Politik Uang Merebak

Kompas.com - 14/03/2013, 03:42 WIB
Editor

Kupang, Kompas - Aroma politik uang semakin menguat menjelang Pemilu Kepala Daerah Nusa Tenggara Timur. Hal itu mengindikasikan masih rendahnya kemampuan kerja politik kandidat, partai politik, dan tim sukses pendukungnya. Politik uang diandalkan guna mendongkrak peluang keterpilihan.

Demikian hasil survei dari sejumlah dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Nusa Cendana, Kupang, di Kupang, NTT, Rabu (13/3). Dosen yang bergabung dalam lembaga survei Bengkel Advokasi Pemberdayaan dan Pengembangan Kampung (APPeK) itu adalah Vinsen Bureni (koordinator), Rudi Rohi, Lasarus Jehamat, Laurens P Sayrani, dan Alfred Ena Mau.

Menurut Vinsen, survei untuk mendalami kesadaran politik warga dalam Pilkada NTT dilaksanakan dua minggu, 20 Februari-5 Maret 2013. Survei melibatkan 1.000 responden dari Kota Kupang (600) dan Kabupaten Kupang (400). Pilkada NTT digelar 18 Maret 2013.

Vinsen mengatakan, di Kota Kupang tercatat 32,7 persen responden pernah mendengar, melihat orang lain ditawari uang atau barang agar mendukung paket tertentu. Di Kabupaten Kupang, persentase hal yang sama mencapai 21,5 persen. Tawaran paling dominan berupa uang, masing-masing di Kota Kupang 62,8 persen dan Kabupaten Kupang 70,9 persen.

Lasarus menambahkan, komunikasi politik antara kandidat/aktor politik dan parpol dengan pemilih tak intensif. Itu ditandai masih tingginya jumlah pemilih yang tak tahu jumlah kandidat. Pemilih kelompok ini di Kabupaten Kupang sebanyak 60,7 persen dan di Kota Kupang 52,2 persen.

Partisipasi pemilih dalam pemilu gubernur mendatang justru menunjukkan antusiasme menggembirakan. di Kota Kupang sebanyak 94,8 persen responden dan Kabupaten Kupang 92,7 persen akan memilih.

Pilkada NTT diikuti lima pasangan calon gubernur-wakil gubernur. Mereka adalah Esthon L Foenay-Paul L Talo, Ibrahim Agustinus Medah-Melkiades Laka Lena, Christian Rotok-Abraham Liyanto, Benny K Harman-Willem Nope, dan Frans Lebu Raya-Benny Litelnony.

Sosialisasi minim

Informasi pemilihan gubernur/wakil gubernur NTT tenggelam oleh ingar-bingar pemilihan bupati/wakil bupati Sikka. Warga di desa terpencil di Sikka lebih paham mengenai pemilihan bupati ketimbang pemilihan gubernur. Sosialisasi mengenai Pilkada NTT pun terbatas.

Lahurus Megul, tokoh masyarakat Kecamatan Talibura, Sikka, mengaku, sosialisasi mengenai pemilihan gubernur masih minim. Sosialisasi hanya ada untuk pemilihan bupati.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kena Serangan Jatung, Pria Ini Andalkan JKN-KIS untuk Berobat Rutin

Kena Serangan Jatung, Pria Ini Andalkan JKN-KIS untuk Berobat Rutin

Nasional
Wujudkan Pertanian Alami, Badan Restorasi Gambut Dukung SLPG

Wujudkan Pertanian Alami, Badan Restorasi Gambut Dukung SLPG

Nasional
KPK Rampungkan Penyidikan Tersangka Kasus Suap Proyek Kementerian PUPR Hong Artha

KPK Rampungkan Penyidikan Tersangka Kasus Suap Proyek Kementerian PUPR Hong Artha

Nasional
Satgas Covid-19: Sebaiknya Cepat Pulang, Jangan Nongkrong Dulu

Satgas Covid-19: Sebaiknya Cepat Pulang, Jangan Nongkrong Dulu

Nasional
Tolak Pilkada 2020, PP Muhammadiyah: Utamakan Keselamatan Rakyat

Tolak Pilkada 2020, PP Muhammadiyah: Utamakan Keselamatan Rakyat

Nasional
Anggota DPR Nilai Pendanaan Operasi pada Draf Perpres TNI Atasi Terorisme Tak Sesuai UU

Anggota DPR Nilai Pendanaan Operasi pada Draf Perpres TNI Atasi Terorisme Tak Sesuai UU

Nasional
Satgas Covid-19 Minta Pemda Waspadai Munculnya Klaster Pengungsian

Satgas Covid-19 Minta Pemda Waspadai Munculnya Klaster Pengungsian

Nasional
Ini Kronologis Penggunaan Helikopter Firli Bahuri yang Berujung Pelanggaran Etik

Ini Kronologis Penggunaan Helikopter Firli Bahuri yang Berujung Pelanggaran Etik

Nasional
'Pandemi Belum Selesai, DKI Jakarta Belum Aman dari Covid-19...'

"Pandemi Belum Selesai, DKI Jakarta Belum Aman dari Covid-19..."

Nasional
Satgas Covid-19: Kampanye yang Kumpulkan Massa Dilarang!

Satgas Covid-19: Kampanye yang Kumpulkan Massa Dilarang!

Nasional
Satgas Covid-19: Jangan Tunggu 5.000 Kasus Per Hari untuk Disiplin

Satgas Covid-19: Jangan Tunggu 5.000 Kasus Per Hari untuk Disiplin

Nasional
Dirjen EBTKE Ajak Semua Pihak Berinovasi Kembangkan Pemanfaatan Energi Surya

Dirjen EBTKE Ajak Semua Pihak Berinovasi Kembangkan Pemanfaatan Energi Surya

Nasional
Jaksa Agung Janji Usut Tuntas Dalang Kebakaran di Kejaksaan Agung

Jaksa Agung Janji Usut Tuntas Dalang Kebakaran di Kejaksaan Agung

Nasional
Warga Padang yang Tak Patuh Pakai Masker Kebanyakan Pemotor dan Pengguna Angkot

Warga Padang yang Tak Patuh Pakai Masker Kebanyakan Pemotor dan Pengguna Angkot

Nasional
UPDATE 24 September: Tambah 1.133 Kasus Covid-19 di Jakarta, Total 1.664 Pasien Meninggal

UPDATE 24 September: Tambah 1.133 Kasus Covid-19 di Jakarta, Total 1.664 Pasien Meninggal

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X