Kompas.com - 12/07/2013, 17:13 WIB
AKBP Teddy Rusmawan (kanan) memberikan kesaksian dalam sidang mantan Kakorlantas Mabes Polri Irjen Djoko Susilo (kiri) di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, Selasa (28/5/2013). Selain saksi AKBP Teddy Rusmawan hadir pula AKBP Wandi Rustiawan, Khadijah, Ni Nyoman Suhartini, Endah Purwaningsih, dan Brigjen (Pol) Didik Purnomo. Teddy menyatakan pernah diperintahkan Irjen Djoko Susilo saat menjabat sebagai Kakorlantas Polri untuk menyerahkan uang kepada oknum anggota Badan Anggaran DPR sebanyak empat kardus
KOMPAS/ALIF ICHWANAKBP Teddy Rusmawan (kanan) memberikan kesaksian dalam sidang mantan Kakorlantas Mabes Polri Irjen Djoko Susilo (kiri) di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, Selasa (28/5/2013). Selain saksi AKBP Teddy Rusmawan hadir pula AKBP Wandi Rustiawan, Khadijah, Ni Nyoman Suhartini, Endah Purwaningsih, dan Brigjen (Pol) Didik Purnomo. Teddy menyatakan pernah diperintahkan Irjen Djoko Susilo saat menjabat sebagai Kakorlantas Polri untuk menyerahkan uang kepada oknum anggota Badan Anggaran DPR sebanyak empat kardus
Penulis Icha Rastika
|
EditorLaksono Hari Wiwoho


JAKARTA, KOMPAS.com
- Operator komputer di Korps Lalu Lintas Kepolisian RI, Wasis Tripambudi, yang juga merupakan ajudan Inspektur Jenderal Djoko Susilo, mengaku pernah mengantarkan kardus ke Plaza Senayan, Jakarta. Ia mengantarkannya bersama dengan Ajun Komisaris Besar Teddy Rusmawan beberapa waktu lalu.

Meski demikian, Wasis mengaku tidak tahu apakah isi kardus tersebut merupakan uang atau bukan. Wasis juga mengaku tidak tahu kepada siapa kardus itu diberikan.

"Saya pernah membawa kardus ke Plasa Senayan bersama Pak Teddy, yang katanya atas perintah Bapak (Djoko Susilo)," kata Wasis saat bersaksi dalam persidangan kasus dugaan korupsi dan pencucian uang proyek simulator ujian surat izin mengemudi (SIM) dengan terdakwa Djoko Susilo di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Jumat (12/7/2013).

Mulanya Wasis mengaku kepada majelis hakim bahwa dia telah mengarang cerita soal kardus tersebut saat diperiksa dalam proses penyidikan di KPK. Menurut Wasis, keterangannya dalam berita acara pemeriksaan (BAP) KPK mengenai kardus yang diantarkan ke Plaza Senayan itu tidak benar. Wasis mengaku diarahkan penyidik KPK agar mengakui bahwa kardus yang diantarkannya ke Plaza Senyan tersebut berisi uang.

"Saya diarahkan bahwa itu berupa dana, makanya saya katakan sekarang, saya mengarang," tutur Wasis.

Saat dicecar hakim anggota Anwar mengenai kepada siapa kardus itu diberikan, Wasis mengaku tidak tahu. Menurut Wasis, saat itu dia hanya bertindak sebagai sopir yang mengantarkan Teddy membawa kardus. "Pak Ted bilang ke saya, ini perintah Bapak (Djoko)," ucap Wasis.

Sesampainya di Plaza Senayan, Wasis mengaku diperintahkan oleh Teddy agar tetap berada di dalam mobil. Selanjutnya, menurut Wasis, Teddy keluar dari mobil dan menuju suatu tempat yang tidak diketahuinya. Tak lama kemudian, lanjut Wasis, Teddy kembali ke mobil lalu meminta dia keluar mobil.

"Saya disuruh keluar, ke kamar mandi, kunci dipegang (Teddy)," tutur Wasis.

Selanjutnya, Wasis tidak tahu apa yang dilakukan Teddy saat dia diperintahkan keluar mobil. Ketika kembali ke mobil, Wasis melihat kardus-kardus itu sudah tidak ada lagi. "Saya balik, kadusnya sudah enggak ada," katanya.

Empat kardus uang ke politisi Senayan

Saat bersaksi untuk Djoko dalam persidangan sebelumnya, Teddy mengaku pernah diperintahkan Djoko untuk memberikan empat kardus berisi uang Rp 4 miliar kepada politisi di Senayan. Uang untuk anggota Badan Anggaran DPR RI itu dikoordinasi Muhammad Nazaruddin.

Selain bertemu Nazaruddin, Teddy juga bertemu dengan anggota DPR lain, yaitu Bambang Soesatyo, Aziz Syamsuddin, Herman Hery, dan Desmond Mahesa. Teddy menyebutkan, ada dua pertemuan penting, yakni di sebuah restoran di Plaza Senayan dan Restoran Basara di Menara Summitmas, Jakarta.

"Menggunakan mobil Wasis (ajudan Djoko), saya ke sana (restoran di Plaza Senayan) karena pernah ketemu di Basara. Yang menerima di Plaza Senayan itu sopir dan ajudan, sesudah bertemu Aziz Syamsuddin dan Bambang Soesatyo," kata Teddy dalam persidangan (28/5/2013). Namun, menurut Teddy, uang itu tidak terkait proyek simulator SIM.

Meski demikian, Teddy menceritakan informasi dari Nazaruddin bahwa bisa digolkan dana Rp 600 miliar untuk Korlantas Polri yang bisa disalurkan untuk dana pendidikan. Teddy juga mengungkapkan bahwa uang Rp 4 miliar itu merupakan uang Primer Koperasi Kepolisian (Primkoppol) yang dipinjamkan ke Djoko.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

ICW Pertanyakan Hilangnya Nama Politisi dalam Dakwaan Juliari Batubara

ICW Pertanyakan Hilangnya Nama Politisi dalam Dakwaan Juliari Batubara

Nasional
Titi Anggraini: Saat Sudah Berada di Posisi Strategis, Jangan Lupakan Perempuan Lainnya

Titi Anggraini: Saat Sudah Berada di Posisi Strategis, Jangan Lupakan Perempuan Lainnya

Nasional
AHY dan Syaikhu Bertemu, Kenang Momen Kebersamaan Saat Pemerintahan SBY

AHY dan Syaikhu Bertemu, Kenang Momen Kebersamaan Saat Pemerintahan SBY

Nasional
Satgas: Indonesia Sudah Bisa Tekan Kasus Covid-19, Jangan Sampai Alami Lonjakan Seperti Negara Lain

Satgas: Indonesia Sudah Bisa Tekan Kasus Covid-19, Jangan Sampai Alami Lonjakan Seperti Negara Lain

Nasional
Prabowo: Hilangnya KRI Nanggala-402 Bukti Pertahanan Negara Sangat Rumit

Prabowo: Hilangnya KRI Nanggala-402 Bukti Pertahanan Negara Sangat Rumit

Nasional
Polisi Temukan Senpi Ilegal di Rumah Bos EDCCash

Polisi Temukan Senpi Ilegal di Rumah Bos EDCCash

Nasional
Bertemu AHY, Presiden PKS Serukan Tolak Terorisme dan Penodaan Agama

Bertemu AHY, Presiden PKS Serukan Tolak Terorisme dan Penodaan Agama

Nasional
KSAL: Belum Ada Bukti Autentik KRI Nanggala-402 Tenggelam

KSAL: Belum Ada Bukti Autentik KRI Nanggala-402 Tenggelam

Nasional
Sinergi Swasta dan Pemerintah dalam Memastikan Pencapaian SDGs di Tengah Pandemi

Sinergi Swasta dan Pemerintah dalam Memastikan Pencapaian SDGs di Tengah Pandemi

BrandzView
KSAL: KRI Nanggala-402 Belum Dinyatakan Hilang

KSAL: KRI Nanggala-402 Belum Dinyatakan Hilang

Nasional
Jokowi: Saya Memahami Perasaan Bapak, Ibu, Keluarga Awak Kapal KRI Nanggala-402

Jokowi: Saya Memahami Perasaan Bapak, Ibu, Keluarga Awak Kapal KRI Nanggala-402

Nasional
Larang Mudik, Satgas Ingatkan Risiko Tertular Covid-19 dalam Perjalanan

Larang Mudik, Satgas Ingatkan Risiko Tertular Covid-19 dalam Perjalanan

Nasional
Jokowi: Keselamatan 53 Awak KRI Nanggala adalah Prioritas Utama

Jokowi: Keselamatan 53 Awak KRI Nanggala adalah Prioritas Utama

Nasional
Jokowi Ajak Masyarakat Berdoa untuk Pencarian KRI Nanggala-402

Jokowi Ajak Masyarakat Berdoa untuk Pencarian KRI Nanggala-402

Nasional
Jokowi: Pemerintah Seoptimal Mungkin Cari dan Selamatkan KRI Nanggala

Jokowi: Pemerintah Seoptimal Mungkin Cari dan Selamatkan KRI Nanggala

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X