”Kapan Kita Makan Enak, Pak?”

Kompas.com - 29/07/2013, 11:58 WIB
Suara (53, kiri) dan Suta (40, kedua dari kiri) menanti penumpang becak di Simpang Palimanan, Cirebon, Jawa Barat, Senin (22/7). Setiap hari mereka memperoleh penghasilan sekitar Rp 20.000. Semakin banyaknya becak bermesin serta ojek sepeda motor yang beroperasi membuat jumlah penumpang becak kian berkurang. KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKOSuara (53, kiri) dan Suta (40, kedua dari kiri) menanti penumpang becak di Simpang Palimanan, Cirebon, Jawa Barat, Senin (22/7). Setiap hari mereka memperoleh penghasilan sekitar Rp 20.000. Semakin banyaknya becak bermesin serta ojek sepeda motor yang beroperasi membuat jumlah penumpang becak kian berkurang.
EditorInggried Dwi Wedhaswary

Kebutuhan besar untuk kedua anaknya yang sudah sekolah dan si bungsu yang perlu susu kaleng memaksa Endang untuk terus berhemat, bahkan saat bulan Ramadhan sekaligus.

”Saya diajari orangtua untuk menempatkan bulan Ramadhan tidak hanya sebagai bulan yang suci, tetapi juga waktu untuk benar-benar mengendalikan nafsu makan. Saya berusaha mengajari anak-anak seperti itu, tetapi memang tidak mudah,” katanya.

Kerja banting tulang

Kesederhanaan menu sahur juga terhidang di meja makan rumah kontrakan Enom (42), pedagang kerupuk kemplang di Pelabuhan Bakauheni. Menu sehari-hari sahurnya adalah nasi dan sayur nangka. Begitu terus, hampir setiap hari berulang.

Enom tinggal sendirian di Bakauheni karena keluarganya berada di Anyer, Banten.

Kesederhanaan menu sahur dan berbuka Enom bukan karena ia menghemat uang untuk dirinya dan keluarganya berlebaran, melainkan karena saat Ramadhan seperti ini, penumpang kapal penyeberangan Bakauheni-Merak dan sebaliknya berkurang. Akibatnya, penghasilannya juga berkurang. Pada hari biasa, dia bisa mendapatkan penghasilan bersih Rp 100.000 per hari, tetapi sekarang hanya sekitar Rp 30.000 per hari.

”Bagi saya, menu sahur dan berbuka itu yang penting ada nasinya. Saya hanya sesekali membeli kolak untuk menu tambahan buka puasa, saat pemasukan lebih dari Rp 40.000. Saya syukuri apa yang bisa saya santap itu,” ujar Enom.

Enom sudah berjualan di terminal kedatangan Pelabuhan Bakauheni sebelum matahari menampakkan diri. Lelaki itu baru pulang ke rumah setelah matahari terbenam, begitu dia menjalani aktivitasnya sejak tahun 1985. Ia bekerja banting tulang untuk bisa bertahan.

Serba terbatas

Berkurangnya jumlah penumpang kapal penyeberangan saat awal Ramadhan juga memaksa Sarnah (60), pedagang mi instan dan minuman kopi di Pelabuhan Bakauheni, berhemat, termasuk untuk sahur dan buka puasa. Tahu, tempe, atau kerupuk adalah lauk yang sehari-hari ia santap untuk sahur dan buka.

Halaman:
Baca tentang
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Anggota Komisi IX DPR: Gratiskan Rapid Test Covid-19 untuk Warga Tidak Mampu

Anggota Komisi IX DPR: Gratiskan Rapid Test Covid-19 untuk Warga Tidak Mampu

Nasional
Penyintas Covid-19: Jangan Takut Cek Kesehatan jika Merasakan Gejala Terpapar Corona

Penyintas Covid-19: Jangan Takut Cek Kesehatan jika Merasakan Gejala Terpapar Corona

Nasional
Kemenkumham Diminta Tak Larut Dalam Glorifikasi Keberhasilan Ekstradisi Maria Lumowa

Kemenkumham Diminta Tak Larut Dalam Glorifikasi Keberhasilan Ekstradisi Maria Lumowa

Nasional
Masyarakat Diminta Tidak Bicara Keras demi Cegah Penularan Covid-19

Masyarakat Diminta Tidak Bicara Keras demi Cegah Penularan Covid-19

Nasional
Pilkada Digelar Desember, Ma'ruf Amin Harap Tak Akibatkan Gelombang Kedua Covid-19

Pilkada Digelar Desember, Ma'ruf Amin Harap Tak Akibatkan Gelombang Kedua Covid-19

Nasional
Ma'ruf Amin: Kalau Ada Orang Menggoreng Isu PKI, Itu Politisasi

Ma'ruf Amin: Kalau Ada Orang Menggoreng Isu PKI, Itu Politisasi

Nasional
Virus Corona Penyebab Covid-19 Disebut Dapat Bertahan di Udara 8 Jam

Virus Corona Penyebab Covid-19 Disebut Dapat Bertahan di Udara 8 Jam

Nasional
Ma'ruf Amin Mengaku Tak Pernah Siapkan Putrinya untuk Jadi Wali Kota

Ma'ruf Amin Mengaku Tak Pernah Siapkan Putrinya untuk Jadi Wali Kota

Nasional
Pandemi Covid-19, Tenaga Ahli KSP: Tiap Orang Punya Tanggung Jawab, Jangan Hanya Tuntut Pemerintah

Pandemi Covid-19, Tenaga Ahli KSP: Tiap Orang Punya Tanggung Jawab, Jangan Hanya Tuntut Pemerintah

Nasional
Epidemiolog: Kita Belum Mencapai Gelombang Pertama Covid-19

Epidemiolog: Kita Belum Mencapai Gelombang Pertama Covid-19

Nasional
Airlangga Hartarto: Korporasi Indonesia Diharapkan Bisa Jadi Stimulan Ekonomi Nasional

Airlangga Hartarto: Korporasi Indonesia Diharapkan Bisa Jadi Stimulan Ekonomi Nasional

Nasional
Viral soal Video Mobil Dinas RI 2 Isi Bensin Pakai Jeriken, Wapres Naik Mobil Berbeda

Viral soal Video Mobil Dinas RI 2 Isi Bensin Pakai Jeriken, Wapres Naik Mobil Berbeda

Nasional
Covid-19 Dapat Menular Lewat Udara, Epidemiolog: Gunakan Masker di Luar dan Dalam Gedung

Covid-19 Dapat Menular Lewat Udara, Epidemiolog: Gunakan Masker di Luar dan Dalam Gedung

Nasional
Video Mobil Wapres Diisi Bensin Pakai Jeriken Viral, Ini Penjelasan Setwapres

Video Mobil Wapres Diisi Bensin Pakai Jeriken Viral, Ini Penjelasan Setwapres

Nasional
Tenaga Ahli KSP: Ada Unsur Bahasa Asing, New Normal Tidak Mudah Dipahami

Tenaga Ahli KSP: Ada Unsur Bahasa Asing, New Normal Tidak Mudah Dipahami

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X