Kompas.com - 19/11/2012, 22:17 WIB
|
EditorLaksono Hari W

JAKARTA, KOMPAS.com - Hatta Rajasa dan Jusuf Kalla mengungguli calon presiden dari Partai Golkar Aburizal "Ical" Barkrie jika pemilihan presiden diadakan sekarang. Hal itu disampaikan Direktur data Indonesia Network Election Survey (INES) Sudrajat Sacawitra saat menyampaikan hasil perolehan survei capres etnik non-Jawa.

"Selain ketiga nama itu, juga ada Surya Paloh, Yusril (Ihza Mahendra) dan Puan (Maharani) yang menduduki enam besar. Puan masuk capres non-Jawa karena ayahnya (Taufik Kiemas) adalah non-Jawa," kata Sudrajat di Galeri Cafe TIM,Jakarta, Senin (19/11/2012).

Menurut Sudrajat, Ketua Majelis Nasional Partai Nasional Demokrat Surya Paloh mendapatkan dukungan sebesar 10,9 persen. Mantan Menteri Kehakiman Yusril Ihza Mahendra mengantongi 3,4 persen dan Puan Maharani Kiemas 3,3 persen. Di luar ketiga nama itu, ada politikus senior partai Golkar Akbar Tanjung mendapatkan 3,1 persen.

"Nama yang muncul setelah itu ada Ketua DPR Marzuki Alie (2,8 persen), Mendagi Gamawan Fauzi (2,7 persen), mantan Ketua MK Jimly Asiddiqie, dan Ketua DPD Irman Gusman memperoleh hasil yang sama (2,6 persen), dan Wakil Gubernur Jakarta Basuki atau Ahok (1,2 persen)," ujarnya.

Sudrajat menambahkan, responden survei lebih memilih isu primodialisme. Sebanyak 56,2 persen responden, lanjutnya, menghendaki perpaduan pasangan Jawa dan di luar Jawa. Responden yang berharap capres dari etnis Jawa sebesar 59,3 persen.

Hasil survei yang dilakukan pada 5-21 Oktober 2012 ini memiliki ambang kesalahan sebesar kurang lebih 2,5 persen dan tingkat kepercayaan 98 persen. Jumlah sampel asli secara acak sebanyak 6.000 responden, tetapi yang dapat dianalisis sebanyak 5.996 responden. Persentase dari responden perempuan dan laki-laki adalah 50:50.

Politikus senior Golkar, Rully Chairul Azwar, mengaku terkejut dengan elektabilitas Hatta Rajasa dalam survei INES tersebut. Ia menengarai, lonjakan Hatta karena yang bersangkutan populis di kalangan Islam. Ical sendiri, kata Rully, adalah figur sekuler yang dapat mengakomodir semua golongan.

"Pak Ical mampu bertahan dari krisis. Itu membuktikan, Pak Ical tidak terpengaruh dari hasil Hatta ini. Program dari pemenangan Pak Ical dalam pilpres tetap akan jalan," kata Rully.

Menurut Rully, isu primodialisme tidak seharusnya dilanjutkan. Ia berpendapat, responden seharusnya memilih berdasarkan kualitas dan kuantitas, bukan primodialisme. Media memiliki peran besar untuk mengikis primodialisme tersebut.

Di lain pihak, Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi DPP PAN Bima Arya Sugiarto menyatakan, ini pertama kalinya elektabilitas Hatta diposisikan di atas JK dan Ical. Menurutnya, ada lima faktor yang menyebabkan elektabilitas Hatta di atas JK dan Ical.

Faktor pertama, responden melihat capres yang bersih sebab rekam jejak Hatta termasuk minim kontroversi. Faktor kedua menyangkut pengalaman karena Hatta telah empat kali menjabat menteri, sekjen partai, dan besan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Faktor ketiga menyangkut aksesibilitas Hatta di kalangan nasionalis sebab Hatta dapat diterima di semua pihak. "Pak Hatta bisa masuk ke mana saja, bisa ke Pak Ical dan Bu Mega, dan representasi Islam juga masuk," katanya.

Faktor keempat terkait kinerja ekonomi nasional tergolong baik di bawah tanggung jawab Hatta sebagai Menteri Koordinator Perekonomian. Terakhir, Hatta belum pernah bertarung dalam pilpres. "Pak Hatta itu new comer, layak diberi kesempatan jika melihat lima faktor tadi," ujarnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    Mahfud Minta Semua Pihak Tunggu Proses Hukum Terkait Kasus Proyek Satelit Militer Kemenhan

    Mahfud Minta Semua Pihak Tunggu Proses Hukum Terkait Kasus Proyek Satelit Militer Kemenhan

    Nasional
    Azis Syamsuddin Berkelit Saat Ditanya soal Dakwaan Jaksa

    Azis Syamsuddin Berkelit Saat Ditanya soal Dakwaan Jaksa

    Nasional
    Gibran-Kaesang Dilaporkan ke KPK, PDI-P Duga Ubedilah Badrun Terkait Parpol

    Gibran-Kaesang Dilaporkan ke KPK, PDI-P Duga Ubedilah Badrun Terkait Parpol

    Nasional
    KPK Dalami Aliran Uang Wali Kota Rahmat Effendi dari Dana Potongan Pegawai

    KPK Dalami Aliran Uang Wali Kota Rahmat Effendi dari Dana Potongan Pegawai

    Nasional
    Panglima TNI Beri Sinyal Pangkostrad Baru Diisi Jenderal Bintang Dua

    Panglima TNI Beri Sinyal Pangkostrad Baru Diisi Jenderal Bintang Dua

    Nasional
    KPK Dalami Arahan Rahmat Effendi Terkait Sejumlah Proyek di Bekasi

    KPK Dalami Arahan Rahmat Effendi Terkait Sejumlah Proyek di Bekasi

    Nasional
    Perbakin Laporkan Persiapan Pertandingan Internasional Menembak ke Presiden

    Perbakin Laporkan Persiapan Pertandingan Internasional Menembak ke Presiden

    Nasional
    Pakar: Dengan Undang 'Nidji', Anies Sindir Balik Giring

    Pakar: Dengan Undang "Nidji", Anies Sindir Balik Giring

    Nasional
    Keberatan Diinterupsi Jaksa, Munarman: Saya Ini Terancam Hukuman Mati!

    Keberatan Diinterupsi Jaksa, Munarman: Saya Ini Terancam Hukuman Mati!

    Nasional
    Dari Ahok sampai Azwar Anas Calon Pemimpin Ibu Kota Baru 'Nusantara', Siapa yang Dipilih Jokowi?

    Dari Ahok sampai Azwar Anas Calon Pemimpin Ibu Kota Baru "Nusantara", Siapa yang Dipilih Jokowi?

    Nasional
    Menko PMK: Kasus Covid-19 Selama Natal-Tahun Baru Terkendali

    Menko PMK: Kasus Covid-19 Selama Natal-Tahun Baru Terkendali

    Nasional
    Mengulik Ibu Kota Negara Baru 'Nusantara', Smart City yang Bakal Habiskan Rp 501 Triliun

    Mengulik Ibu Kota Negara Baru "Nusantara", Smart City yang Bakal Habiskan Rp 501 Triliun

    Nasional
    Azis Syamsuddin Tantang Jaksa Tunjukkan Mutasi Rekening

    Azis Syamsuddin Tantang Jaksa Tunjukkan Mutasi Rekening

    Nasional
    KPK Geledah Kantor Bupati Penajam Paser Utara

    KPK Geledah Kantor Bupati Penajam Paser Utara

    Nasional
    Satu Polisi Terluka Ditembak KKB di Distrik Kiwirok Papua

    Satu Polisi Terluka Ditembak KKB di Distrik Kiwirok Papua

    Nasional
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.