Enggan Jadi Pemanis, Muhammadiyah Tak Hadiri Sidang Isbat

Kompas.com - 06/08/2013, 22:18 WIB
KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES Menteri Agama, Suryadharma Ali, memimpin jalannya Sidang Isbat di Kementerian Agama, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Sabtu (18/8/2012). Sidang Isbat menetapkan Hari Raya Idul Fitri 1433 Hijriah secara serentak jatuh pada Minggu, 19 Agustus 2012.

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin menyatakan pihaknya menolak hadir dalam sidang isbat bersama pemerintah lantaran enggan hanya dijadikan pemanis. Din menolak hadir jika argumentasi Muhammadiyah tak dipertimbangkan dan penentuan awal serta akhir Ramadhan dipolitisasi.

Din menjelaskan, pihaknya selalu menentukan awal dan akhir Ramadhan secara ilmiah dan sesuai dengan ajaran Islam. Di tahun ini, Muhammadiyah telah menetapkan akhir Ramadhan pada Rabu (7/8/2013) dan hari raya Idul Fitri 1434 Hijriah jatuh pada Kamis (8/8/2013).

Menurutnya, Idul Fitri ditetapkan pada Kamis (8/8/2013) karena sehari sebelumnya telah terjadi pertemuan antara Matahari, Bulan, dan Bumi pada suatu garis lurus. Hal itu diartikan bulan lama telah berakhir dan berganti masuk bulan yang baru. "Tapi persoalan ini tidak perlu dibesar-besarkan, tetap harus didialogkan karena ada perbedaan," kata Din di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Selasa (6/8/2013).

Bagi Din, pemerintah tak perlu ikut campur dalam penentuan awal Ramadhan dan Idul Fitri. Pasalnya, hal ini telah masuk ke ranah keyakinan dan pemerintah tak memiliki kewenangan mengaturnya.

"Muhammadiyah tidak ikut rapat isbat karena saat menterinya Suryadharma Ali sangat di-politisir. Kalau hadir di sana (isbat), kan nanti jadi pemanis saja," ujarnya.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorHindra Liauw
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X