Kompas.com - 31/01/2013, 08:39 WIB
EditorInggried Dwi Wedhaswary

SURABAYA, KOMPAS.com — Rumah keluarga Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Luthfi Hasan Ishaaq di Jalan Moro Tanjek RT 1 RW 7 Kelurahan Purwoasri, Kecamatan Singosari, Jawa Timur, Rabu (30/1/2013) malam sepi. Hanya satu penjaga bernama Mahfud yang berada di rumah besar dengan halaman luas ini. Tak banyak keterangan yang bisa disampaikan oleh Mahfud saat Surya datang ke rumah Luthfi, termasuk mengenai pernyataan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tentang keterlibatan Luthfi dalam kasus dugaan suap impor daging sapi.

"Masa...? Saya tidak tahu. Karena saya belum lihat televisi sama sekali. Saya benar tidak tahu mengenai kabar itu," katanya.

"Kalau mengenai hal itu (Luthfi dikaitkan kasus suap) baiknya yang komentar Pak Nazer, kerabat dari umi Pak Luthfi. Kalau saya tidak tahu apa-apa," lanjut Mahfud.

Mahfud lebih lanjut mengatakan, di rumah tersebut tidak ada aktivitas berarti. Keluarga besar Luthfi jarang datang ke rumah di Purwoasri karena hampir semua aktivitas di Jakarta. "Tapi sekali datang, rumah akan penuh. Banyak orang yang datang. Pak Luthfi terakhir pulang ya sebelum Lebaran Haji. Setelah itu balik ke Jakarta," ucapnya.

Sementara itu, beberapa warga mengaku sudah tahu jika inisial LHI yang dimaksud KPK adalah Luthfi Hasan Ishaaq yang merupakan tetangga mereka. "Waktu lihat televisi, ya langsung menduga kalau itu Pak Luthfi. Karena tahu saya LHI itu Luthfi," kata Masfud, warga sekitar kediaman Luthfi saat ditemui Surya.

Masfud ditemui saat kumpul bersama warga lain di warung kopi yang letaknya hanya sekitar 20 meter dari kediaman Luthfi. "Waktu itu ya nonton televisi di sini bareng yang lain. Saat itu ya langsung ngeh aja," lanjutnya.

Masfud terlihat sama sekali tidak kaget. Nada suara dan wajahnya biasa saja mengenai fakta bahwa tetangganya yang merupakan pejabat partai terlibat suap. "Ya mau apa lagi. Dia mau begitu kami juga tetap begini," ucapnya santai.

"Dan, apa untungnya buat saya atau kami," lanjut Masfud.

Sementara itu, Bagong mengaku tahu Luthfi semasa kecil. "Hanya tahu saja, tidak akrab. Sekolah SD-nya beda. Hanya sesekali aja ketemu," ucapnya.

Bagong tak banyak mengenal Luthfi karena setelah lulus SD, Luthfi pindah dari Purwoasri. Sama dengan Masfud, Bagong sama sekali tidak kaget dan peduli dengan berita Luthfi terkait suap dan akan ditangkap KPK. "Ya mau diapakan lagi," ucapnya enteng.

Berita terkait dapat diikuti dalam topik:
Skandal Suap Impor Daging Sapi

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.