Kompas.com - 15/11/2012, 08:14 WIB
|
EditorHindra

T: Dari kandidat-kandidat itu, mana calon yang paling berat?
J: Saya belum bisa berkata begitu karena ini baru wacana, kecuali sudah resmi menjadi calon presiden, saya baru bisa bicara lebih lanjut. Saya rasa, semua pantas dan mampu untuk jadi presiden. Hanya pada akhirnya presiden itu takdir, pada akhirnya. Allahlah yang memberi kekuasaan dan mencabut kekuasaan itu. Ujung-ujungnya takdir juga.

T: Ada yang bilang menjadi capres itu harus mahal. Bagaimana tanggapan Anda?
J: Ya, itu untuk capres yang berambisi, saya kan tidak berambisi, maka sepersen pun saya tidak akan keluarkan uang apa lagi miliaran. Kalau sepersen pun ada (uang), saya berarti berambisi.

T: Bagaimana dengan seni budaya Indonesia jika Anda maju sebagai capres?
J: Saya belum mau bicara ke arah situ. Ini karena saya baru menyatakan siap menjadi capres. Setelah itu baru kalau ada partai politik, dan dipastikan maju sebagai capres baru bisa bicara lebih lanjut dalam kapasitas sebagai capres. Saya belum jadi capres, jadi terlalu jauh kalau saya bicara itu.

T: Bagaimana Anda melihat praktik korupsi di negeri ini?
J: Ini semua bersarang pada akhlak. Kenapa ada tawuran, hujatan, anarkisme karena tidak ada akhlak karena kita tidak konsisten, tidak komit yang berkekuatan dan berketuhanan.

T: Terkait ormas-ormas Islam yang kerap melakukan kekerasan? Apa tanggapan Bang Rhoma?
J: Ketika Islam berusaha mencegah kemungkaran, Islam mendapat label intoleran. Agama apa pun tidak boleh toleran terhadap kemaksiatan. Ketika kita berusaha menegakkan akidah, dituduh tidak pluralis. Kalau tuduhan amar makruf nahi mungkar disebut intoleran, berarti mereka (masyarakat) ingin adanya kemungkaran itu eksis.

T: Jadi, kalau jadi capres, bagaimana Anda membawa ormas Islam agar tidak dicap kekerasan?
J: Kekerasan yang mana? Apakah mencegah kemungkaran itu keras? Agama mana yang tidak melarang kemungkaran? Agama mana yang tidak melarang perzinahan? Agama mana yang tidak melarang perjudian? Itu semua kemungkaran yang harus dilawan, diberantas. Ketika umat Islam berantas itu, umat Islam disebut intoleran. Ini yang harus diluruskan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

T: Ada candaan kalau Anda maju jadi capres, lalu Anda sebagai pelantun lagu "Begadang" jangan-jangan yang pada begadang akan ditangkapi semua? Ini bagaimana?
J: Hahaha itu joking, tidak usah ditanggapi. Tetapi, jangan sekali-kali menghina musik dangdut, jangan sekali-kali menghina musik Rhoma Irama karena musik Rhoma itu diteliti di ratusan universitas di seluruh dunia. Coba konfirmasi ke profesor musik di University of Pittsbrugh.

T: Banyak pihak yang sangsi sosok selebriti bisa menjadi capres. Bagaimana Anda menjawab keragu-raguan ini?
J: Selebriti kan boleh-boleh saja mencalonkan diri. Banyak kok contoh-contohnya. Itu sekarang cagub di Jawa Barat kan artis semua. Mereka artis, tetapi mereka berhasil bangun Jabar, bangun Banten. Jadi status keartisan saya sama sekali tidak ada kaitannya dengan kemampuan saya memimpin.

T: Keluarga mendukung pencalonan sebagai capres ini?
J: Keluarga saya ini sudah biasa mendampingi saya bertarung, berjuang melawan arus sejak dari tahun 1977, ketika berkiprah di PPP karena sangat tidak popupler saat itu sehingga muncul berbagai aksi dan teror. Jadi, keluarga ya mendukung.

Baca juga:
Rhoma Irama Bicara Soal Pesaingnya Jadi Capres
Rhoma Irama Menunggu Pinangan Parpol
Rhoma Irama Fenomenal, Tak Bisa Diremehkan
Rhoma Irama: Visi Misi Saya Lagu Dangdut

Maju Jadi Capres, Rhoma Irama Siap Dihujat

Berita terkait wacana pencapresan Rhoma bisa diikuti dalam topik:
Geliat Politik Jelang 2014

 

 

 

Halaman:
Baca tentang


    26th

    Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    Presiden Jokowi Dijadwalkan Hadir secara Virtual dalam Covid-19 Summit Malam Ini

    Presiden Jokowi Dijadwalkan Hadir secara Virtual dalam Covid-19 Summit Malam Ini

    Nasional
    Aplikasi PeduliLindungi Digunakan untuk Skrining PON XX

    Aplikasi PeduliLindungi Digunakan untuk Skrining PON XX

    Nasional
    HQR Code Sertifikat Vaksin Tak Terbaca di Saudi, Kemenkes: Masih Proses Integrasi

    HQR Code Sertifikat Vaksin Tak Terbaca di Saudi, Kemenkes: Masih Proses Integrasi

    Nasional
    Laporkan Haris Azhar dan Fatia, Luhut: Kebebasan Berpendapat Harus Beretika

    Laporkan Haris Azhar dan Fatia, Luhut: Kebebasan Berpendapat Harus Beretika

    Nasional
    Anggota Komisi I Minta Kemenkominfo Segera Tutup Konten Penghinaan Agama dan Ras di Internet

    Anggota Komisi I Minta Kemenkominfo Segera Tutup Konten Penghinaan Agama dan Ras di Internet

    Nasional
    Laporkan Haris dan Fatia atas Dugaan Pencemaran Nama Baik, Luhut Dinilai Tak Beritikad Baik

    Laporkan Haris dan Fatia atas Dugaan Pencemaran Nama Baik, Luhut Dinilai Tak Beritikad Baik

    Nasional
    Haris Azhar Dilaporkan Luhut, Kuasa Hukum: Klien Kami Akan Selalu Bersikap Ksatria

    Haris Azhar Dilaporkan Luhut, Kuasa Hukum: Klien Kami Akan Selalu Bersikap Ksatria

    Nasional
    KJRI: Booster Vaksin Covid-19 Jadi Syarat Mutlak Masuk Arab Saudi

    KJRI: Booster Vaksin Covid-19 Jadi Syarat Mutlak Masuk Arab Saudi

    Nasional
    Jokowi Sebut TWK Tak Boleh Merugikan, tetapi 56 Pegawai KPK Dipecat Tanpa Pesangon

    Jokowi Sebut TWK Tak Boleh Merugikan, tetapi 56 Pegawai KPK Dipecat Tanpa Pesangon

    Nasional
    Politisi PDI-P Sebut Ada Pihak yang Dorong RI Gabung AUKUS Terkait Laut China Selatan

    Politisi PDI-P Sebut Ada Pihak yang Dorong RI Gabung AUKUS Terkait Laut China Selatan

    Nasional
    Kuasa Hukum Sesalkan Langkah Luhut Laporkan Haris Azhar dan Fatia ke Polisi

    Kuasa Hukum Sesalkan Langkah Luhut Laporkan Haris Azhar dan Fatia ke Polisi

    Nasional
    Hasil Survei: Ada 12,3 Responden Tak Puas dengan Proses Vaksinasi, Paling Banyak Keluhkan Antrean

    Hasil Survei: Ada 12,3 Responden Tak Puas dengan Proses Vaksinasi, Paling Banyak Keluhkan Antrean

    Nasional
    Jokowi: Banyak Konflik Agraria Berlangsung Sangat Lama, 40 Tahun Tak Selesai

    Jokowi: Banyak Konflik Agraria Berlangsung Sangat Lama, 40 Tahun Tak Selesai

    Nasional
    Jokowi: Vaksin dan Protokol Kesehatan Jadi Kunci Pengendalian Covid-19

    Jokowi: Vaksin dan Protokol Kesehatan Jadi Kunci Pengendalian Covid-19

    Nasional
    Hasil Survei: 2,3 Persen Responden Dapat Vaksin Booster, 0,2 Persen Bukan Nakes

    Hasil Survei: 2,3 Persen Responden Dapat Vaksin Booster, 0,2 Persen Bukan Nakes

    Nasional
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.