Kompas.com - 12/09/2013, 16:40 WIB
Hakim Pengadilan Tinggi  (PT) Jawa Barat, Kristi  Purnamiwulan, usai diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta, Senin (22/4/2013). Kristi di periksa sebagai saksi dalam kasus dugaan korupsi kepengurusan perkara dana bantuan sosial di Pemerintah Kota Bandung.
KOMPAS/ALIF ICHWANHakim Pengadilan Tinggi (PT) Jawa Barat, Kristi Purnamiwulan, usai diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta, Senin (22/4/2013). Kristi di periksa sebagai saksi dalam kasus dugaan korupsi kepengurusan perkara dana bantuan sosial di Pemerintah Kota Bandung.
Penulis Icha Rastika
|
EditorCaroline Damanik

JAKARTA, KOMPAS.com
- Hakim Pengadilan Tinggi Jawa Barat Kristi Purnamiwulan membantah telah mengatur majelis hakim yang menangani perkara banding kasus korupsi bantuan sosial Pemerintah Kota Bandung sesuai dengan arahan mantan Ketua PT Jabar Sareh Wiyono. Saat perkara itu bergulir di PT Jabar, Kristi menjadi pelaksana tugas Ketua PT Jabar menggantikan Sareh untuk sementara.

"Enggak, gak mungkin," ungkap Kristi di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta, Kamis (12/9/2013) ketika ditanya apakah ada arahan dari Sareh agar dia mengatur majelis hakim untuk mengamankan perkara bansos Bandung di tingkat banding.

Menurut Kristi, dia memang menjadi pelaksana tugas Ketua PT Jabar yang menyusun majelis hakim penanganan perkara korupsi bansos Bandung. Namun, Kristi membantah adanya perintah dari Sareh. Dia juga membantah dugaan ada aliran uang dari Dada kepada majelis hakim PT Jabar, termasuk kepada dirinya.

"Enggak ada, saya tidak tahu, saya ini kan bukan hakim tipikor. Saya hanya membantu perkara saja," ucapnya usai diperiksa KPK sebagai saksi terkait dugaan suap penanganan korupsi bansos Bandung untuk tersangka Dada Rosada.

Kristi juga mengaku tidak mengenal Dada Rosada yang menjadi Wali Kota Bandung.

"Enggak kenal Dada Rosada," kata Kristi sambil masuk ke Corolla Altis bernomor polisi B 1355 F yang telah menjemputnya.

KPK menetapkan Dada Rosada dan lima orang lainnya sebagai tersangka, yaitu mantan Sekretaris Daerah Bandung Edi Siswadi, hakim Pengadilan Negeri Bandung Setyabudi Tejocahyono, Ketua Gasibu Padjajaran Toto Hutagalung, pelaksana tugas Kepala Dinas Pendapatan Daerah Kota Bandung Herry Nurhayat, serta pria bernama Asep Triana yang diduga sebagai orang suruhan Toto.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Diduga, Setyabudi menerima suap dari Dada, Edi, Toto, Herry, dan Asep terkait penanganan perkara korupsi bansos di PN Bandung. Setyabudi bersama hakim Ramlan Comel dan Djodjo Djohari merupakan majelis hakim yang menangani perkara tersebut.

Kini, perkara korupsi Bansos Bandung tengah memasuki tahapan banding di Pengadilan Tinggi Jawa Barat. Uang suap juga diduga mengalir kepada hakim yang menangani perkara bansos ini di PT Jabar.

Menurut surat dakwaan tim jaksa KPK yang menangani perkara Setyabudi, hakim PN Bandung itu menjanjikan kepada Toto untuk menutup peran Dada dan Edi dalam perkara korupsi bansos dan memutus ringan tujuh terdakwa. Untuk itu, Setyabudi meminta uang Rp 3 miliar dari Toto. Kemudian setelah perkara bansos Bandung ini masuk ke PT Jabar, Setyabudi diduga bekerjasama dengan ketua PT Jabar ketika itu, Sareh Wiyono untuk mengamankan kasus tersebut. Sareh diduga mengarahkan Kristi dalam menentukan majelis hakim yang menangani perkara bansos. Majelis hakim tersebut akan menguatkan putusan PN Bandung di tingkat banding.

Untuk hal itu, Sareh meminta Rp 1,5 miliar kepada Dada melalui Setyabudi yang disampaikan kepada Toto. Kristi kemudian menetapkan Majelis Hakim Banding perkara ini yakni terdiri dari Pasti Serefina Sinaga, Fontian Munzil, dan Wiwik Widjiastuti. Toto kemudian berhubungan dengan Pasti selaku Ketua Majelis Hakim.

Menurut surat dakwaan, Pasti meminta Rp 1 miliar untuk mengatur persidangan di tingkat banding, Rp 850 juta untuk tiga hakim, sedangkan sisanya untuk Kristi. Ia pun meminta penyerahan uang dilakukan satu pintu, melalui dirinya.

Dari komitmen tersebut, Toto sudah memberikan Rp 500 juta kepada Pasti. Uangitu berasal dari Dada dan Edi. Adapun Pasti ikut diperiksa KPK sebagai saksi dalam kasus ini.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Selamat dari Kecelakaan Saat Reli, Bamsoet: Allah Masih Melindungi Saya

Selamat dari Kecelakaan Saat Reli, Bamsoet: Allah Masih Melindungi Saya

Nasional
UPDATE 27 November: Indonesia Baru Capai Vaksinasi 44,97 Persen dari Target Herd Immunity

UPDATE 27 November: Indonesia Baru Capai Vaksinasi 44,97 Persen dari Target Herd Immunity

Nasional
Update 27 November: Positivity Rate Kasus Harian Covid-19 Sebesar 0,21 Persen

Update 27 November: Positivity Rate Kasus Harian Covid-19 Sebesar 0,21 Persen

Nasional
Update 27 November: Ada 5.397 Suspek Covid-19 di Indonesia

Update 27 November: Ada 5.397 Suspek Covid-19 di Indonesia

Nasional
Menpan RB Larang ASN Cuti pada 24 Desember 2021-2 Januari 2022

Menpan RB Larang ASN Cuti pada 24 Desember 2021-2 Januari 2022

Nasional
Update 27 November: Bertambah 11, Total 143.807 Orang Meninggal Dunia akibat Covid-19

Update 27 November: Bertambah 11, Total 143.807 Orang Meninggal Dunia akibat Covid-19

Nasional
Jokowi: Target Vaksinasi Covid-19 yang Ditetapkan WHO Sulit Tercapai di Akhir 2021

Jokowi: Target Vaksinasi Covid-19 yang Ditetapkan WHO Sulit Tercapai di Akhir 2021

Nasional
Kapolri Tinjau Pelaksanaan Vaksinasi Covid-19 Serentak Indonesia di Bogor

Kapolri Tinjau Pelaksanaan Vaksinasi Covid-19 Serentak Indonesia di Bogor

Nasional
Cerita Guru Honorer di Ende yang 7 Bulan Belum Terima Gaji ...

Cerita Guru Honorer di Ende yang 7 Bulan Belum Terima Gaji ...

Nasional
Update 27 November: 8.226 Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia

Update 27 November: 8.226 Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia

Nasional
Bamsoet Jadi Navigator Sean Gelael Saat Kecelakaan Reli di Meikarta

Bamsoet Jadi Navigator Sean Gelael Saat Kecelakaan Reli di Meikarta

Nasional
Update 27 November: Kasus Baru Covid-19 Tercatat di 26 Provinsi, DIY Catat Penambahan Tertinggi

Update 27 November: Kasus Baru Covid-19 Tercatat di 26 Provinsi, DIY Catat Penambahan Tertinggi

Nasional
Update 27 November: Bertambah 260, Total Kasus Covid-19 yang Sembuh Mencapai 4.103.639

Update 27 November: Bertambah 260, Total Kasus Covid-19 yang Sembuh Mencapai 4.103.639

Nasional
Bamsoet Kecelakaan Saat Reli di Meikarta, Kondisinya Tidak Luka-luka

Bamsoet Kecelakaan Saat Reli di Meikarta, Kondisinya Tidak Luka-luka

Nasional
Update 27 November: 404 Kasus Baru Covid-19 di Indonesia, Total Jadi 4.255.672

Update 27 November: 404 Kasus Baru Covid-19 di Indonesia, Total Jadi 4.255.672

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.