Sanksi FIFA di Depan Mata

Kompas.com - 11/12/2012, 03:33 WIB
Editor

Palangkaraya, Kompas - Sepak bola Indonesia belum bebas dari ancaman sanksi pembekuan FIFA walaupun Kongres Luar Biasa PSSI di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, akhirnya berlangsung hari Senin (10/12). Kongres tertunda 1,5 jam akibat tempat kongres dikunci aparat.

Namun, FIFA (Federasi Asosiasi Sepak Bola Internasional) bisa menilai Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) gagal menyelesaikan konflik karena Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI) menggelar kongres tandingan di Jakarta. Ini fakta teraktual betapa sepak bola Indonesia berada di tepi jurang kehancuran.

Kondisi ini menuntut pengurus PSSI bergerak cepat dan strategis untuk meyakinkan Komite Eksekutif FIFA bahwa konflik bisa segera diselesaikan. PSSI juga perlu dukungan pemerintah untuk tegas mengakui organisasi resmi sebagai induk sepak bola nasional. Jika pemerintah masih mengambang, sanksi FIFA bisa menjadi kenyataan.

”Tentu kami tak akan berhenti di sini. Kami akan berkomunikasi dengan FIFA dan AFC (Konfederasi Sepak Bola Asia) untuk meyakinkan mereka dalam penyelesaian masalah dualisme ini. Kami juga sudah melakukan kongres sesuai dengan statuta seperti yang diingatkan FIFA,” ujar Sekretaris Jenderal PSSI Halim Mahfudz.

Halim menegaskan, FIFA dan AFC hanya fokus pada penyelesaian dualisme liga, bukan kepengurusan. Penyatuan dua liga profesional ini termasuk keputusan Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI di Palangkaraya. Penyatuan liga akan melalui verifikasi pada 2013 dan menjadi satu liga pada 2014 dengan nama baru.

”Kami juga mengimbau supaya pemerintah tegas menentukan siapa yang berhak menggelar kompetisi sesuai dengan Undang-Undang Sistem Keolahragaan Nasional Nomor 3 Tahun 2005 Pasal 52 Ayat 2. Sikap tegas ini penting untuk menghindarkan Indonesia dari sanksi FIFA,” kata Halim.

Pengurus PSSI juga akan berangkat ke Tokyo, Jepang, untuk menjelaskan perkembangan terakhir di Indonesia kepada Komite Eksekutif dan Presiden FIFA Sepp Blatter. PSSI akan memanfaatkan jaringan dan kolega di FIFA dan AFC agar terhindar dari sanksi. Nasib Indonesia akan diputuskan dalam rapat Komite Eksekutif FIFA, 14 Desember. ”Jujur kami tidak tahu apa yang akan diputuskan FIFA, tetapi kami akan berusaha untuk menghindari sanksi. Kami tidak melanggar statuta,” kata Halim.

Selain memutuskan penyatuan liga, KLB PSSI memutuskan revisi statuta dan pengembalian empat anggota Komite Eksekutif PSSI. Keempat anggota Komite Eksekutif itu adalah La Nyalla Mattalitti, Tony Apriliani, Roberto Rouw, dan Erwin Budiawan. ”Dengan syarat mereka harus meminta maaf dan diberi waktu satu bulan,” ujar Halim disambut teriakan ”setuju” dari 86 pemilik suara yang mengikuti KLB.

Proses kongres yang diikuti mayoritas peserta KLB Solo, 9 Juli 2011, itu dipantau wakil dari FIFA, Jeysing Muthiah dan Marco Leal, serta wakil AFC, James Kitching. Keputusan-keputusan kongres dicatat Leal setelah diterjemahkan langsung oleh CEO PT Liga Prima Indonesia Sportindo Widjajanto.

Surat sakti

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.