Citra Natasya: Menjadi Duta Budaya lewat Tari

Kompas.com - 01/04/2013, 10:28 WIB

KOMPAS.com - Menari menjadikan perjalanan hidup Citra Natasya penuh warna. Ia selalu mengawali hari dengan menari. Dengan tari, ia bahkan menjadi duta budaya.

”Saya suka rambut panjang. Tidak pernah dipotong pendek. Kecantikan dan kekuatan perempuan juga dari rambutnya,’ kata Citra (22), sang penari itu.

Ah, rambutnya itu memang menambah pesona diri Citra. Apalagi saat ia menari. Rambutnya yang hitam panjang tergerai bebas. Sesekali ia menyibaknya dalam sebuah gerakan elegan. Rambutnya pun ikut menari. Itu mengapa Citra tak pernah sekalipun mengecat rambutnya, meluruskan, ataupun mengeritingnya.

Kehalusan gerak Citra sebagai penari tertangkap ketika kami bertemu Citra di Ampera Six Commercial Building, Kemang, Jakarta Selatan. Jari-jari tangannya lentik. Mengenakan busana merah muda cerah, kulit putih Citra bersinar di bawah atap kaca gedung.

Sejak kecil Citra memang suka menari. Namun, ia baru serius menggeluti tari tradisional ketika masuk SMA Negeri 6 Jakarta. ”Sekarang sudah tujuh tahun saya menari. Saya dulu pernah belajar balet, tari kontemporer, tetapi sekarang fokus pada tari-tari tradisional,” ujarnya.

Duta budaya
Tari telah mengantarkan Citra terbang sebagai duta budaya Indonesia ke sejumlah negara, seperti Turki, Polandia, dan Korea Selatan. Ia mengikuti kompetisi dan festival tari di negara-negara itu yang diadakan International Council of Organizations of Folklore Festivals and Folk Arts (CIOFF) yang bernaung di bawah Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO). Ia menarikan tari piring, tortor, saman, tari Sunda Bajidor Kahot, sampai tari Tifa Papua.

Citra pertama kali menjadi duta CIOFF Indonesia pada 2006 ketika mengikuti kompetisi tari bersama teman-temannya dari SMA Negeri 6 Jakarta. Saat kuliah di Universitas Pelita Harapan (UPH), Jakarta, Citra bersama grup mewakili Indonesia dalam kompetisi tari di Polandia.

Di Turki, Indonesia mendapat penghargaan Best Costume. Di Polandia, grup tari Indonesia menyabet gelar Best Instruments. Pada Oktober 2012 lalu, Citra mengikuti festival tari internasional di Korea Selatan bersama kelompok tari mahasiswa Universitas Padjadjaran, Bandung, yang diikuti sekitar 50 negara.

Penampilan Indonesia, kata Citra, selalu dinantikan. Ragam tari Nusantara yang ditampilkan membuat kagum penonton. Bahkan, pada akhir penampilan sering kali penonton meminta mereka menari lagi.

Melihat kemampuan Citra menari, CIOFF Indonesia memintanya menjadi pelatih tari bagi calon-calon duta bangsa. Ia kini aktif melatih para pelajar dan mahasiswa dari beberapa sekolah dan universitas di Jakarta yang akan dikirim mengikuti kompetisi dan festival tari tahunan yang diadakan CIOFF.

Citra melatih tari setiap Sabtu dan Minggu, antara lain di SMPN 115 Jakarta, SMP Al Azhar Pusat, Universitas Prasetya Mulya, dan Universitas Multimedia Nusantara. ”Tanggung jawabnya sudah pasti lebih berat sebagai pelatih dibandingkan menjadi peserta,” ujarnya.

Menari itu menyenangkan
Citra menemukan keasyikan menari. Keragaman gerakan tubuh dalam setiap jenis tarian tradisional mulai dari lembut hingga dinamis membuatnya jatuh hati. Apalagi setiap jenis tari tradisional memiliki busana dan musik yang indah dan unik. ”Menari itu menyenangkan. Semua elemen tari adalah satu kesatuan seni yang luar biasa,” ucapnya.

Halaman:


EditorDini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Close Ads X