro Gatra Gedung Mahkamah Konstitusi

Peti tersebut tiba di Gedung MK pukul 15.30 WIB. Setibanya di lokasi, peti tersebut langsung diterima oleh petugas MK yang sedang berjaga. Peti tersebut hanya beberapa menit dibiarkan di lobi, sebelum akhirnya disimpan oleh petugas MK.

"Nanti kita laporkan ke atasan," kata petugas yang tak mau disebut identitasnya itu.

Petugas pos, Muhammad Rowi, mengatakan, peti mati ini dikirim Bambang dari Solo semalam. Menurut Rowi, ini adalah kali pertama dirinya mengantar peti mati yang ditujukan secara simbolik.

"Tapi, kalau peti mati benaran untuk orang mati sudah sering," kata Rowi.

Kiriman peti mati ini merupakan buntut dari ditangkapnya Ketua Mahkamah Konstitusi nonaktif Akil Mochtar oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Akil saat ini telah ditahan di Rutan KPK setelah ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan menerima pemberian hadiah atau janji berupa uang terkait. Kepengurusan sengketa pemilihan kepala daerah di Gunung Mas, Kalimantan Tengah, dan di Lebak, Banten.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.