Kompas.com - 08/09/2013, 15:57 WIB
Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri saat memberikan pidato politik dalam Rakernas PDI Perjuangan di Ancol, Jakarta, Jumat (6/9/2013). KOMPAS.com/INDRA AKUNTONOKetua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri saat memberikan pidato politik dalam Rakernas PDI Perjuangan di Ancol, Jakarta, Jumat (6/9/2013).
|
EditorCaroline Damanik

JAKARTA, KOMPAS.com -
Pengamat politik, Boni Hargens menilai bahwa internal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) terbagi dalam dua kubu soal wacana pencapresan Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo dalam Pemilu Presiden 2014. Ada kubu yang setuju, ada pula yang menolak.

"Ada sebagian elite di DPP (Dewan Pimpinan Pusat PDI-P) yang tidak menghendaki Jokowi menjadi calon presiden," kata Boni di Jakarta, Minggu (8/9/2013).

Menurut Boni, mereka yang menolak pencapresan Jokowi adalah kelompok Soekarnois yang menginginkan trah Soekarno sebagai calon presiden dari PDI-P. Kendati tidak menyebutkan siapa saja elite politik yang termasuk dalam kelompok Soekarnois tersebut, Boni menyebutkan mereka adalah kader-kader PDI-P yang ideologis. Ia menambahkan perbedaan dua kubu internal tersebut sebenarnya bermula pada tataran elite, bukan massa di tingkat bawah.

"Itu yang ditransfer ke bawah. Itu kemudian dikapitalisir," katanya.

Direktur Lembaga Pemilih Indonesia tersebut juga mengungkapkan Ketua Umum PDI-P, Megawati Soekarno Putri sebenarnya sudah legowo untuk tidak lagi mencalonkan diri sebagai presiden. Megawati, lanjutnya, lebih memikirkan kepentingan partai, terutama regenerasi kepemimpinan partai berlambang banteng tersebut.

Namun, saat ini, Mega memiliki tugas untuk mendamaikan kubu yang berseberangan tersebut.

"Megawati dengan segala kebesaran jiwanya sedang menanggung beban berat hari ini untuk mendamaikan kedua arus itu," jelasnya.

Untuk diketahui, dalam laporan lengkap usulan pandangan kelompok wilayah yang mewakili 33 DPD PDI Perjuangan, sebagian besar di antaranya mengusung nama Joko Widodo sebagai calon presiden. Hanya sebagian kecil yang mengusulkan nama Megawati Soekarnoputri dan Puan Maharani sebagai calon presiden.

Atas dasar itu, peluang Gubernur DKI Jakarta tersebut maju sebagai kandidat calon presiden semakin terbuka lebar. Rakernas PDI Perjuangan digelar 6-8 September 2013, di Ancol, Jakarta. Agenda utama Rakernas ini adalah konsolidasi menghadapi pemilihan legislatif (pileg) dan pemilihan presiden tahun depan. Sebanyak 1.330 kader PDI Perjuangan dari seluruh Indonesia hadir dalam Rakernas hari ini.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Reaksi PBNU dan PP Muhammadiyah soal Tes Wawasan Kebangsaan di KPK

Reaksi PBNU dan PP Muhammadiyah soal Tes Wawasan Kebangsaan di KPK

Nasional
KPK Masih Periksa Bupati Nganjuk Usai OTT atas Dugaan Lelang Jabatan

KPK Masih Periksa Bupati Nganjuk Usai OTT atas Dugaan Lelang Jabatan

Nasional
OTT Bupati Nganjuk Diduga Terkait Lelang Jabatan

OTT Bupati Nganjuk Diduga Terkait Lelang Jabatan

Nasional
KPK Lakukan OTT terhadap Bupati Nganjuk

KPK Lakukan OTT terhadap Bupati Nganjuk

Nasional
KPK Bantah Lempar Tanggung Jawab soal Nasib 75 Pegawai yang Tak Lolos Tes Wawasan Kebangsaan

KPK Bantah Lempar Tanggung Jawab soal Nasib 75 Pegawai yang Tak Lolos Tes Wawasan Kebangsaan

Nasional
Kapolri: Daerah Zona Merah Covid-19 Tak Boleh Buka Tempat Wisata

Kapolri: Daerah Zona Merah Covid-19 Tak Boleh Buka Tempat Wisata

Nasional
Pimpinan KPK Pastikan Tak Ada Pegawai yang Diberhentikan karena Tak Lolos Tes Wawasan Kebangsaan

Pimpinan KPK Pastikan Tak Ada Pegawai yang Diberhentikan karena Tak Lolos Tes Wawasan Kebangsaan

Nasional
UPDATE 9 Mei: 8,6 Juta Orang Sudah Divaksin Covid-19 Dosis Kedua

UPDATE 9 Mei: 8,6 Juta Orang Sudah Divaksin Covid-19 Dosis Kedua

Nasional
Beredar Permintaan Dana Mengatasnamakan KPK, Masyarakat Diimbau Hati-hati

Beredar Permintaan Dana Mengatasnamakan KPK, Masyarakat Diimbau Hati-hati

Nasional
UPDATE 9 Mei: Kasus Suspek Covid-19 Tercatat 86.846 Orang

UPDATE 9 Mei: Kasus Suspek Covid-19 Tercatat 86.846 Orang

Nasional
Mendagri Wanti-wanti Kepala Daerah Cegah Kerumunan Jelang Lebaran: Jangan Sampai Lengah

Mendagri Wanti-wanti Kepala Daerah Cegah Kerumunan Jelang Lebaran: Jangan Sampai Lengah

Nasional
Kaji Pertanyaan Tes Pegawai KPK, Komnas Perempuan Minta Akses Langsung ke BKN

Kaji Pertanyaan Tes Pegawai KPK, Komnas Perempuan Minta Akses Langsung ke BKN

Nasional
UPDATE 9 Mei: Ada 98.395 Kasus Aktif Covid-19 Di Indonesia

UPDATE 9 Mei: Ada 98.395 Kasus Aktif Covid-19 Di Indonesia

Nasional
UPDATE 9 Mei: 3.922 Kasus Covid-19 Baru, DKI Jakarta Masih Tertinggi

UPDATE 9 Mei: 3.922 Kasus Covid-19 Baru, DKI Jakarta Masih Tertinggi

Nasional
Kemenkes: Pembayaran Insentif Tenaga Kesehatan RS Darurat Covid-19 Wisma Atlet dalam Proses

Kemenkes: Pembayaran Insentif Tenaga Kesehatan RS Darurat Covid-19 Wisma Atlet dalam Proses

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X