Kompas.com - 01/07/2013, 09:04 WIB
Terdakwa Luthfi Hasan Ishaaq (tengah) menjalani sidang perdananya di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Senin (24/6/2013). Luthffi diajukan ke pengadilan karena diduga terlibat dalam kasus suap kuota impor daging sapi di Kementrian Pertanian. TRIBUNNEWS/DANY PERMANATerdakwa Luthfi Hasan Ishaaq (tengah) menjalani sidang perdananya di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Senin (24/6/2013). Luthffi diajukan ke pengadilan karena diduga terlibat dalam kasus suap kuota impor daging sapi di Kementrian Pertanian.
Penulis Icha Rastika
|
EditorInggried Dwi Wedhaswary

JAKARTA, KOMPAS.com — Mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera, Luthfi Hasan Ishaaq mengajukan nota keberatan atau eksepsi yang rencananya dibacakan dalam persidangan, Senin (1/7/2013), di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta. Pengacara Luthfi, Zainuddin Paru, mengungkapkan, nota keberatan Luthfi akan dibacakan tim pengacaranya.

"Penasihat hukum yang akan membacakan," kata Paru.

Menurut Paru, nota keberatan atau eksepsi Luthfi tebalnya sekitar 60 halaman. Mengenai isi nota keberatan yang akan dibacakan tersebut, Paru enggan mengungkapkannya dulu.

"Ya nanti didengarkan bersama-sama," ujarnya.

Nota keberatan ini merupakan tanggapan pihak Luthfi atas dakwaan yang disusun tim jaksa penuntut umum Komisi Pemberantasan Korupsi. Dalam persidangan sebelumnya, tim jaksa KPK mendakwa Luthfi melakukan tindak pidana korupsi dengan menerima hadiah atau janji Rp 1,3 miliar dari Direktur Utama PT Indoguna Utama Maria Elizabeth Liman terkait kepengurusan kuota impor daging sapi.

Uang untuk Luthfi tersebut diterima orang dekatnya, Ahmad Fathanah, dari dua Direktur PT Indoguna Juard Effendi dan Arya Abdi Effendi. Selain didakwa korupsi, Luthfi didakwa melakukan tindak pidana pencucian uang dengan beberapa perbuatan, baik menerima uang hasil tindak pidana korupsi maupun menyembunyikan uang yang patut diduga berasal dari tindak pidana korupsi.

Sementara Luthfi, seusai pembacaan dakwaan mengaku heran dengan surat dakwaan yang disusun tim jaksa penuntut umum Komisi Pemberantasan Korupsi. Mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera ini pun akan mengajukan eksepsi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Ada yang buat saya heran (dengan dakwaan). Intinya, Insya Allah akan dibuktikan pengacara saya terhadap tuduhan-tuduhan tersebut," kata Luthfi.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    Rekomendasi untuk anda
    26th

    Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    Satgas: Kasus Positif Covid-19 Turun Selama 13 Pekan Berturut-turut

    Satgas: Kasus Positif Covid-19 Turun Selama 13 Pekan Berturut-turut

    Nasional
    Tiga Tersangka Kasus Dugaan Korupsi di Perum Perindo Ditahan Terpisah

    Tiga Tersangka Kasus Dugaan Korupsi di Perum Perindo Ditahan Terpisah

    Nasional
    Kunjungan Kerja, Wapres Puji Mal Pelayanan Publik Banyuwangi

    Kunjungan Kerja, Wapres Puji Mal Pelayanan Publik Banyuwangi

    Nasional
    KSAL: TNI AL Harus Siap Hadapi Ancaman Konvensional dan Nonkonvensional

    KSAL: TNI AL Harus Siap Hadapi Ancaman Konvensional dan Nonkonvensional

    Nasional
    Novel Baswedan Laporkan Pimpinan KPK Lili Pintauli ke Dewas

    Novel Baswedan Laporkan Pimpinan KPK Lili Pintauli ke Dewas

    Nasional
    Kejagung Ungkap Peran 3 Tersangka Kasus Dugaan Korupsi di Perum Perindo

    Kejagung Ungkap Peran 3 Tersangka Kasus Dugaan Korupsi di Perum Perindo

    Nasional
    Salah Satu Saksi Kasus Dugaan Korupsi Perum Perindo Meninggal Dunia saat Hendak Diperiksa Kejagung

    Salah Satu Saksi Kasus Dugaan Korupsi Perum Perindo Meninggal Dunia saat Hendak Diperiksa Kejagung

    Nasional
    Muzani: Gerindra Ingin Belajar dari Loyalitas Santri kepada Kiai

    Muzani: Gerindra Ingin Belajar dari Loyalitas Santri kepada Kiai

    Nasional
    Saksi Sebut Sarana Jaya Awalnya Ajukan Anggaran Rp 5,5 Triliun Dalam Penyertaan Modal Daerah

    Saksi Sebut Sarana Jaya Awalnya Ajukan Anggaran Rp 5,5 Triliun Dalam Penyertaan Modal Daerah

    Nasional
    Kejagung Tetapkan 3 Tersangka Kasus Korupsi Perum Perindo

    Kejagung Tetapkan 3 Tersangka Kasus Korupsi Perum Perindo

    Nasional
    Naik Pesawat ke Wilayah Level 3 dan 4 Non Jawa-Bali Juga Wajib Tes PCR

    Naik Pesawat ke Wilayah Level 3 dan 4 Non Jawa-Bali Juga Wajib Tes PCR

    Nasional
    Kemenkes Klaim Indonesia Jadi Negara Non Produsen Vaksin Covid-19 yang Capaian Vaksinasinya Terbaik

    Kemenkes Klaim Indonesia Jadi Negara Non Produsen Vaksin Covid-19 yang Capaian Vaksinasinya Terbaik

    Nasional
    3 Orang dan 1 Korporasi Tersangka Kasus Pengadaan Lahan di Munjul Segera Disidang

    3 Orang dan 1 Korporasi Tersangka Kasus Pengadaan Lahan di Munjul Segera Disidang

    Nasional
    Sebaran 15.594 Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia pada 21 Oktober 2021

    Sebaran 15.594 Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia pada 21 Oktober 2021

    Nasional
    UPDATE 21 Oktober: Ada 4.336 Kasus Suspek Covid-19

    UPDATE 21 Oktober: Ada 4.336 Kasus Suspek Covid-19

    Nasional
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.