IHSG dan Investor Asing

Kompas.com - 01/05/2013, 03:32 WIB
Editor

Bulan April menjadi klimaks bagi Indeks Harga Saham Gabungan. Tidak hanya kembali ke tingkat psikologis 5.000, IHSG juga menembus tingkat tertingginya sepanjang sejarah di akhir perdagangan, Selasa (30/4). IHSG ditutup naik 34,32 poin atau sekitar 0,69 persen ke tingkat 5.034.07. Siapa tahu klimaks indeks itu akan menjadi benar-benar puncak indeks sepanjang tahun ini?

Hingga kemarin, kenaikan itu menempatkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di peringkat kedua tertinggi pertumbuhannya di kawasan Asia bahkan di tingkat global. Dengan pertumbuhan sekitar 16,62 persen, IHSG hanya berada di bawah Indeks Nikkei 225 (Jepang) yang sudah melesat 33,34 persen. IHSG bahkan melebihi pertumbuhan Indeks Dow Jones Industrial Average (Amerika Serikat/AS) di kisaran 13,08 persen (posisi 29 April 2013) dan bursa Australia yang tumbuh sekitar 10,08 persen.

Investor asing kembali mendorong kenaikan IHSG dengan pembelian saham-saham unggulan. Dengan pembelian bersih senilai Rp 539 miliar dalam total transaksi yang menembus angka Rp 8 triliun kemarin, investor asing sudah mencatat total pembelian bersih senilai Rp 19,49 triliun tahun ini. Hanya dalam tempo empat bulan, jumlah itu sudah melebihi catatan pembelian investor asing sepanjang 2012 lalu senilai Rp 12 triliun.

Selain di saham, ketertarikan investor asing jelas terlihat di surat utang negara (SUN). Imbal hasil SUN untuk jangka waktu 10 tahun menguat 2 basis poin ke 5,50 persen atau naik 31 basis poin hingga kemarin sepanjang tahun ini. Hingga 29 April lalu, kepemilikan investor asing di SUN naik Rp 700 miliar menjadi Rp 295,4 triliun atau sekitar 33,8 persen. Angka 33,8 persen itu sejauh ini merupakan puncak dari posisi pada bulan September tahun 2011 yang berada di kisaran Rp 36 persen.

Pelambatan pertumbuhan perekonomian global saat ini justru menimbulkan spekulasi lebih lanjut. Bank sentral AS, The Federal Reserve, misalnya, diharapkan bakal melanjutkan kebijakan pembelian obligasi 85 miliar dollar AS setiap bulan.

IHSG di posisi 5.000 menguntungkan investor, juga pemegang reksa dana dan unit link. Namun, jangan lupakan faktor risiko pembalikan arah IHSG. Asal dana yang mengerek bursa global, termasuk IHSG, patut diperhatikan. Fluktuasi yang tinggi di mayoritas bursa saham menandakan adanya uang panas yang membutuhkan keuntungan cepat. Itu potensial menyandera ekonomi Indonesia. Misalnya, tertekannya nilai tukar rupiah yang memengaruhi cadangan devisa dan neraca pembayaran. Masyarakat kebanyakan (noninvestor) pun akan semakin tertekan daya belinya. (BENNY D KOESTANTO)

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.