Sarah Zafria, Kliennya Bintang Hollywood

Kompas.com - 15/04/2013, 11:39 WIB

KOMPAS.com - Sarah Zafria, desainer interior, bekerja di kalangan elite. Delapan tahun ia bekerja di New York dengan klien bintang Hollywood seperti Sarah Jessica Parker. Di tangan Sarah, desain interior bukan sekadar perkara kemewahan.

”Bekerja harus pakai hati,” katanya.

Sebagai desainer interior, Sarah (37) bekerja mewujudkan mimpi. Sejak 2008, ia membangun perusahaan sendiri di Jakarta, Kotta Interior Design. Ia mendesain interior sejumlah rumah tinggal, kantor, dan unit apartemen papan atas di Jakarta. Kini Sarah bersiap menggarap interior apartemen di Singapura dan townhouse di New York, Amerika Serikat.

Berkunjung ke kantor Sarah di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, beberapa pekan lalu, serasa menikmati galeri seni dan koleksi antik. Mulai dari ukiran tulang buatan Toraja, patung karya perupa kondang, mebel antik, hingga lukisan ada di sana. Tatanan koleksi ini lebih enak dinikmati karena tawa Sarah kerap berderai lepas di sela-sela cerita yang mengalirkan semangat. ”Orang Indonesia itu bisa bikin apa pun, sangat kaya talenta,” ujarnya.

Foto Sarah bersama sang suami, Wiweko Adi Nugroho, terpajang di beberapa sudut. Di semua foto itu wajah Sarah nyaris tanpa riasan dengan rambut selalu diikat, seperti juga penampilannya saat menemui Kompas.

”Sehari-hari saya memang jarang pakai lipstik, juga tanpa bedak, cuma pakai pelembab. Buat saya yang penting badan bersih dan yang saya pakai nyaman. Kalau proyek sudah selesai dengan segala keringat tertumpah, bolehlah saya tampil gaya.”

Bagi Sarah, gaya urusan nomor dua setelah kenyamanan. Baju dan aksesori bukan sarana unjuk kemampuan belanja. ”Saya suka perhiasan yang ada history-nya. Kalung ini, misalnya, dibuat dari kayu yang sudah jadi fosil di Flores. Ini gambaran kekayaan Indonesia,” tuturnya.

Sarah percaya, tak perlu kehilangan jati diri demi pergaulan. ”Saya sangat up to date mode, tetapi enggak mau diperbudak mode. Soal omongan orang, itu terjadi di belahan dunia mana pun. Tak jadi masalah selama kita tetap mengerti bagaimana menghargai orang lain.”

Bukan sekadar mewah
Desain interior, bagi Sarah, bukan sekadar perkara kemewahan, melainkan berkaitan erat dengan psikologi manusia. Interior rumah, misalnya, tak bisa dibuat semata mengacu pada tren yang hanya berlaku beberapa saat. Rumah adalah tempat berteduh bagi tubuh dan jiwa. Jadi, pesan Sarah, buatlah rumah sebagai cerminan personal.

Kemauan untuk saling mendengarkan dan rasa saling percaya adalah syarat Sarah bekerja sama dengan klien. Ia mencontohkan, seorang klien menginginkan interior rumahnya bercita rasa Eropa sangat kental.

”Kalau lahannya kurang luas, gaya seberat itu tidak cocok dengan lingkungan dan iklim tropis. Saya akan sarankan bobot Eropa itu dikurangi. Jadi, pemilik rumah tetap dapat yang mereka mau, tetapi ada kompromi. Kalau enggak ketemu, saya pilih mundur. Saya tak akan ambil proyek itu karena bekerja harus pakai hati,” ujarnya.

Sarah membatasi diri hanya mengerjakan paling banyak empat proyek besar dalam setahun. Untuk mengerjakan interior sebuah hunian elite dengan luas lebih dari 1.000 meter persegi, misalnya, ia perlu waktu hingga dua tahun.

Halaman:


EditorDini

Close Ads X