Kejaksaan Jemput Paksa dan Tahan GM Chevron

Kompas.com - 18/05/2013, 02:29 WIB
Editor

Jakarta, Kompas - Kejaksaan Agung segera melimpahkan kembali kasus korupsi proyek bioremediasi PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) ke persidangan. Pelimpahan terutama untuk kasus dengan tersangka General Manager (GM) Sumatera Light South PT CPI Bachtiar Abdul Fatah.

”(Bachtiar) sudah ditahan kejaksaan,” demikian dikatakan Jaksa Agung Basrief Arief, Jumat (17/5), di kantor Kejaksaan Agung, Jakarta. Basrief menyerahkan penyelesaian kasus ini kepada Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus) Andhi Nirwanto.

Menurut Andhi, penahanan Bachtiar adalah bagian dari komitmen Kejaksaan Agung untuk menyelesaikan kasus Chevron. Tim penyidik Jampidsus telah menjemput paksa Bachtiar karena dua kali tidak memenuhi panggilan.

”Kami sedang menyiapkan berkas untuk dilimpahkan ke persidangan,” ujar Andhi.

Bachtiar adalah satu dari lima pegawai Chevron yang dijadikan tersangka dalam kasus dugaan korupsi bioremediasi. Empat tersangka lain adalah Endah Rumbiyanti, Widodo, Kukuh, dan Alexiat Tirtawidjaja.

Tersangka dari kontraktor telah diputus hakim tindak pidana korupsi, 7 Mei 2013. Direktur PT Green Planet Indonesia Ricksy Prematuri divonis 5 tahun penjara, sedangkan Direktur PT Sumigita Jaya Herlan bin Ompo divonis 6 tahun penjara.

Sementara itu, Presiden Direktur PT CPI Abdul Hamid Batubara dan Managing Director Chevron Indonesia Jeff Shellebarger mengeluarkan pernyataan bersama terkait pemanggilan paksa dan penahanan Bachtiar.

”Pengadilan pra-peradilan telah memutuskan kasus Bachtiar ini dan dengan jelas menyatakan penetapan Bachtiar sebagai tersangka oleh Kejaksaan Agung tidak sah. Menangkap dan menahannya adalah pelanggaran putusan pengadilan dan berarti pelanggaran terhadap hak hukum dan hak asasinya. Pengadilan harus turun tangan dan melindungi hak hukum dan HAM karyawan kami dari tindakan tidak terpuji ini,” kata Hamid.

Pada 27 November 2012, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan melalui sidang pra-peradilan memutuskan pembebasan Bachtiar dari tahanan penyidik Kejaksaan Agung dan membatalkan penetapan Bachtiar sebagai tersangka. Hal ini karena penahanan dan penetapannya sebagai tersangka tidak didahului dengan bukti-bukti yang cukup.

Putusan terjadi setelah Bachtiar dan tiga karyawan lain dipenjara 62 hari. (RYO/AMR/evy)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.