Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Anas Sebut 'Nabok Nyilih Tangan', Ini Komen Mubarok

Kompas.com - 22/02/2013, 20:52 WIB
Hindra Liauw

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com — Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat, Ahmad Mubarok, memilih tak berburuk sangka atas status Blackberry Messenger Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum, yakni 'Nabok Nyilih Tangan'. Status ini ditulis setelah KPK menetapkan Anas sebagai tersangka kasus Hambalang.

"Keadilan dan kebenaran Tuhan akan terungkap. Jika memang penetapan tersebut adalah rekayasa, pada waktunya hal ini akan terungkap," kata Mubarok kepada Kompas.com, Jumat (22/2/2013).

Mubarok mengatakan, sejarah telah membuktikan, kebenaran pada akhirnya akan mengalahkan hal yang lalim. Politisi senior ini mencontohkan tokoh nasional Afrika Selatan Nelson Mandela yang menjadi presiden setelah mendekam di penjara selama puluhan tahun. Sebaliknya, mantan Ketua KPK Antasari Azhar, yang turut memberantas korupsi, saat ini mendekam di penjara.

Pada kesempatan itu, Mubarok meminta Anas tak perlu kaget terkait langkah KPK yang menetapkan dirinya sebagai tersangka. Jika memang merasa tak bersalah, pada akhirnya dirinya akan bebas dari jeratan hukum.

Penulisan status 'Nabok Nyilih Tangan' pada BBM bisa jadi merujuk pada seseorang. Mengutip penjelasan Susana Widyastuti dari situs Universitas Negeri Yogyakarta, peribahasa "nabok nyilih tangan" secara harfiah berarti memukul meminjam tangan dan digunakan untuk menyindir secara tidak langsung orang yang mencelakakan orang lain, biasanya untuk tujuan tertentu, tetapi seolah-olah orang lainlah yang melakukan.

Praktik seperti ini biasanya terjadi dalam politik, di mana untuk menjaga citra, rezim yang berkuasa malu-malu untuk menyingkirkan lawan politiknya, maka ia menggunakan 'tangan' orang lain. Orang tersebut tidak ksatria, artinya, ketika dia ingin menjatuhkan, menyakiti, menyingkirkan, membunuh, dan melenyapkan orang lain ia tidak bertindak sendiri namun dengan meminjam tangan orang lain sehingga seolah-olah dirinya adalah orang yang bersih, baik, dan suci.

Sebelumnya, KPK telah menetapkan dua tersangka Hambalang, yakni mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Alifian Mallarangeng serta Kepala Biro Keuangan dan Rumah Tangga Kemenpora Deddy Kusdinar. Apa yang dituduhkan KPK terhadap Andi dan Deddy berbeda dengan Anas. Jika Anas diduga menerima gratifikasi, Andi dan Deddy diduga bersama-sama melakukan perbuatan melawan hukum dan penyalahgunaan wewenang untuk menguntungkan diri sendiri atau pihak lain, tetapi justru merugikan keuangan negara.

Adapun pengusutan kasus Hambalang ini berawal dari temuan KPK saat menggeledah kantor Grup Permai, kelompok usaha milik mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin. Penggeledahan saat itu dilakukan berkaitan dengan penyidikan kasus suap wisma atlet SEA Games yang menjerat Nazaruddin.

Sejak saat itu, seolah tidak mau sendirian masuk bui, Nazaruddin kerap "bernyanyi" menyebut satu per satu nama rekan separtainya. Anas dan Andi pun tak luput dari tudingan Nazaruddin. Kepada media, Nazaruddin menuding Anas menerima aliran dana dari PT Adhi Karya, BUMN pemenang tender proyek Hambalang.

Menurut dia, ada aliran dana Rp 100 miliar dari proyek Hambalang untuk memenangkan Anas sebagai Ketua Umum Demokrat dalam kongres di Bandung pada Mei 2010. Nazaruddin juga mengatakan, mobil Harrier yang sempat dimiliki Anas itu merupakan pemberian dari PT Adhi Karya.

Sementara itu, Anas membantah tudingan-tudingan Nazaruddin tersebut. Dia mengatakan bahwa Kongres Demokrat bersih dari politik uang. Anas bahkan mengatakan rela digantung di Monas jika terbukti menerima uang Hambalang.

"Saya yakin. Yakin. Satu rupiah saja Anas korupsi di Hambalang, gantung Anas di Monas," ujar Anas pada awal Maret tahun lalu. 

Baca juga:
Sekelumit Sosok Anas Urbaningrum
Masihkah Anas Siap Digantung di Monas?
Anas Urbaningrum Dicegah ke Luar Negeri
KPK Belum Tahan Anas Urbaningrum
Rekam Jejak Anas Urbaningrum di Skandal Hambalang

Berita terkait dapat diikuti dalam topik:
Skandal Proyek Hambalang

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Baca tentang
    Video rekomendasi
    Video lainnya


    Terkini Lainnya

    Jokowi Berikan 66 Sapi Kurban pada Idul Adha 2024

    Jokowi Berikan 66 Sapi Kurban pada Idul Adha 2024

    Nasional
    Kostrad Periksa Prajurit yang Diduga Selewengkan Dana Satuan untuk Judi Online

    Kostrad Periksa Prajurit yang Diduga Selewengkan Dana Satuan untuk Judi Online

    Nasional
    2 Jemaah Haji Ilegal Dilaporkan Masih Bersembunyi di Hotel Arab Saudi karena Takut Ditangkap Petugas

    2 Jemaah Haji Ilegal Dilaporkan Masih Bersembunyi di Hotel Arab Saudi karena Takut Ditangkap Petugas

    Nasional
    30 Jaksa Disiapkan untuk Bersidang di Kasus Korupsi Timah

    30 Jaksa Disiapkan untuk Bersidang di Kasus Korupsi Timah

    Nasional
    Jokowi Klaim Serius Perangi Judi 'Online', Pembentukan Satgas Segera Rampung

    Jokowi Klaim Serius Perangi Judi "Online", Pembentukan Satgas Segera Rampung

    Nasional
    Satgas Pangan Polri Temukan Harga Cabai Rawit Naik Jelang Idul Adha

    Satgas Pangan Polri Temukan Harga Cabai Rawit Naik Jelang Idul Adha

    Nasional
    Pemerintah Siap Revisi Target Penurunan 'Stunting' Jika Tak Tercapai

    Pemerintah Siap Revisi Target Penurunan "Stunting" Jika Tak Tercapai

    Nasional
    KPU Tak Rekrut KPPS untuk Pileg Ulang Berskala Kecil

    KPU Tak Rekrut KPPS untuk Pileg Ulang Berskala Kecil

    Nasional
    Kontras Desak Jokowi Jokowi Tuntaskan Kasus Pelanggaran HAM Berat Wasior Papua yang Mandek 23 Tahun

    Kontras Desak Jokowi Jokowi Tuntaskan Kasus Pelanggaran HAM Berat Wasior Papua yang Mandek 23 Tahun

    Nasional
    Konflik Tenurial Mengganjal Pembangunan IKN

    Konflik Tenurial Mengganjal Pembangunan IKN

    Nasional
    Pemerintah Diharap Pakai Cara Lebih Keras Lagi Tindak Judi Online

    Pemerintah Diharap Pakai Cara Lebih Keras Lagi Tindak Judi Online

    Nasional
    Pileg Ulang di Gorontalo, Hanya 4 Parpol yang Harus Revisi Daftar Caleg agar Penuhi Kuota Perempuan

    Pileg Ulang di Gorontalo, Hanya 4 Parpol yang Harus Revisi Daftar Caleg agar Penuhi Kuota Perempuan

    Nasional
    Satgas Judi 'Online' Diharap Tak 'Masuk Angin'

    Satgas Judi "Online" Diharap Tak "Masuk Angin"

    Nasional
    Pemerintah Indonesia Sampaikan 4 Hal Pokok dalam Forum SDGs di Bali

    Pemerintah Indonesia Sampaikan 4 Hal Pokok dalam Forum SDGs di Bali

    Nasional
    TKN Prabowo-Gibran Jadi Komisaris BUMN, Ngabalin: di Mana Masalahnya ?

    TKN Prabowo-Gibran Jadi Komisaris BUMN, Ngabalin: di Mana Masalahnya ?

    Nasional
    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
    komentar di artikel lainnya
    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
    Close Ads
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com