Saksi Beratkan Zulkarnaen

Kompas.com - 19/03/2013, 02:37 WIB
Editor

JAKARTA, KOMPAS - Majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta menghadirkan tiga saksi ke persidangan terkait kasus korupsi pengadaan laboratorium madrasah tsanawiyah dan penggandaan Al Quran, Senin (18/3). Saksi yang dihadirkan dalam persidangan tersebut adalah anggota Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR), Vasco Rusaimi; Bendahara MKGR Samsul Rahmat; dan Direktur PT Aksara Abadi, Ali Djufrie.

Hadir pula dalam persidangan tersebut anggota DPR dari Partai Golkar, Zulkarnaen Djabar, dan anaknya, Dendy Prasetya Zulkarnaen, selaku terdakwa. Zulkarnaen dianggap berperan dalam pengaturan aliran dana penggandaan Al Quran dari APBN Perubahan tahun 2011 ke Kementerian Agama.

Dalam kesaksiannya, Vasco mengaku pernah diajak Dendy bersama Ketua Umum MKGR Fadh A Rafiq ke Kementerian Agama untuk melakukan pertemuan terkait tender proyek penggandaan Al Quran. Namun, Vasco tidak mengetahui atas inisiatif siapa sesungguhnya pertemuan itu dilakukan.

Saksi lain, Samsul Rahman, dalam persidangan itu mengatakan, dirinya pernah melakukan pembicaraan dengan Fadh mengenai proyek penggandaan Al Quran tersebut. Namun, dalam pembicaraan tersebut belum secara spesifik dibahas proyek pengadaan Al Quran.

Pembahasan yang lebih spesifik terkait proyek tersebut dibicarakan Samsul dan Fadh pada pertemuan selanjutnya. Dalam pertemuan itu disepakati bahwa Samsul mendapatkan fee 1 persen dari anggaran proyek penggandaan Al Quran senilai Rp 22 miliar tersebut. Namun, fee sebesar 1 persen itu untuk Samsul dan Vasco. ”Saya dan Vasco masing- masing mendapatkan lebih kurang Rp 100 juta,” tutur Samsul.

Bertemu di DPR

Samsul juga mengaku, dia sering menemani Fadh bertemu Zulkarnaen di Kompleks DPR, Senayan, Jakarta. Namun, ia mengatakan tidak pernah bertemu dengan Zulkarnaen. ”Yang masuk ke ruangan Pak Zul hanya Fadh, sedangkan saya nunggu di lobi,” ujar Samsul.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sementara itu, saksi selanjutnya, Direktur PT Aksara Abadi, Ali Djufrie, dalam keterangan di persidangan sempat ditegur majelis hakim dan jaksa penuntut umum karena keterangannya sering berubah-ubah.

Majelis hakim menilai, keterangan Ali dan berita acara pemeriksaan (BAP) tidak sama. Dalam BAP, Ali menuturkan, fee yang ia terima dalam proyek penggandaan Al Quran tersebut 10 persen. Namun, dalam BAP, Ali mendapatkan fee 15 persen.

Menanggapi keterangan tiga saksi tersebut, salah satu terdakwa kasus penggandaan Al Quran, Zulkarnaen, membantah keterangan saksi-saksi yang dihadirkan di persidangan. Zulkarnaen menganggap semua saksi hanya bersumber dari Fadh. Ia menilai saksi-saksi yang hadir dalam persidangan tidak memahami persoalan tersebut.

Sidang selanjutnya direncanakan digelar hari Kamis (21/3). Persidangan tersebut akan menghadirkan Fadh El Fouz. (K13)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.