Kompas.com - 21/03/2013, 19:58 WIB
|
EditorAgus Mulyadi

BEKASI, KOMPAS.com - Pemerintah Kabupaten Bekasi memakai excavator menghancurkan dinding Gereja Huria Kristen Batak Protestan Setu, Kamis (21/3/2013) siang. Dinding yang baru dibangun dan dirobohkan itu, mengelilingi bangunan gereja yang sudah rapuh.

Namun pemerintah tidak membongkar bangunan gereja berupa bilik, sesuai dengan Surat Keputusan 2 Menteri itu. Di bangunan yang rapuh itu, jemaat HKBP Setu telah beribadah sejak 13 tahun.

Gereja berlantai ubin, berdinding papan, dan beratap asbes berdiri di lahan di Gang Wiryo, Jalan MT Haryono, RT 005 RW 02, Tamansari, Setu, Kabupaten Bekasi. Sekitar 40 petugas Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Bekasi dan 270 personel Kepolisian Resor Bekasi Kabupaten, mengawal pembongkaran. Pembongkaran meninggalkan kesedihan mendalam bagi jemaat HKBP Setu.

Jemaat yang siang itu kebanyakan kaum perempuan, sempat berusaha menghadang excavator berbau sampah. Alat berat itu ditarik dari Tempat Pembuangan Akhir Burangkeng, Setu, sekitar 10 kilometer dari lokasi gereja.

Para jemaat itu berteriak dan menangis menolak eksekusi. Namun, histeria jemaat tidak mampu meluluhkan hati aparat. Excavator terus maju dan akhirnya merobohkan tembok bata, yang dibangun dengan tujuan perluasan dan pemugaran bangunan gereja yang dianggap sudah rapuh dan tidak mampu lagi menampung jemaat.

"Kami bukan penjahat, kami hanya ingin beribadah. Masih banyak yang harus dibongkar, seperti tempat prostitusi dan judi," kata seorang jemaat sambil menangis.

Di sisi lain, tampak sekelompok orang yang berteriak-teriak. Kaum laki-laki, perempuan, dan anak-anak itu meminta agar pembongkaran diteruskan. Mereka bersorak ketika tembok roboh.

Pemimpin jemaat Pendeta Advent Leonard Nababan dan Pendeta Torang Parulian Simanjuntak, terus-menerus berusaha menenangkan jemaat. Tiada perlawanan apapun dari jemaat, kecuali air mata menetes akibat kesedihan melihat tembok gereja roboh.

Pemerintah Kabupaten Bekasi memang sudah merencanakan pembongkaran. Sebelum pembongkaran, pemerintah menyegel tembok itu. Panitia Pembangunan dan Perizinan Gereja HKBP Setu diminta membongkar sendiri tembok dalam waktu tujuh hari. Namun, selepas tenggat waktu, tembok masih berdiri sehingga mendorong pemerintah melayangkan surat pemberitahuan pembongkaran satu hari sebelum eksekusi.

Pembongkaran diwujudkan, sebab pendirian tembok tanpa seizin warga dan pemerintah.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.