Kompas.com - 06/11/2012, 18:05 WIB
Penulis Sandro Gatra
|
EditorTri Wahono

JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didesak meminta maaf atas sikapnya memberikan grasi kepada narapidana kasus narkotika yang dinilai tidak layak menerima hak konstitusi Presiden itu. Presiden dinilai teledor dan mengobral grasi.

"SBY sepatutnya meminta maaf kepada rakyat Indonesia karena telah teledor mengobral grasi," kata anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera Indra melalui pesan singkat, Selasa (6/11/2012).

Indra menyikapi penerima grasi Meirika Franola alias Ola (42) diduga menjadi otak penyelundupan sabu 775 gram dari India ke Indonesia. Sabu itu dibawa oleh kurir, NA (40), dengan menumpang pesawat. NA, yang seorang ibu rumah tangga, ditangkap Badan Narkotika Nasional di Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat, 4 Oktober lalu.

Indra mengecam pemberian grasi kepada Ola maupun gembong narkotika lainnya. Apapun alasannya, kata dia, seharusnya tidak boleh ada kompromi kepada para bandar narkoba.

Kebijakan pemerintah yang lunak dan berkompromi dengan bandar narkoba, tambah Indra, berdampak luas, yakni semakin maraknya peredaran narkoba di Indonesia. Tidak ada efek jera kepada para bandar.

Indra menambahkan, Ola harus diproses dengan kasus barunya itu. Jika terbukti di persidangan, Ola sangat layak untuk dihukum mati. "Ketika nanti Ola kembali dijatuhkan hukuman mati, SBY jangan coba-coba kembali memberikan grasi," kata dia.

Seperti diberitakan, keterlibatan Ola diungkapkan Kepala BNN Jawa Barat Anang Pratanto. Saat ditangkap, NA baru tiba dari India dengan membawa tas punggung yang di dalamnya diselipkan sabu seberat 775 gram. "NA dikendalikan oleh Ola, napi kasus narkoba, yang belum lama ini memperoleh grasi," kata Anang.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pada Agustus 2000, Ola bersama dua sepupunya, Deni Setia Maharwa alias Rafi Muhammed Majid dan Rani Andriani, divonis hukuman mati. Mereka terbukti bersalah menyelundupkan 3,5 kilogram heroin dan 3 kg kokain melalui Bandara Soekarno-Hatta ke London, 12 Januari 2000 .

Belum lama ini, Ola yang mendekam di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Wanita Tangerang memperoleh grasi sehingga vonis hukuman mati yang harus dijalaninya diringankan menjadi hukuman seumur hidup. Grasi ini juga diperoleh Deni.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    Tindak Lanjuti Laporan soal Fadli Zon, MKD Bakal Gelar Rapat Pleno

    Tindak Lanjuti Laporan soal Fadli Zon, MKD Bakal Gelar Rapat Pleno

    Nasional
    UPDATE 8 Desember: 378.197 Spesimen Diperiksa dalam Sehari, Positivity Rate dengan PCR 0,09 Persen

    UPDATE 8 Desember: 378.197 Spesimen Diperiksa dalam Sehari, Positivity Rate dengan PCR 0,09 Persen

    Nasional
    UPDATE 8 Desember: Sebaran 264 Kasus Baru Covid-19, Tertinggi di Jabar

    UPDATE 8 Desember: Sebaran 264 Kasus Baru Covid-19, Tertinggi di Jabar

    Nasional
    Eijkman: Belum Ada Laboratorium WGS yang Laporkan Varian Omicron

    Eijkman: Belum Ada Laboratorium WGS yang Laporkan Varian Omicron

    Nasional
    KSP: 4 Orang di Kabupaten Bekasi Terinfeksi Varian Delta, Bukan Omicron

    KSP: 4 Orang di Kabupaten Bekasi Terinfeksi Varian Delta, Bukan Omicron

    Nasional
    UPDATE 8 Desember: Ada 5.861 Suspek Terkait Covid-19 di Indonesia

    UPDATE 8 Desember: Ada 5.861 Suspek Terkait Covid-19 di Indonesia

    Nasional
    UPDATE 8 Desember: Bertambah 351, Kasus Sembuh Covid-19 Jadi 4.109.068

    UPDATE 8 Desember: Bertambah 351, Kasus Sembuh Covid-19 Jadi 4.109.068

    Nasional
    UPDATE 8 Desember: Ada 5.363 Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia

    UPDATE 8 Desember: Ada 5.363 Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia

    Nasional
    UPDATE 8 Desember 2021: Bertambah 16, Pasien Covid-19 yang Meninggal Dunia Kini 143.909

    UPDATE 8 Desember 2021: Bertambah 16, Pasien Covid-19 yang Meninggal Dunia Kini 143.909

    Nasional
    UPDATE: Bertambah 264, Kasus Covid-19 di Indonesia Capai 4.258.340

    UPDATE: Bertambah 264, Kasus Covid-19 di Indonesia Capai 4.258.340

    Nasional
    Kata Farmalab soal Kabar Varian Corona Omicron Terdeteksi di Kabupaten Bekasi

    Kata Farmalab soal Kabar Varian Corona Omicron Terdeteksi di Kabupaten Bekasi

    Nasional
    Baleg Setujui Draf RUU TPKS, Ketua Panja: Kita Punya Satu Etape Lagi

    Baleg Setujui Draf RUU TPKS, Ketua Panja: Kita Punya Satu Etape Lagi

    Nasional
    Optimalkan Pendapatan Daerah, KPK Dukung Pemkab Manggarai Barat Tertibkan Aset Bermasalah

    Optimalkan Pendapatan Daerah, KPK Dukung Pemkab Manggarai Barat Tertibkan Aset Bermasalah

    Nasional
    Pasca-putusan Uji Formil UU Cipta Kerja, Hak Konstitusional Pemohon Dinilai Masih Berpotensi Dilanggar

    Pasca-putusan Uji Formil UU Cipta Kerja, Hak Konstitusional Pemohon Dinilai Masih Berpotensi Dilanggar

    Nasional
    Perbaikan UU Cipta Kerja Dikhawatirkan Hanya Parsial pada Proses Pembentukan

    Perbaikan UU Cipta Kerja Dikhawatirkan Hanya Parsial pada Proses Pembentukan

    Nasional
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.