Sebagian Pejabat Majapahit Beragama Islam

Kompas.com - 04/09/2012, 22:26 WIB
EditorJodhi Yudono

Penulis resensi : Viddy Ad Daery   *) konsultan media di Pelita Group.
Buku                : Orang-orang Tionghoa & Islam di Majapahit.
Penulis            : Adrian Perkasa
Penerbit         : Ombak , Jogjakarta.
Tahun terbit  :  2012.
Tebal               : xvi + 148 halaman.
Ukuran            : 14,5 x 20,5 cm

Buku mengenai Majapahit sudah banyak ditulis, dan semakin banyak diterbitkan pada tahun-tahun terakhir era Reformasi, karena Reformasi dianggap gagal karena dikhianati para pemimpin maling, dan bangsa terpuruk di titik nadir. Untuk mempertahankan semangat hidup bangsa yang hampir padam, para intelektual beramai-ramai memompa semangat dengan penerbitan buku-buku mengenai sejarah masa lalu bangsa yang pernah jaya dan menjadi superpower dunia, termasuk era Majapahit.

Buku Adrian Perkasa ini bisa dikatakan juga mengantre untuk menjadi barisan pemompa semangat bangsa yang bernasib malang. Namun karena sudah terlalu banyak buku serupa, maka jatuhnya memang banyak bagian dari buku ini yang mengulang.

Apalagi tampaknya buku ini tadinya skripsi S-1, maka uraian di dalamnya memang tidak seberapa mendalam, dan hanya berupa kesimpulan-kesimpulan dari penelitian dan teori para professor besar dalam bidang sejarah dan antropologi.

Namun, ada beberapa diantara kesimpulan itu yang terasa menarik, karena jarang dibicarakan orang, meski juga Adrian tidak membahasnya seberapa mendalam—lagi-lagi karena adalah skripsi S-1. Mungkin dalam perjalanan lebih lanjut, Adrian diharapkan akan memperdalam penelitian tersebut kalau berniat melanjutkan ke jenjang S2 dan S3. Semoga status dan aktifitas Adrian sebagai bintang film dan sinetron tidak menghambat langkah lanjut tersebut.

SITUS TROLOYO DAN TAMBANGAN NEGARA

Garis bawah yang diguratkan oleh Adrian yang menarik adalah mengenai tafsir pada situs makam Troloyo dan situs Prasasti Hayam Wuruk yang berupa pencatatan daftar tambangan alias pelabuhan perahu di tepi sungai Brantas dan Bengawan Solo.

Dari pembacaan nisan-nisan di kompleks makam Troloyo alias kompleks makam Islam, tampaklah bahwa makam itu adalah kuburan para anggota kerajaan yang wafat di zaman Hayam Wuruk, Wikramawardhana dan Ratu Suhita atau berangka tahun 1397, 1407, 1427, 1467 dan 1475 M.

Artinya, orang yang dimakamkan di kompleks Troloyo alias makam Islam tersebut, adalah para pejabat tinggi kerajaan Majapahit di zaman Hayam Wuruk, Wikramawardhana dan Ratu Suhita. Artinya sebagian kecil atau mungkin 20 % pejabat tinggi Kerajaan Majapahit sudah ada yang beragama Islam, jadi Islam bukan agama yang asing di masa kejayaan Majapahit.

Apalagi dalam “Kitab Kidung Sunda” juga diriwayatkan, bahwa ketika rombongan Sunda hendak bertamu ke Majapahit, sebelum terjadi perselisihan yang berakibat Perang Bubat, mereka berkumpul di Masjid Agung Majapahit yang terletak di sudut Lapangan Bubat.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Periksa Mantan Wabup Lampung Utara, KPK Telusuri Dana Kampanye Mustafa

Periksa Mantan Wabup Lampung Utara, KPK Telusuri Dana Kampanye Mustafa

Nasional
Kata Mahfud MD, Jokowi Pernah Sampaikan Laporan ke KPK tapi Tak Disentuh

Kata Mahfud MD, Jokowi Pernah Sampaikan Laporan ke KPK tapi Tak Disentuh

Nasional
Bicara soal Insiden Mega-Paloh, Jokowi Tegaskan Koalisinya Rukun

Bicara soal Insiden Mega-Paloh, Jokowi Tegaskan Koalisinya Rukun

Nasional
Di hadapan Jokowi, Surya Paloh Sebut Nasdem Akan Gelar Konvensi Capres 2024

Di hadapan Jokowi, Surya Paloh Sebut Nasdem Akan Gelar Konvensi Capres 2024

Nasional
Undang Tokoh Masyarakat, Mahfud MD Bahas Perppu KPK dan Penegakan Hukum

Undang Tokoh Masyarakat, Mahfud MD Bahas Perppu KPK dan Penegakan Hukum

Nasional
Surya Paloh ke Jokowi: Ingin Saya Peluk Erat, tapi Enggak Bisa...

Surya Paloh ke Jokowi: Ingin Saya Peluk Erat, tapi Enggak Bisa...

Nasional
Tak Hanya di Gerindra, Dahnil Juga Ditunjuk Prabowo Jadi Jubirnya di Kemenhan

Tak Hanya di Gerindra, Dahnil Juga Ditunjuk Prabowo Jadi Jubirnya di Kemenhan

Nasional
Surya Paloh: Jangan Ragukan Lagi Sayang Saya ke Mbak Mega

Surya Paloh: Jangan Ragukan Lagi Sayang Saya ke Mbak Mega

Nasional
Fadli Zon: Pertahanan Kita Harus Bertumpu pada Rakyat yang Terlatih Bela Negara

Fadli Zon: Pertahanan Kita Harus Bertumpu pada Rakyat yang Terlatih Bela Negara

Nasional
Akui Cemburu dengan Presiden PKS, Jokowi Peluk Erat Surya Paloh di Kongres Nasdem

Akui Cemburu dengan Presiden PKS, Jokowi Peluk Erat Surya Paloh di Kongres Nasdem

Nasional
Kuasa Hukum Kemenag Sebut Penertiban Lahan UIII Sesuai Aturan

Kuasa Hukum Kemenag Sebut Penertiban Lahan UIII Sesuai Aturan

Nasional
Kasus Suap Jabatan, Istri Wali Kota Medan Jalani Pemeriksaan Hampir 10 Jam

Kasus Suap Jabatan, Istri Wali Kota Medan Jalani Pemeriksaan Hampir 10 Jam

Nasional
Belum Terima Surat Panggilan, Anak Yasonna Urung Diperiksa KPK

Belum Terima Surat Panggilan, Anak Yasonna Urung Diperiksa KPK

Nasional
Jokowi, Megawati, AHY, hingga Presiden PKS Hadiri HUT Partai Nasdem

Jokowi, Megawati, AHY, hingga Presiden PKS Hadiri HUT Partai Nasdem

Nasional
Fadli Zon Sebut Debat antara Prabowo dan Politisi PDI-P karena Salah Paham

Fadli Zon Sebut Debat antara Prabowo dan Politisi PDI-P karena Salah Paham

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X