Kompas.com - 26/04/2013, 20:33 WIB
Penulis Amir Sodikin
|
EditorRobert Adhi Ksp

JAKARTA, KOMPAS.com - Terdakwa kontraktor pekerjaan teknis pengolahan limbah minyak mentah secara bioremediasi di PT Chevron Pacific Indonesia, yang juga Direktur PT Sumigita Jaya, Herlan bin Ompo, dituntut pidana penjara 15 tahun dan denda Rp 1 miliar subsider 6 bulan kurungan. Selain itu, Herlan juga diwajibkan membayar uang pengganti kerugian negara 6,9 juta dollar AS.

Demikian pembacaan tuntutan oleh jaksa penuntut umum pada Kejaksaan Agung yang diketuai jaksa Surma di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, pada Jumat (26/4/2013). Jika terdakwa tak bisa memenuhi pembayaran uang pengganti kerugian negara, jaksa akan menyita harta terdakwa dan jika tak mencukupi juga, maka akan diganti dengan pidana penjara 5 tahun.

Jaksa memaparkan, Herlan terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi sebagaimana dalam dakwaan primer yang melanggar Pasal 2 Ayat (1) juncto Pasal 18 UU No 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU No 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHPidana juncto Pasal 65 Ayat (1) KUHPidana.

PT SGJ dianggap tidak memiliki izin pengolahan bioremediasi yang terjadi pada rentang tahun 2008 - 2012 dan tak memenuhi kualifikasi sebagai kontraktor pekerjaan sipil bersifat khusus. "PT SGJ bukan perusahaan pengolah limbah melainkan perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi," kata jaksa Surma.

Seharusnya, pada prakualifikasi lelang, perusahaan tersebut digugurkan namun oleh panitia diloloskan hingga menjadi pemenang. "Persyaratan kualifikasi harus merupakan persyaratan minimal. PT Sumigita Jaya tak memenuhi persyaratan khusus tersebut," kata jaksa.

Salah satu kualifikasi yang tak dimiliki misalnya, laboratorium yang digunakan untuk pengujian tanah tercemar. Terdakwa hanya menyerahkan pengujian sampel tanah tercemar ke pihak lain yang memiliki laboratorium, yaitu Chevron.

Itupun, kata jaksa, hanya pengujian TPH (Total Petroleum Hydrocarbon), tanpa uji lain terkait bakteri pendegredasi minyak. Kemudian jaksa mengutip pernyataan ahli bioremediasi Edison Effendi yaitu tanpa uji lain, misal soal jumlah dan jenis bakteri tanah, mustahil bioremediasi berhasil dengan baik.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Mendengar nama Edison Effendi, para pengunjung berteriak "huuuuu", yang maksudnya adalah mencela kredibilitas ahli Edison. Edison adalah orang yang pernah mengikuti lelang di Chevron dan kalah, yang kemudian melaporkan kasus ini ke Kejaksaan Agung dan akhirnya dijadikan sebagai ahli untuk penyusunan dakwaan sekaligus dihadirkan sebagai ahli di persidangan.

"Pengunjung tidak boleh gaduh, apabila tetap gaduh akan dikeluarkan dari persisangan," kata Ketua Majelis Hakim Sudharmawatiningsih.

Selain tak memenuhi kualifikasi, Herlan juga sadar tak memiliki izin pengolahan limbah dari Kementerian Lingkungan Hidup. "PT SGJ juga wajib punya izin dari Kementerian Lingkungan Hidup, tak hanya bergantung pada izin PT CPI," kata jaksa.

Halaman:
Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.