Puasa dan Lebaran Berbeda, Ini Penjelasannya...

Kompas.com - 05/08/2013, 16:27 WIB
Pengurus Nahdatul Ulama memantau hilal dari lantai 32 pusat perbelanjaan Season City, Jakarta, Senin (8/7/2013). Kementerian Agama memutuskan awal Ramadhan 1434 H jatuh pada Rabu, 10 Juli 2013. Keputusan diambil dalam sidang isbat di Kementerian Agama. TRIBUN / DANY PERMANAPengurus Nahdatul Ulama memantau hilal dari lantai 32 pusat perbelanjaan Season City, Jakarta, Senin (8/7/2013). Kementerian Agama memutuskan awal Ramadhan 1434 H jatuh pada Rabu, 10 Juli 2013. Keputusan diambil dalam sidang isbat di Kementerian Agama.
Penulis Ihsanuddin
|
EditorHindra Liauw

 

 

JAKARTA, KOMPAS.com — Sebagian orang masih bertanya, mengapa dan bagaimana penentuan jatuhnya Ramadhan dan Idul Fitri diwarnai silang pendapat? Tahun ini, Muhammadiyah lebih dahulu melaksanakan ibadah puasa, yakni pada 9 Juli 2013. Pemerintah dan Nahdlatul Ulama (NU) baru menyusul satu hari setelahnya.

Bahkan, masih ada beberapa aliran minoritas Islam lain, misalnya Al Qadiriyah, yang sudah berpuasa sejak 8 Juli, dan Satariah yang baru mulai berpuasa pada 11 Juli. Perbedaan-perbedaan tersebut juga kerap terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat Ma'ruf Amin menjelaskan, perbedaan penetapan jatuhnya Ramadhan dan Idul Fitri tersebut disebabkan perbedaan metode yang digunakan masing-masing kelompok.

Muhammadiyah, misalnya, menggunakan metode wujudul hilal atau yang lebih dikenal dengan istilah hisab. Pendekatan tersebut menetapkan jatuhnya awal Ramadhan dan Idul Fitri dengan menghitung posisi Bumi terhadap Matahari dan Bulan secara matematis dan astronomis.

Sementara NU menggunakan metode rukyatul hilal atau lebih dikenal dengan istilah rukyat. Rukyat merupakan suatu metode yang hanya mengamati visibilitas hilal tanpa memperhitungkannya secara matematis dan astronomis.

"Jadi, ada dua metode yang paling banyak dipakai, pertama hisab murni atau wujudul hilal dengan metode dihitung. Kedua, rukyatul hilal atau rukyat, dilihat langsung dengan mata kepala, dia tidak menghitung, yang penting (hilal) bisa dilihat," jelas Ma'ruf Amin saat dihubungi kompas.com, Jumat (2/8/2013).

Ketua Badan Hisab dan Rukyat Ma'rufin Sudibyo menyederhanakan penjelasan mengenai kedua metode tersebut. Dia mengibaratkannya dengan olahraga lompat tinggi. Muhammadiyah mensyaratkan peserta lompat tinggi untuk memenuhi standar tinggi tertentu agar memenangkan lomba. Sementara itu, NU hanya mensyaratkan agar peserta tersebut sekadar dapat melompat saja.

"Ambil contoh olahraga lompat tinggi. Satu pihak menetapkan yang penting bisa meompat tidak peduli berapa tingginya. Sementara pihak lain tidak hanya menyarankan harus bisa melompat, tapi ada batasan tinggi tertentu, misal katakanlah 100 cm," papar Ma'Rufin saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (3/8/2013).

Lalu mengapa bisa terdapat dua metode? Ma'rufin menjelaskan bahwa kedua metode tersebut muncul karena penggunaan dan penafsiran ayat Al Quran dan Hadis yang berbeda-beda pula.

NU dikatakan mengacu kepada hadis Nabi Muhammad SAW berikut: "Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah kamu karena melihat hilal. Jika terhalang, maka genapkanlah (istikmal) menjadi 30 hari".

Halaman:
Baca tentang
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X