Kompas.com - 16/03/2013, 16:26 WIB
Penulis Sandro Gatra
|
EditorLaksono Hari W

JAKARTA, KOMPAS.com - Eksekusi terhadap terpidana mati kasus narkotika warga negara Nigeria, Adami Wilson alias Adam alias Abu (42), oleh Kejaksaan Agung dinilai kontraproduktif terhadap upaya pemerintah Indonesia dalam memperjuangkan warga negara Indonesia (WNI) yang terancam hukuman mati di luar negeri. Eksekusi Adami itu akan mempersulit pemerintah Indonesia untuk melakukan pembelaan.

Hal itu disampaikan Koalisi Masyarakat Sipil untuk Menghapus Hukuman Mati (HATI) dalam jumpa pers di Kantor Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) di Jakarta, Sabtu (16/3/2013). Hadir dalam jumpa pers aktivis Hak Asasi Manusia Todung Mulya Lubis, Koordinator Kontras Haris Azhar, Direktur Operasional Imparsial Bhatara Ibnu, dan Direktur Lembaga Bantuan Hukum Masyarakat Ricky Gunawan.

"Ketika eksekusi terjadi, kita coba membela warga negara kita di luar negeri dengan meminta pengampunan, kita menggunakan dasar apa? Indonesia tidak lagi memiliki legitimasi moral dan politik untuk meminta negara lain tidak mengeksekusi mati WNI," kata Ibnu.

Mereka berpendapat, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono harus memberi penjelasan terkait eksekusi Adami karena hal itu menyangkut wajah Indonesia di dunia internasional. Terlepas akan diikuti atau tidak oleh jajarannya, Presiden diminta menyatakan sikap untuk menolak hukuman mati.

Para aktivis tersebut juga meminta agar Kejaksaan Agung menghentikan eksekusi terhadap terpidana mati lainnya. Informasi dari Kejaksaan Agung menyebutkan, setidaknya ada sembilan terpidana mati lainnya yang akan dieksekusi. "Eksekusi Adami harus menjadi yang terakhir di Indonesia," ucap Ricky.

Mereka menolak eksekusi mati karena melanggar hak untuk hidup yang dijamin dalam Pasal 28 UUD 1945. Eksekusi Adami juga dinilai langkah mundur terhadap sikap Indonesia dalam Sidang Umum PBB pada Desember 2012. Setelah terus menolak selama ini, ketika itu Indonesia memilih abstain dalam hal resolusi moratorium hukuman mati.

Adami ditangkap pada 2003 atas kasus penyalahgunaan narkotika. Ia sempat menjalani kurungan di Lapas Tangerang, Banten, kemudian dipindah ke Nusakambangan, Jawa Tengah. Sebelum dieksekusi, Adami telah mendekam di penjara selama 10 tahun.

Dalam masa tahanan itu, Adami disebutkan menjalani bisnis sabu-sabu seberat 8,7 kilogram senilai Rp 17,4 miliar dengan menugaskan kurirnya. Ia kembali ditangkap Badan Narkotika Nasional pada September 2012 saat sedang menjalani perawatan di RSUD Cilacap.

Kejaksaan telah mengeksekusi terpidana mati Adami pada Kamis (14/3/2013) malam. Eksekusi warga negara Malawi ini dilakukan di Kepulauan Seribu, Jakarta Utara.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.