Kompas.com - 08/03/2013, 12:10 WIB
|
EditorGlori K. Wadrianto

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Ratusan aktivis perempuan di Yogyakarta mengelar aksi damai di titik nol Km, Jumat (8/2/2013), dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional. Dalam aksi yang diberitema "Merayakan Kesetiaan Cinta" ini, para aktivis menyuarakan penolakan terhadap tindak poligami dan nikah siri yang selama ini marak terjadi.

Organisasi yang turut dalam aksi antara lain Gerakan Perempuan Indonesia (GEPARI), Aliansi Perempuan Difabel Yogyakarta, Rifka Annisa Women Crisis Center, Jaringan Perempuan Yogyakarta (JPY), dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta.

Rina, Kepala divisi LSM Annisa Women Crisis Center Yogyakarta, menegaskan, tindakan tidak setia dengan melakukan poligami memicu terjadinya tindak kekerasan terhadap perempuan baik fisik maupun psikis. "Siapa sih yang mau diduakan? Karena itu Poligami merupakan salah satu bentuk kekerasan terhadap perempuan, dan nikah siri adalah kendaraannya untuk memuluskan tindak poligami. Secara tegas kami menolaknya," tegas Rina.

Rina menjelaskan banyak pelaku yang membenarkan tindakannya itu, tetapi tidak melihat dampak pada pasangannya. Contohnya kasus pasangan (istri) siri yang masih berstatus anak di bawah umur, hal tersebut tentu melanggar hak-hak anak. "Dalam kasus nikah siri ada semacam penipuan kepada perempuan baik yang sah maupun istri sirinya, dan tindakan itu sering dilakukan oleh laki-laki," ungkap Rina.

Menurut Rina, alangkah indahnya ketika manusia memiliki salah satu sifat seperti burung Cenderawasih yang melambangkan kesetiaan tanpa batas. "Mari kita bersama-sama mengambil sifat burung Cenderawasih yang selalu setia tanpa menyakiti pasangannya. Mari kita sebagai manusia yang memiliki akal sehat menolak dan memerangi tindak kekerasan terhadap perempuan," seru Rina.

Pada bagian lain, Koordinator Umum Alisansi Perempuan Difabel Yogyakarta, Novita Winahyu, mengatakan, kekerasan terhadap perempuan khususnya di Indonesia meningkat tajam. Berdasarkan data Komnas Perempuan, sepanjang tahun 2011 ada 4.377 kasus kekerasan seksual dari total 119.107 kasus yang dilaporkan.

"Negara sebagai struktural kekuasaan seharusnya dapat melindungi perempuan. Namun, harapan itu belum juga terwujud sampai saat ini. Hal ini terlihat dengan semakin meningkatnya jumlah tindak kekerasan yang terjadi," ungkap Novita.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.