Kompas.com - 03/07/2013, 12:51 WIB
Penulis Khaerudin
|
EditorCaroline Damanik

KOMPAS.com - Kasus dugaan korupsi proyek pembangunan kompleks olahraga di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, memasuki babak baru. Tersangka pertama kasus ini, pejabat pembuat komitmen proyek, Deddy Kusdinar ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi, beberapa waktu lalu. Namun, kasus korupsinya masih jauh dari tuntas.

Bagi sebagian pihak yang percaya, kasus korupsi proyek Hambalang terungkap dari kicauan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin saat dalam pelarian. Saat menjadi buronan dalam kasus korupsi wisma atlet SEA Games, Nazaruddin yang tak mau sendirian terjerat banyak bicara soal kelakuan korup sesama koleganya di DPR, baik dari Partai Demokrat maupun partai lain.

Namun, bagi KPK, kasus Hambalang terungkap setelah mereka menggeledah kantor Grup Permai, induk beberapa perusahaan yang dikendalikan oleh Nazaruddin. Di sini, KPK menemukan sejumlah catatan terkait pemberian fee dari berbagai proyek yang didanai APBN. Salah satunya adalah Hambalang.

Kicauan Nazaruddin soal kasus ini mungkin ada benarnya, tetapi belum tentu semua omongannya benar. KPK di sisi lain tetap berpegang teguh pada dua alat bukti yang bisa menyimpulkan keterlibatan seseorang. Dari sinilah, KPK sampai saat ini baru menetapkan empat tersangka terkait kasus Hambalang. Selain Deddy, KPK menetapkan mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Alifian Mallarangeng dan mantan Direktur Operasional I PT Adhi Karya, kontraktor utama proyek, Teuku Bagus Mohammad Noor. Ketiganya ditetapkan sebagai tersangka dalam kaitan dengan pengadaan proyek Hambalang.

”High ranking profile”

Satu tersangka lagi adalah mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum. Anas menjadi tersangka terkait dugaan penerimaan aliran dana dari proyek Hambalang. Anas diduga menerima pemberian hadiah atau janji terkait proyek Hambalang dan proyek lain. Saat menjadi Ketua Fraksi Demokrat di DPR, Anas diduga menerima mobil mewah Toyota Harrier yang ada hubungannya dengan proyek Hambalang.

Ketika Andi dijadikan tersangka, kemudian menyusul Anas, seolah penuntasan kasus ini sudah mencapai klimaksnya. Keduanya merupakan high ranking profile yang dijerat KPK dalam kasus Hambalang.

Benarkah tak ada lagi high ranking profile yang bisa dijerat KPK dalam kasus Hambalang? Seperti disinggung pada awal tulisan, kasus ini sebenarnya jauh dari tuntas. Dalam hal pengadaan, misalnya, KPK memang menetapkan pejabat struktural dalam pengelolaan proyek sebagai tersangka. Deddy adalah pejabat pembuat komitmen, sementara Andi adalah pengguna anggaran. Ada satu lagi pejabat struktural dalam pengelolaan proyek, yakni kuasa pengguna anggaran, yang dijabat Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) saat itu, Wafid Muharam. Wafid sampai sekarang masih berstatus sebagai saksi.

Dari sisi pelaksana proyek, KPK telah menetapkan Teuku Bagus. Pertanyaannya, apakah Teuku Bagus bermain sendiri? Hambalang tak hanya dikerjakan oleh kontraktor utama BUMN, yakni PT Adhi Karya dan PT Wijaya Karya. Namun, ada juga subkontraktor yang terlibat. Bagaimana subkontraktor ini bisa mendapatkan pekerjaan dalam proyek Hambalang juga menjadi pertanyaan besar.

Rp 63 miliar

Halaman:
Baca tentang
     
    Pilihan Untukmu


    Video Pilihan

    Rekomendasi untuk anda
    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    Bareskrim Tetapkan Istri Eks Menteri Ferry Mursyidan Baldan Tersangka Dugaan Penggelapan Saham

    Bareskrim Tetapkan Istri Eks Menteri Ferry Mursyidan Baldan Tersangka Dugaan Penggelapan Saham

    Nasional
    Deolipa Sebut Bharada E Diiming-imingi Uang Rp 1 Miliar oleh Sambo dan Istri, Bripka RR dan KM Rp 500 Juta

    Deolipa Sebut Bharada E Diiming-imingi Uang Rp 1 Miliar oleh Sambo dan Istri, Bripka RR dan KM Rp 500 Juta

    Nasional
    Deolipa Duga Bharada E Cabut Kuasa di Bawah Tekanan

    Deolipa Duga Bharada E Cabut Kuasa di Bawah Tekanan

    Nasional
    Cak Imin Ungkap Alasan PKB Koalisi dengan Partai Gerindra

    Cak Imin Ungkap Alasan PKB Koalisi dengan Partai Gerindra

    Nasional
    Lamhot Sinaga: DPR Minta Pemerintah Berani Batasi Kuota dan Naikkan Harga BBM Subsidi

    Lamhot Sinaga: DPR Minta Pemerintah Berani Batasi Kuota dan Naikkan Harga BBM Subsidi

    Nasional
    PKB Koalisi dengan Gerindra, Cak Imin: Banyak yang Ganggu Kita untuk Tidak Berangkat ke Sini

    PKB Koalisi dengan Gerindra, Cak Imin: Banyak yang Ganggu Kita untuk Tidak Berangkat ke Sini

    Nasional
    Partai Pelita Optimistis Lolos Jadi Peserta Pemilu 2024

    Partai Pelita Optimistis Lolos Jadi Peserta Pemilu 2024

    Nasional
    Isi Piagam Deklarasi Koalisi Gerindra-PKB: Penentuan Capres-Cawapres oleh Prabowo-Cak Imin

    Isi Piagam Deklarasi Koalisi Gerindra-PKB: Penentuan Capres-Cawapres oleh Prabowo-Cak Imin

    Nasional
    Prabowo Sebut PKB Partai Pertama yang Ajak Gerindra Kerja Sama

    Prabowo Sebut PKB Partai Pertama yang Ajak Gerindra Kerja Sama

    Nasional
    Dipimpin Din Syamsuddin, Partai Pelita Daftar Peserta Pemilu 2024

    Dipimpin Din Syamsuddin, Partai Pelita Daftar Peserta Pemilu 2024

    Nasional
    Dicabutnya Kuasa Deolipa Yusmara di Tengah Pengakuan Bharada E

    Dicabutnya Kuasa Deolipa Yusmara di Tengah Pengakuan Bharada E

    Nasional
    Prabowo dan Muhaimin Tanda Tangani Piagam Deklarasi, Gerindra-PKB Resmi Bentuk Koalisi

    Prabowo dan Muhaimin Tanda Tangani Piagam Deklarasi, Gerindra-PKB Resmi Bentuk Koalisi

    Nasional
    Langgar Etik Kasus Pembunuhan Brigadir J, 16 Polisi Ditempatkan di Tempat Khusus

    Langgar Etik Kasus Pembunuhan Brigadir J, 16 Polisi Ditempatkan di Tempat Khusus

    Nasional
    Melihat Lebih Dekat Mobil Kepresidenan Indonesia dari Masa ke Masa

    Melihat Lebih Dekat Mobil Kepresidenan Indonesia dari Masa ke Masa

    Nasional
    Polah Ferdy Sambo Terkait Penembakan Brigadir J: Dulu Menangis, Kini Akui Jadi Dalang Pembunuhan

    Polah Ferdy Sambo Terkait Penembakan Brigadir J: Dulu Menangis, Kini Akui Jadi Dalang Pembunuhan

    Nasional
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.