Wabah Bisu Pencetus Bunuh Diri

Kompas.com - 08/10/2012, 10:04 WIB
EditorLusia Kus Anna

JAKARTA, KOMPAS — Gangguan depresi baik di tingkat internasional maupun nasional kini sudah menjadi suatu wabah bisu alias silent epidemics. Posisinya sebagai beban penyakit global, pada 2020, bakal menempati peringkat kedua di bawah penyakit jantung koroner. Namun, di Indonesia, baik pemerintah maupun masyarakat, justru abai dan lalai dalam menghadapi calon krisis nasional ini.

Manifestasi depresi di masyarakat antara lain bunuh diri, tawuran, dan menurunnya produktivitas akibat tingginya tingkat mangkir kerja. Tawuran antarpelajar atau antarmahasiswa di Jakarta hingga Makassar sempat menyita perhatian, tetapi kini tergeser berita perseteruan Komisi Pemberantasan Korupsi dan Polri.

”Maraknya kasus bunuh diri, tawuran, kekerasan dalam rumah tangga, kesurupan, trauma akibat bencana, hingga meluasnya penggunaan narkoba sebagai coping mechanism untuk pelarian dari tekanan jiwa menunjukkan depresi individual maupun massal serta yang terselubung makin serius di Indonesia. Manifestasinya, makin banyak orang yang mudah tersinggung, mengamuk, dan kian agresif, atau sebaliknya, menjadi mudah menyerah dan mengambil jalan pintas dengan bunuh diri,” kata Nalini Muhdi, psikiater sosial Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya.

Nalini mengatakan, jika tidak diantisipasi dan tidak ditangani dengan serius, depresi akan menjadi beban pemerintah dan masyarakat. Masyarakat harus waspada terhadap tanda-tanda dini depresi yang dapat menjangkiti siapa saja dari yang berusia muda hingga orang lanjut usia.


Saat ini, diperkirakan 350 juta orang di seluruh dunia terjangkit depresi yang telah menjadi penyakit tidak menular global serius. Karena itu, sangatlah tepat jika Federasi Dunia untuk Kesehatan Mental (WFMH) menentukan tema Hari Kesehatan Jiwa Sedunia, Rabu (10/10/2012), adalah ”Depresi: Suatu Krisis Global”.

Belum diperhatikan

Guru Besar Psikologi Universitas Katolik Atma Jaya, Jakarta, Irwanto, mengatakan, tawuran, tingginya konflik, agresivitas di jalan raya, dan bunuh diri merupakan indikator sosial adanya gejala gangguan pada jiwa dalam keluasan spektrumnya, tetapi belum mendapat perhatian memadai. ”Orang yang mengalami gangguan emosional cepat mengambil tindakan kekerasan. Hal itu memicu gangguan kecemasan dan menjadi tanda awal depresi yang dapat menjadi keadaan patologis jika berlanjut,” katanya, pekan lalu.

Pendapat senada dikemukakan psikiater komunitas Fakultas Kedokteran UI/RSCM, Suryo Darmono. Menurut dia, depresi sebenarnya sudah menjadi masalah kesehatan nasional. Baik Irwanto maupun Suryo merujuk hasil Riset Kesehatan Dasar 2007 yang menyebutkan, di Indonesia, prevalensi gangguan mental emosional pada penduduk berumur 15 tahun ke atas 11,6 persen. Paling tinggi di Provinsi Jawa Barat (20 persen) dan terendah di Kepulauan Riau (5,1 persen).

Gangguan mental emosional itu terutama adalah kecemasan (anxiety) dan depresi (umumnya unipolar karena ada pula depresi yang bipolar yang dikategorikan dalam gangguan jiwa berat seperti skizofrenia). Menurut Suryo, prevalensi depresi global berkisar 5-10 persen dan angka di Indonesia tak jauh berbeda.

Depresi pada dasarnya bersifat individual. Namun, individu depresi yang bergaul dengan individu lain—baik yang depresi maupun tidak—dapat ”menularkan” suasana kejiwaan yang kelam dan buruk sehingga depresi meluas menjadi depresi massal. ”Prevalensi 5-10 persen itu sudah besar dan sudah bisa menjadi masalah masyarakat,” kata Suryo.

Sayangnya, hingga kini, belum ada program khusus bagi penanganan depresi. Program kesehatan yang dekat masyarakat, seperti puskesmas, tidak memasukkan kesehatan jiwa sebagai satu dari enam program pokoknya. Padahal, depresi sangat berpengaruh terhadap produktivitas.

Halaman:


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X