Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mbaru Niang Dapat Penghargaan Tertinggi

Kompas.com - 30/08/2012, 04:21 WIB

Jakarta, Kompas - Konservasi rumah tradisional mbaru niang di Wae Rebo, Flores, Nusa Tenggara Timur, mendapat penghargaan tertinggi, Award of Excellence, dalam konservasi warisan budaya 2012 Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Budaya Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) kawasan Asia Pasifik.

Award of Excellence Asia-Pacific Heritage Awards for Cultural Heritage Conservation UNESCO diberikan kepada mbaru niang karena upaya konservasi dilakukan masyarakat setempat dengan inisiatif dari Yayasan Rumah Asuh.

Ketua tim juri dan Kepala Unit Budaya UNESCO Bangkok Tim Curtis, dalam siaran pers 27 Agustus lalu, menyebutkan, penghargaan tertinggi untuk mbaru niang menandai bentuk pengakuan baru bagi konservasi arsitektural yang mendasarkan pada warisan tak benda dan pengetahuan setempat.

Arsitek Yori Antar yang juga Ketua Yayasan Rumah Asuh mengatakan, konservasi mbaru niang sepenuhnya dilakukan masyarakat setempat. Yayasan Rumah Asuh membantu mencarikan dana, memberi saran cara konservasi, serta melakukan dokumentasi.

Ketika Yori dan tim tiba di Wae Rebo, tiga tahun lalu, tinggal tersisa empat dari tujuh rumah yang diwariskan turun-temurun. Praktis saat itu tidak ada yang mengetahui cara membangun rumah berbentuk kerucut itu.

Melalui diskusi dengan warga desa penghuni keempat rumah tradisional itu, disepakati membongkar tahap demi tahap rumah yang akan diperbaiki. ”Ketika membongkar itulah, tiap orang di desa tersebut dapat pengetahuan baru cara membangun rumah mereka. Pengetahuan itu dipakai membangun rumah baru sehingga pada tahun 2011 jumlahnya kembali lengkap tujuh rumah,” papar Yori, Rabu (29/8).

Ny Lisa Tirto Utomo membantu konservasi dua rumah, sedangkan Arifin Panigoro dan Laksamana Sukardi masing-masing membantu untuk satu rumah.

Kebudayaan

Rumah-rumah asli Indonesia sejatinya bukan sekadar bangunan, melainkan juga kebudayaan karena mencerminkan lingkungan hidup, kepercayaan, dan cara hidup komunitas setempat. Mengonservasi rumah-rumah Nusantara berarti menjaga budaya yang hidup di masyarakat. Karena itu, kegiatan Rumah Asuh juga melibatkan mahasiswa dan sejumlah lembaga pendidikan arsitektur untuk belajar dan mendokumentasikan kearifan lokal.

”Belajar dari rumah Nusantara akan membentuk karakter Indonesia dalam karya arsitektur modern kita,” kata Yori seraya mencontohkan Jepang yang modern, tetapi tetap mempertahankan karakter bangsa.

Perkampungan tua

Rumah tradisional mbaru niang hanya ada di perkampungan tua di Wae Rebo, sebuah kampung terpencil di Desa Satar Lenda, Kecamatan Satarmese Barat, Manggarai, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.

Kampung yang berada pada ketinggian sekitar 1.100 meter dari permukaan laut itu hingga sekarang belum bisa dijangkau kendaraan. Perjalanan dengan mobil dari Ruteng (kota kabupaten) hanya bisa hingga Denge, berjarak sekitar 80 kilometer. Selanjutnya, perjalanan harus ditempuh dengan berjalan kaki lebih kurang empat jam hingga Wae Rebo karena hanya tersedia jalan setapak.

Tentang penghargaan itu, Wakil Bupati Manggarai Kamelus Deno mengatakan, pihaknya sedang menunggu pemberitahuan resmi dari UNESCO. ”Kami belum mendapat surat resminya,” kata Kamelus Deno saat mengikuti ritual congka lokap di Dalo, Desa Pong Murung, Manggarai, Rabu (29/8) siang. Acara congka lokap adalah ritual adat pembabtisan rumah adat baru sebelum difungsikan, menggantikan rumah adat lama yang terbakar beberapa tahun lalu.

Kepala Dinas Pariwisata Manggarai Wens Sene mengakui, penghargaan tersebut mengejutkan sejumlah pihak di daerah itu karena tidak pernah dibayangkan. Ia menyebutkan, keunikan Wae Rebo dalam bidang pelestarian budaya berhasil mengalahkan 42 kandidat lain dari 11 negara di Asia Pasifik, antara lain sistem irigasi bersejarah di India, kompleks Zhizhusi di China, dan Masjid Khilingrong di Pakistan.

”Bagi kami, penghargaan itu adalah pesan agar bangunan rumah adat berarsitektur kerucut khas Manggarai yang nyaris punah dilestarikan kembali. Pesan lain mengingatkan pengembangan pariwisata Manggarai agar fokus pada wisata budaya,” tuturnya.

Ia mengakui, Manggarai tidak hanya memiliki Wae Rebo, yang sebenarnya sudah terkenal hingga pelosok dunia. Peninggalan bersejarah lain adalah Liang Bua, berupa goa karst yang merupakan situs tempat ditemukannya fosil manusia Flores (Homo floresiensis) sejak tahun 1950-an. Goa yang berlokasi sekitar 30 kilometer sebelah utara Ruteng itu telah menjadi situs sekaligus obyek wisata budaya andalan Manggarai.

Lima ”lantai”

Di Manggarai, kelompok rumah adat berarsitektur kerucut seperti di Wae Rebo disebut mbaru niang. Bangunan yang aslinya beratap serat ijuk atau daun ilalang itu lazimnya meliputi lima ”lantai”.

Lantai dasarnya disebut lutur, khusus untuk hunian manusia. Di atasnya ada lobo, leba, atau kaeng, khusus untuk menyimpan bahan makanan hasil kebun, seperti padi, jagung atau umbi-umbian.

Lantai berikutnya disebut lentar (khusus untuk menyimpan benih tanaman) dan lempa rae untuk stok makanan khusus mengantisipasi paceklik. Terakhir adalah hekang kode, yakni ruang khusus untuk sesajen bagi leluhur. Sesajen biasanya diletakkan di atas wadah anyaman bambu bernama langkar.

(NMP/ANS)

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com