Sidang Penuh Gangguan

Kompas.com - 24/11/2012, 02:36 WIB
Editor

"Ini sedang sidang, bisa dihentikan dulu enggak?” kata Ketua Majelis Hakim Sujatmiko kepada beberapa tukang yang sedang bekerja di ruang sebelah ketika memimpin sidang dengan terdakwa Angelina Sondakh di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Kamis (22/11).

Para tukang yang sedang menyelesaikan perbaikan ruang sidang itu menimbulkan suara gaduh. Pengadilan Tipikor mendapat jatah dua ruangan yang berada di lantai 1 dan lantai 2. Kini, dua lantai tersebut sedang porak-poranda karena sedang direnovasi.

Teguran itu disampaikan langsung saat sidang. Suara berisik berhenti, tetapi beberapa jam kemudian terdengar lagi. Suara gaduh memang selalu menyertai suara latar persidangan. Bukan hanya gaduh, hakim Pangeran Napitupulu juga mengeluhkan debu yang mengganggu, selain juga ruangan panas karena pendingin tak bekerja.

Tak jarang, tukang dengan pakaian compang-camping nyelonong ke ruang sidang. ”Saya kaget, dua orang tiba-tiba masuk, mereka langsung berdiskusi berdua membelakangi majelis hakim. Ternyata dua orang itu tukang yang akan mendesain dinding,” kata seorang wartawan terkekeh-kekeh.

Suasana di luar persidangan lebih kacau lagi. Gaduh, berantakan, antara terdakwa, keluarga terdakwa, pengacara, penasihat hukum, bahkan terdakwa dari kasus lain, berbaur bersama. Mereka ”gaul bareng” dengan tukang yang sedang bekerja.

Anggota DPR dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera, Tamsil Linrung, sempat bingung ketika dipanggil menjadi saksi. ”Wah, enggak ada tempat duduknya, gimana nih?” katanya.

Tamsil waktu itu dipanggil sebagai saksi pada persidangan Fahd el Fouz, pengusaha yang menyuap Wa Ode Nurhayati. Tamsil harus berdiri menunggu. Hanya berjarak 2 meter, Wa Ode lebih beruntung karena datang lebih dulu. Dapat tempat duduk di belakang meja penerima tamu.

Di dalam ruangan, sambil menunggu sidang yang belum mulai, terdakwa Fahd duduk di dekat pintu masuk. Para wartawan sempat memanggil Fahd agar mau bergabung dengan Tamsil dan Wa Ode. ”Ke sini, foto bareng,” teriak para fotografer kepada Fahd dan Wa Ode.

Ketika sidang Fahd mulai, saat Tamsil belum mendapat giliran bersaksi, dia terpaksa duduk di kursi pengunjung. Namun, majelis hakim melarangnya dan memintanya keluar. Maka, bingunglah Tamsil mencari duduk.

Pengadilan Tipikor juga masih bergulat dengan fasilitas mendasar. ”Wah, enggak ada toiletnya. Ada tapi jorok, toilet di terminal pun kalah,” celetuk pengunjung.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.