Titik Panas Tak Sebanyak Tahun Lalu

Kompas.com - 25/07/2012, 04:00 WIB
Editor

Palangkaraya, Kompas - Titik panas (hot spot) di Kalimantan Tengah terus dipantau. Titik panas terus bermunculan meski jumlahnya lebih sedikit dibandingkan pada tahun 2011. Penurunan disebabkan hujan yang sering turun di sela-sela musim kemarau.

Petugas Bidang Deteksi Dini Manggala Agni Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalteng, Andreas Dody, di Palangkaraya, Selasa (24/7), mengatakan, hingga 22 Juli lalu, ditemukan 113 titik panas berdasarkan pantauan di 14 kabupaten/kota di Kalteng.

Jumlah itu jauh lebih sedikit dibandingkan periode yang sama pada tahun 2011 sebanyak 130 titik. Sejauh ini, hingga Juli 2012, daerah-daerah dengan pantauan paling intens adalah Kabupaten Katingan, Kotawaringin Timur, Barito Selatan, dan Lamandau.

Di antara daerah-daerah itu, titik panas ditemukan paling banyak di Katingan sebanyak 19 titik, Kotawaringin Timur 13 titik, serta Barito Selatan dan Lamandau masing-masing 10 titik. Dody menambahkan, titik panas juga ditemukan di Kabupaten Barito Timur dan Murung masing-masing 7 titik.

”Sementara titik panas di Kota Palangkaraya belakangan ini tak terdeteksi. Pada awal Juli lalu ada lahan yang terbakar, tetapi tidak banyak sehingga tak terpantau satelit,” katanya.

Pihak BKSDA terus berkoordinasi dengan instansi-instansi terkait, seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Dinas Kehutanan Kalteng. Jika menemukan kebakaran, para petugas lapangan akan langsung bergerak ke lokasi kejadian dan memadamkannya.

”Sejauh ini, belum terjadi kebakaran besar yang tidak dapat dikendalikan, termasuk di perkebunan-perkebunan besar di Kalteng,” ujar Dody. Kondisi itu seiring dengan hujan yang masih sering turun di sejumlah wilayah Kalteng di sela-sela musim kemarau.

Jumlah titik api di Kalimantan Selatan tahun ini juga diperkirakan lebih rendah daripada tahun 2011. Hingga mendekati akhir Juli, jumlah titik api yang terdeteksi secara kumulatif mencapai 99 titik. Adapun 22 titik api di antaranya terdeteksi oleh satelit pada Juli.

Kepala Badan Lingkungan Hidup Daerah Kalimantan Selatan Ikhlas mengatakan, musim kemarau tahun ini, yang masih diselingi hujan, menyebabkan jumlah titik api lebih sedikit dibandingkan tahun lalu. Tahun lalu jumlah titik api hingga bulan Agustus saja mencapai 406 titik dan 987 titik pada pekan pertama September.

Komandan Tim Manggala Agni Daerah Operasi III Zulkarnaen mengatakan, sejauh ini sudah ada lahan yang terbakar, tetapi skalanya tidak terlalu besar. Tren titik api tidak terlalu besar. Hal ini dikarenakan cuaca tahun ini tidak seekstrem tahun lalu. Permukaan daerah gambut juga masih relatif basah. (BAY/WER)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.