Kompas.com - 09/03/2013, 15:26 WIB
EditorEgidius Patnistik

BAMAKO, KOMPAS.com - Pasukan Perancis menyita sebuah tempat persembunyian senjata yang signifikan di Mali utara yang diyakini milik kelompok jihad, kata Menteri Pertahanan Perancis, Jean-Yves Le Drian, Jumat (8/3). Yang disita termasuk berton-ton senjata berat, sabuk bunuh bom diri dan peralatan untuk mengimprovisasi alat peledak.

Le Drian, ketika berbicara dari Bamako, Mali kepada radio Europe 1, mengatakan ia telah mengeliling "tempat perlindungan Al Qaeda di Mali" dan melihat persenjataan kaum radikal itu 'ditempatkan' di gua-gua.

Pasukan Perancis dan sekutu, termasuk tentara Mali dan Chad, telah membuat terobosan yang signifikan pada beberapa pekan terakhir dalam memerangi kelompok ekstrimis itu. Namun, pertempuran masih berlanjut di daerah pegunungan di bagian timur laut negara Afrika Barat tersebut. Le Drian mengatakan, keamanan di Goa, kota penting di Mali utara masih menjadi perhatian.

Menteri Luar Negeri Perancis, Laurent Fabius, awal pekan ini mengatakan, Perancis akan mulai mengurangi pasukannya di Mali bulan depan. Pasukan Afrika Barat, yang didukung Perserikatan Bangsa-Bangsa, akan mengambil alih dan menjaga keamanan di negara itu.

Jumat kemarin, ketika Le Drian ditanya apakah intervensi Perancis di Mali sudah hampir berakhir, ia mengatakan bahwa negaranya telah "mencapai sebagian besar dari misinya, tetapi bagian terakhir merupakan yang tersulit."

Pasukan Perancis tengah menggunakan tes DNA untuk mengidentifikasi sejumlah militan yang tewas. Tes itu untuk dapat memastikan apakah Moktar Belmoktar atau Abdelhamid Abou Zeid, dua pria yang telah menjadi tokoh utama di Al Qaeda di Maghreb Islam, termasuk di antara mereka yang tewas. Sejumlah pihak, termasuk militer Chad, telah menyatakan kedua orang itu telah tewas dalam pertempuran tetapi hal itu belum dikonfirmasi Perancis.

Ekstrimis sukses besar meluaskan wilayah pengaruh mereka di Mali utara tahun lalu. Mereka mendapatkan keuntungan dari situasi kekacauan di Mali setelah kudeta militer yang gagal oleh Partai MNLA. Kelompok militan melarang musik, rokok, minuman dan menonton olahraga di televisi. Mereka juga menghancurkan makam dan kuil bersejarah.

Keterlibatan Perancis dalam konflik itu dimulai pada 11 Januari, sehari setelah militan mengatakan mereka telah merebut kota Konna, di sebelah timur Diabaly di Mali tengah, dan siap merangsek ke selatan menuju Bamako, ibukota Mali.

Hampir 4.000 tentara Perancis sekarang dikerahkan di Mali, demikian data dari situs Departemen Pertahanan Perancis.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.