PON Riau Dibayangi Ancaman Asap

Kompas.com - 21/07/2012, 03:26 WIB
Editor

Jakarta, Kompas - Penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional XVIII/2012 di Riau yang dibuka 9 September mendatang terancam asap akibat kebakaran hutan/lahan gambut. Sebaran asap berpotensi mengganggu penerbangan, aktivitas warga, dan pertandingan.

Namun, hal itu tak terlalu dikhawatirkan Pengurus Besar PON Riau. Potensi gangguan asap kecil karena pemerintah telah menutup kanal-kanal yang selama ini mengeringkan gambut.

Kepala Bidang Pengendalian Kerusakan akibat Kebakaran Hutan dan Lahan Kementerian Lingkungan Hidup Purwasto Saroprayogi, Kamis (19/7), di Jakarta, mengatakan, ancaman asap di Riau didasarkan pada analisis sistem penilaian bahaya kebakaran (FDRS), curah hujan, dan potensi kehadiran El Nino pada Oktober 2012. FDRS adalah sistem untuk mengetahui tingkat kerawanan kawasan berdasarkan kelembaban, suhu, dan curah hujan.

”Titik panas naik tajam pada bulan Juni, sekarang sudah turun. Namun, potensi gangguan asap kebakaran lahan/hutan harus tetap diwaspadai,” ujarnya.

Berdasarkan pemantauan satelit NOAA 18, dari Januari sampai 15 Juli 2012, jumlah titik panas tertinggi di Riau mencapai 2.643 titik. Lebih spesifik, kabupaten sangat rawan berada di Pelalawan (527 titik), Bengkalis (420 titik), dan Rokan Hilir (405 titik).

Secara umum, di Indonesia terdapat delapan provinsi rawan kebakaran hutan/lahan. Selain Riau, provinsi lain adalah Sumatera Utara, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan.

Menurut Purwasto, pihaknya juga sedang menjajaki kemungkinan meminta hujan buatan. Namun, uap air diperkirakan berkurang.

Secara terpisah, Ketua Harian Pengurus Besar PON Riau Syamsurizal, dihubungi di Pekanbaru, mengatakan, tak ada gangguan asap saat ini. ”Kalau asap masih ada, tapi sedikit dan tidak ekstrem. Tidak mengganggu penerbangan,” katanya.

Hal ini, menurut dia, disebabkan penutupan kanal-kanal dari lahan gambut yang dimulai dua tahun terakhir. Kanal itu mengalirkan air dari gambut menuju laut. Semula kanal tersebut dipergunakan perusahaan penebangan kayu untuk mengeringkan gambut.

Karena kering, gambut yang menyimpan gas metana (CH4) mudah terbakar. Kebakaran terjadi di dalam gambut sehingga menciptakan asap tebal yang sulit dikendalikan. ”Kebakaran ini pada luasan puluhan hingga ratusan kilometer persegi. Setelah penutupan kanal, tidak ada lagi asap ekstrem di Riau,” tuturnya.(ICH)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.