Kompas.com - 02/12/2012, 19:45 WIB
Penulis Khaerudin
|
EditorRusdi Amral

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemeriksaan pertama tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan simulator berkendara di Korps Lalu Lintas Polri Inspektur Jenderal Djoko Susilo oleh Komisi Pemberantasan Korupsi pada 5 Oktober silam, dibalas dengan upaya menjemput paksa Novel Baswedan, salah satu penyidik KPK oleh sejumlah perwira dari Polda Bengkulu. Apakah kali ini, pemeriksaan Djoko kembali diikuti oleh upaya jemput paksa terhadap Novel?

Saat diperiksa pertama kali sebagai tersangka, Djoko tak ditahan KPK. Djoko usai menjalani pemeriksaan pada pukul 17.30 dan hanya menjawab singkat pertanyaan wartawan ketika itu. Dia langsung masuk ke mobil Range Rover bersama pengacaranya, Hotma Sitompoel, Juniver Girsang dan Tommy Sihotang. Pemeriksaan Djoko memang mengundang perhatian media saat itu, karena inilah kali pertama petinggi kepolisian aktif yang diperiksa sebagai tersangka oleh KPK. Dulu KPK memang pernah menjadikan mantan Kapolri Jenderal (purn) Roesdihardjo sebagai tersangka. Namun pemeriksaan terhadap Roesdihardjo dilakukan setelah yang bersangkutan tak lagi menjabat sebagai duta besar Malaysia ketika itu.

Malam hari setelah pemeriksaan pertama Djoko, sekitar pukul 21.30, datang sejumlah perwira menengah dari Polda Bengkulu yang dipimpin oleh Direktur Reserse Kriminal Umum Komisaris Besar Dedy Irianto bersama sejumlah perwira dari Polda Metro ke KPK. Mereka berniat menjemput paksa Novel, penyidik KPK yang memang bertugas di kasus korupsi pengadaan simulator. Novel ditetapkan sebagai tersangka kasus penganiayaan berat terhadap pencuri burung walet, saat dia masih bertugas sebagai Kasatreskrim di Polres Bengkulu, delapan tahun silam.

Entah kenapa dugaan tindak pidana delapan tahun silam tersebut baru diungkapkan saat itu. Memang polisi dari Polda Bengkulu dan Polda Metro Jaya ini akhirnya gagal menjemput paksa Novel karena ribuan masyarakat berdatangan ke KPK malam itu. Mereka bertahan hingga pagi hari.

Masyarakat membela KPK yang mereka nilai tengah dilemahkan karena mengusut kasus korupsi petinggi Polri. Aksi masyarakat membela KPK ini akhirnya mengundang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk turun tangan langsung. Presiden memerintahkan Polri menyerahkan kasus korupsi pengadaan simulator ke KPK, setelah sebelumnya Polri juga bersikukuh ikut menangani kasus ini.

Terhadap Novel, Presiden juga menilai tindakan Polri tak tepat waktunya. Besok, KPK kembali memeriksa Djoko. Apakah langkah KPK ini akan kembali diikuti penjemputan paksa terhadap Novel, mengingat dia masih ditetapkan sebagai tersangka oleh Polri? Kita tunggu besok!

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Benny Mamoto Bantah Tudingan Dapat Imbalan dari Sambo: Tak Ada 'Deal' Apa Pun

Benny Mamoto Bantah Tudingan Dapat Imbalan dari Sambo: Tak Ada "Deal" Apa Pun

Nasional
Ancang-ancang Prabowo Subianto Menuju Pintu Pilpres 2024...

Ancang-ancang Prabowo Subianto Menuju Pintu Pilpres 2024...

Nasional
[POPULER NASIONAL] Motif Ferdy Sambo Bunuh Brigadir J | Mahfud MD Sebut Negara Bisa Hancur Jika Kasus Brigadir J Tak Terbuka

[POPULER NASIONAL] Motif Ferdy Sambo Bunuh Brigadir J | Mahfud MD Sebut Negara Bisa Hancur Jika Kasus Brigadir J Tak Terbuka

Nasional
31 Polisi Langgar Etik Terkait Kasus Brigadir J Dinilai Bisa Dipidana

31 Polisi Langgar Etik Terkait Kasus Brigadir J Dinilai Bisa Dipidana

Nasional
Benny Mamoto Minta Maaf atas Kegaduhan akibat Pernyataannya di Awal Kasus Brigadir J

Benny Mamoto Minta Maaf atas Kegaduhan akibat Pernyataannya di Awal Kasus Brigadir J

Nasional
Satgassus Merah Putih: Pernah Dipimpin Ferdy Sambo, Dibubarkan Kapolri

Satgassus Merah Putih: Pernah Dipimpin Ferdy Sambo, Dibubarkan Kapolri

Nasional
Pesan Jokowi Waspadai Krisis Pangan dan Peta Jalan Bahan Pengganti

Pesan Jokowi Waspadai Krisis Pangan dan Peta Jalan Bahan Pengganti

Nasional
Berkas Partai Kedaulatan Rakyat Belum Lengkap

Berkas Partai Kedaulatan Rakyat Belum Lengkap

Nasional
Bentuk Kerja Sama Antara Eksekutif dan Legislatif

Bentuk Kerja Sama Antara Eksekutif dan Legislatif

Nasional
Tanggal 13 Agustus Hari Memperingati Apa?

Tanggal 13 Agustus Hari Memperingati Apa?

Nasional
Mendag dan Mentan Beda Pendapat soal Harga Mi Instan, Anggota DPR: Jangan Buat Panik Masyarakat

Mendag dan Mentan Beda Pendapat soal Harga Mi Instan, Anggota DPR: Jangan Buat Panik Masyarakat

Nasional
Dukung Ratu Kalinyamat Dapat Gelar Nasional, Megawati Ingatkan Indonesia Punya Banyak Perempuan Pemberani

Dukung Ratu Kalinyamat Dapat Gelar Nasional, Megawati Ingatkan Indonesia Punya Banyak Perempuan Pemberani

Nasional
Eks Pejabat Adhi Karya Divonis Lebih Berat dari Tuntutan, Hakim: Terdakwa Tak Akui Perbuatannya

Eks Pejabat Adhi Karya Divonis Lebih Berat dari Tuntutan, Hakim: Terdakwa Tak Akui Perbuatannya

Nasional
KemenPPPA Harap Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pemerkosaan dan Penyekapan di Pati

KemenPPPA Harap Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pemerkosaan dan Penyekapan di Pati

Nasional
KPK Laporkan Telah Selamatkan Aset Negara Senilai Rp 26,16 Triliun Pada Semester Pertama 2022

KPK Laporkan Telah Selamatkan Aset Negara Senilai Rp 26,16 Triliun Pada Semester Pertama 2022

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.