Tiga Tersangka Terkait Labora

Kompas.com - 29/05/2013, 02:21 WIB
Editor

Jakarta, Kompas - Polda Papua bersama Badan Reserse Kriminal Polri telah menetapkan tiga tersangka terkait dengan kasus transaksi keuangan mencurigakan milik Inspektur Satu Labora Sitorus. Selain Labora, tersangka lain adalah JL, Direktur Operasional PT SAW, dan IM, Direktur Operasional PT Rotua.

”Dalam penyidikan, tim Bareskrim dan Polda Papua telah menetapkan tiga tersangka. Penyidikan masih terus berlangsung,” kata Kepala Bagian Penerangan Umum Polri Komisaris Besar Agus Rianto di Jakarta, Selasa (28/5). Saat ini, saksi yang diperiksa mencapai 72 orang.

Agus mengungkapkan, terkait transaksi keuangan mencurigakan milik Labora, penyidik telah menyidik dua kasus dugaan tindak pidana asal, yaitu dugaan kasus pembalakan liar (illegal logging) dan penimbunan bahan bakar minyak (solar). Secara simultan, penyidik juga masih menyelidiki dugaan kasus tindak pidana pencucian uang.

Sampai saat ini, lanjut Agus, penyidik Bareskrim Polri dan Polda Papua belum menemukan indikasi keterlibatan anggota Polri yang lain, termasuk atasan Labora. ”Informasi yang selama ini kami peroleh atau terima masih harus dianalisis,” katanya. Penyidik juga masih meminta penjelasan dari pejabat Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan terkait dengan aliran dana dari transaksi keuangan yang mencurigakan.

Mutasi

Menurut Agus, Kapolda Papua, Senin lalu, sudah melakukan serah terima jabatan Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Raja Ampat, Kapolres Sorong, dan Kapolres Waropen. Mutasi Kapolres Raja Ampat dan Sorong diakui juga terkait dengan kasus Labora karena sebagai atasan Labora, Kapolres seharusnya mengetahui apa yang terjadi pada bawahannya.

Dari Jayapura, Kepala Bidang Humas Polda Papua Komisaris Besar I Gde S Jaya mengatakan, sejauh ini Labora mengaku, bisnis yang dikelola keluarganya merupakan bisnis legal. ”Menurut dia, semua ada izin dan ada dokumen-dokumen terkait usahanya itu,” kata Jaya, Selasa, di Jayapura.

Meskipun demikian, polisi terus mengembangkan penyidikan terkait kegiatan Labora. Bahkan, polisi, ujarnya, bisa saja meminta keterangan dari Ajun Komisaris Besar Taufik Irfan, mantan Kapolres Raja Ampat, terkait sidang disiplin dan kode etik Labora.

Labora merupakan anggota polisi dari Seksi Umum Polres Raja Ampat. Dia diduga terlibat kasus solar ilegal, kayu ilegal, dan kasus pencucian uang. Nama bintara senior itu makin mencuat setelah diketahui memiliki total transaksi keuangan senilai Rp 1,5 triliun.

Jaya menambahkan, semua usaha Labora itu berada di Sorong, Papua Barat. ”Sebagai kapolres yang berada jauh di Raja Ampat, mana tahu si ini atau si itu punya usaha,” katanya.

Sebelumnya, Kapolda Papua Inspektur Jenderal Tito Karnavian memutasi Ajun Komisaris Besar Taufik Irfan ke Biro Perencanaan Polda Papua. Tito menyebutkan, terkait Labora, ada persoalan manajerial dalam pengelolaan anggota di polres tersebut. Sebagai atasan, menurut Tito, seharusnya Kapolres Raja Ampat memberi pemahaman dan pertimbangan sesuai dengan ketentuan. (FER/JOS)



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ini 3 Penyebab Maraknya Penggunaan Narkoba Menurut BNN, Dianggap Aib hingga Gaya Hidup

Ini 3 Penyebab Maraknya Penggunaan Narkoba Menurut BNN, Dianggap Aib hingga Gaya Hidup

Nasional
[UPDATE] Covid-19 5 Juni: Depok Tambah 6 Kasus Positif Baru, Total Jadi 578 Pasien

[UPDATE] Covid-19 5 Juni: Depok Tambah 6 Kasus Positif Baru, Total Jadi 578 Pasien

Nasional
BNN: Banyak Pengedar Narkoba Divonis Hukuman Mati, tapi Pelaksanaannya Belum

BNN: Banyak Pengedar Narkoba Divonis Hukuman Mati, tapi Pelaksanaannya Belum

Nasional
85 Tahun Syafii Maarif, Azyumardi Azra: Dia Seorang Demokrat

85 Tahun Syafii Maarif, Azyumardi Azra: Dia Seorang Demokrat

Nasional
Ketua MPR Sebut New Normal Tak Terelakkan, Harus Siap Praktikkan Gaya Hidup Baru

Ketua MPR Sebut New Normal Tak Terelakkan, Harus Siap Praktikkan Gaya Hidup Baru

Nasional
BNN Soroti Sindikat Narkoba Jaringan Iran yang Kembali Aktif di Tengah Pandemi

BNN Soroti Sindikat Narkoba Jaringan Iran yang Kembali Aktif di Tengah Pandemi

Nasional
Istana Minta Masyarakat Tetap Waspada di Masa PSBB Transisi

Istana Minta Masyarakat Tetap Waspada di Masa PSBB Transisi

Nasional
551 Pasien Covid-19 Tercatat Sembuh dalam Sehari, Tertinggi Sejak 2 Maret

551 Pasien Covid-19 Tercatat Sembuh dalam Sehari, Tertinggi Sejak 2 Maret

Nasional
Komplain Penyaluran Bansos dari Daerah Belum Terintegrasi dengan Pusat

Komplain Penyaluran Bansos dari Daerah Belum Terintegrasi dengan Pusat

Nasional
Relakan THR Miliknya untuk Nelayan Pesisir, 2 Prajurit TNI Ini Dapat Penghargaan Ketua MPR

Relakan THR Miliknya untuk Nelayan Pesisir, 2 Prajurit TNI Ini Dapat Penghargaan Ketua MPR

Nasional
Kapolri Ganti 2 Wakapolda dan Satu Direktur di Bareskrim, Total 120 Perwira Dimutasi

Kapolri Ganti 2 Wakapolda dan Satu Direktur di Bareskrim, Total 120 Perwira Dimutasi

Nasional
Kemendagri Gelar Lomba Sosialisasi New Normal, Pemda Pemenang Dapat Dana Insentif hingga Rp 169 Miliar

Kemendagri Gelar Lomba Sosialisasi New Normal, Pemda Pemenang Dapat Dana Insentif hingga Rp 169 Miliar

Nasional
Setelah 11 Minggu Tutup, Masjid Mabes TNI AU Akhirnya Laksanakan Shalat Jumat

Setelah 11 Minggu Tutup, Masjid Mabes TNI AU Akhirnya Laksanakan Shalat Jumat

Nasional
Data Amnesty: 69 Kasus Pembunuhan di Luar Proses Hukum di Papua, Pelakunya Tak Ada yang Diadili

Data Amnesty: 69 Kasus Pembunuhan di Luar Proses Hukum di Papua, Pelakunya Tak Ada yang Diadili

Nasional
Kasus Suap 14 Anggota DPRD Sumut, KPK Terima Pengembalian Uang Rp 1,78 Miliar

Kasus Suap 14 Anggota DPRD Sumut, KPK Terima Pengembalian Uang Rp 1,78 Miliar

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X