BENTARA DAN GAYA HIDUP Slenco

Kompas.com - 01/10/2012, 01:59 WIB
EditorJodhi Yudono

Putu Fajar Arcana

”Slenco” sudah menjadi gaya hidup. Fenomena ”tulalit” alias ”tidak nyambung” itu bahkan di sana-sini menjadi ideologi karena secara sengaja ”dipeluk” dengan berbagai maksud. Akibatnya, banyak soal bangsa terbengkalai, banyak kasus tidak tuntas, dan korupsi seperti virus tak terberantas.

Perupa Sinik melukiskan seorang tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan tangan terborgol dari arah punggung. Yang menarik, Sinik memberi tajuk karyanya ”Lifestyle” (2012). Karya ini menjadi satu karya yang dipamerkan dalam pameran bertajuk ”Slenco”, 26 September-2 Oktober 2012, dalam rangka 30 Tahun Bentara Budaya di Bentara Budaya Jakarta (BBJ). Sungguh menarik cara lembaga kebudayaan ini merayakan ulang tahun dengan memberi tema slenco kepada para perupa. Tema ini kemudian menggiring para perupa untuk mencermati fenomena diri, sosial, politik, dan kebudayaan di sekitar mereka.

”Lifestyle” karya Sinik lebih berupa sinisme ketimbang protes, apalagi teriakan antikorupsi. Sindhunata, penggagas pameran ini, punya silogisme menarik. Coba saja baju tahanan KPK dengan tangan yang diborgol itu diiklankan, niscaya dalam sekejap ia akan menjadi bagian dari gaya hidup. Masih untung jika banyak orang urban kemudian meniru pakaian dan borgolnya. Yang celaka, jika karakter korup itu terwariskan. Itulah slenco. Satu jagat walikan atau sungsang sebagaimana dilukiskan oleh Wayan Kun Adnyana.

Sungsang berarti segala sesuatunya serba terbalik. Kun memang secara verbalistik melukiskan sosok seorang lelaki telanjang dada dengan kepala bertopeng sedang berdiri terbalik. Sementara kedua kaki (yang jadi tangan) terborgol, tetapi api tetap menyala dari satu kakinya. Begitukah kehidupan di negeri kita ini sekarang?

Coba saja kita cocokkan dengan realitas yang ada di sekeliling kita. Mana ada di negeri lain seorang tahanan KPK berdandan bak putri, bahkan ada yang sampai membawa meja rias serta gantungan pakaian-pakaiannya ke dalam sel. Bukankah itu slenco, Saudara? Segalanya serba terbalik-balik, sungsang….

Korupsi

Korupsi mungkin tidak sebatas fenomena yang terlihat di layar televisi. Tindakan korup itu sudah dimulai dari hal sehari-hari. Bisa disimak, misalnya, karya AS Kurnia berjudul ”Indongaret”. Dengan sangat sinis Kurnia membuat setruk dari sebuah supermarket Indongaret di Jalan Macet 69X Ubud dengan Kassa AS Kurnia. Harga Apel Malang 1 KG 24.450, Apel Washington 22.950, Sayur Banggar 250 GR 18.950, Ham Balang 1 KG 88.000. Demikian seterusnya, sampai akhirnya kembaliannya sebesar 17.089 diberikan dalam bentuk permen. Tindakan mengganti uang kembalian dengan permen tanpa terasa menjadi tindakan sepihak yang mengorup hak orang lain.

Watak korup itu seolah dipertegas dalam karya Dede Eri Supria bertajuk ”Sikat-Abiss”. Dede melukiskan seorang badut dengan perut dari balon yang hendak memakan badut lain yang lebih kecil. Badut rakus itu tidak peduli di sekelilingnya penuh dengan kardus-kardus bekas. Begitulah selalu kerakusan, yang penting perut makin menggelembung tak peduli di sekeliling kita penuh kemiskinan.

Slenco juga berarti seolah-olah menyerap aspirasi tetapi sesungguhnya tidak mendengarkan. Karya berjudul ”Nyaris tak Terdengar” dari Susilo Budi Purwanto boleh jadi mewakili sekelompok wakil rakyat dan pemerintah yang tak mendengarkan aspirasi walau sudah diperkeras dengan pengeras suara. Di situlah terjadi ”keslencoan”. Wakil rakyat yang seharusnya menyerap aspirasi rakyat malah menjadi ”makhluk” dengan jas dan dasi yang seolah tidak mendengarkan sehingga kata-kata berhamburan di jalanan.

Penyodoran tema semacam ini di dalam satu pameran besar, setidaknya diikuti 73 perupa, apalagi dilakukan untuk memperingati 30 Tahun Bentara Budaya, tentu mengandung satu penegasan. Rupanya, Bentara Budaya ingin kembali menegaskan bahwa lembaga ini didirikan untuk ”memperjuangkan” kebudayaan, seni, dan suara-suara yang tak tertampung dalam kebudayaan mainstream. Setelah 30 tahun, lembaga ini ingin melakukan semacam reposisi bahwa memperjuangkan kebudayaan pinggiran itu masih tetap relevan di tengah pola-pola masyarakat yang bergerak semakin tak kendali.

Pada akhirnya, karya-karya para perupa bukan sekadar dipajang untuk ”pemuasan” sensasi keindahan semata. Ia dipergelarkan sebagai hasil dari satu pergulatan batin dan intelektual untuk mengawal satu proses demokratisasi satu bangsa yang sedang dilanda ”perslencoan”. Demokrasi ”perslencoan” adalah demokrasi yang bablas sana-sini sehingga membutuhkan ”penggiringan” ulang agar tidak semakin terjerembab ke dalam jurang ”keslencoan”. Pada tubir jurang itu, slenco menjadi tanda bahaya bagi kita semua. Dan seni lahir sebagai pemberi inspirasi untuk berefleksi, tentu saja.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X