Kompas.com - 08/06/2012, 11:20 WIB
EditorMarcus Suprihadi

Kurang toleran

Kebebasan mengekspresikan hasrat konsumerisme itu ternyata tak linier dengan tumbuhnya nilai-nilai demokrasi. Bahkan, sebaliknya, demokratisasi lewat liberalisasi kelembagaan pemilu tidak melahirkan masyarakat toleran dan menjunjung tinggi nilai-nilai perbedaan ideologi. Mereka mendukung peran negara yang lebih besar untuk masuk ke dalam aspek moralitas masyarakat terdalam.

Hasil survei Litbang Kompas juga mendapati semakin kakunya sikap masyarakat dalam soal ideologi berupa dukungan pernyataan yang menihilkan perbedaan. Mereka, misalnya, lebih mendukung pernyataan ”organisasi massa atau partai yang berhaluan kiri sebaiknya dilarang di Indonesia” daripada pernyataan ”semua jenis ideologi boleh berkembang di Indonesia”. Mereka juga lebih setuju pelarangan Ahmadiyah di Indonesia daripada memandang kelompok keagamaan memiliki hak memeluk keyakinannya di Indonesia.

Kelas menengah sebagai strata sosial dengan anggota terbanyak juga larut dalam pandangan tersebut. Kenyataan ini seolah menjawab pertanyaan mengapa mereka memilih diam manakala terjadi konflik terkait dengan agama, aliran, atau ideologi. Kelas menengah tidak menjadi penengah dan belum mampu menjadi elemen perubahan sosial. Mereka hanya sebatas penonton yang bahkan kerap memarodikan ketegangan sosial menjadi komedi.

Ketidakpuasan lebih banyak berupa letupan pendapat yang disuarakan lewat jejaring sosial, seperti Facebook, Twitter, dan Blackberry Messenger, tetapi tidak menjadi tindakan riil yang mampu mengubah keadaan. Lebih mirip kicauan yang disuarakan minoritas tertindas, sementara jumlah terbesar tetap diam atau lebih menikmati sisi-sisi lucu aneka kejadian.

Sebagai kelas penonton, mereka riuh ketika mendapat ketegangan baru dan mencari sensasi ketegangan yang lain manakala satu masalah tidak lagi memunculkan kejadian baru. Mereka tidak setia dengan tuntutan mereka dan membiarkan problem bangsa menggantung tanpa penyelesaian.

Cepat bosan menjadi ciri khas kelas ini. Di satu sisi ini melemahkan keteguhan bangsa dalam menyelesaikan masalah, tetapi di sisi lain menjadi kekuatan yang menarik produsen gaya hidup untuk selalu menciptakan produk baru dengan variasinya. (Litbang Kompas)

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kemenkes Sebut Sesak Napas sebagai Gejala Utama Pasien Varian Omicron yang Meninggal

Kemenkes Sebut Sesak Napas sebagai Gejala Utama Pasien Varian Omicron yang Meninggal

Nasional
Maruli Simanjuntak Jadi yang ke-44, Ini Daftar Pangkostrad sejak Era Soekarno

Maruli Simanjuntak Jadi yang ke-44, Ini Daftar Pangkostrad sejak Era Soekarno

Nasional
Jejak Karier Maruli Simanjuntak, dari Pengawal Jokowi hingga Jadi Pangkostrad

Jejak Karier Maruli Simanjuntak, dari Pengawal Jokowi hingga Jadi Pangkostrad

Nasional
Kritik Faisal Basri soal Proyek IKN yang Bebani APBN hingga Peluang Jadi Skandal

Kritik Faisal Basri soal Proyek IKN yang Bebani APBN hingga Peluang Jadi Skandal

Nasional
Kasus Covid-19 Bertambah, Epidemiolog Sarankan WFH Ditingkatkan dan Tunda PTM

Kasus Covid-19 Bertambah, Epidemiolog Sarankan WFH Ditingkatkan dan Tunda PTM

Nasional
Disebut Masuk Radar Kepala Otorita IKN, Risma: Kepala Daerah yang Arsitek Bukan Cuma Saya

Disebut Masuk Radar Kepala Otorita IKN, Risma: Kepala Daerah yang Arsitek Bukan Cuma Saya

Nasional
Menantu Luhut Jabat Pangkostrad, Pengamat: Fenomena 'President’s Men' Tak Bisa Dihindari...

Menantu Luhut Jabat Pangkostrad, Pengamat: Fenomena "President’s Men" Tak Bisa Dihindari...

Nasional
Ini Hadiah yang Diberikan Kader PDI-P Saat Ulang Tahun Megawati

Ini Hadiah yang Diberikan Kader PDI-P Saat Ulang Tahun Megawati

Nasional
Penunjukan Mayjen Maruli Simanjuntak Jadi Pangkostrad Dinilai Tak Banyak Berubah dari Pola Sebelumnya

Penunjukan Mayjen Maruli Simanjuntak Jadi Pangkostrad Dinilai Tak Banyak Berubah dari Pola Sebelumnya

Nasional
Kemenag: Umrah Tetap Dilanjutkan dengan Pengendalian Lebih Ketat

Kemenag: Umrah Tetap Dilanjutkan dengan Pengendalian Lebih Ketat

Nasional
Polemik Arteria Dahlan Jadi Pembelajaran Kader, Hasto: Dalam Politik Hati-hati Berbicara

Polemik Arteria Dahlan Jadi Pembelajaran Kader, Hasto: Dalam Politik Hati-hati Berbicara

Nasional
Ucapan Arteria soal Kajati Berbahasa Sunda Tak Wakili Partai, Sekjen PDI-P: Kami Tak Punya Tradisi Menjelekkan

Ucapan Arteria soal Kajati Berbahasa Sunda Tak Wakili Partai, Sekjen PDI-P: Kami Tak Punya Tradisi Menjelekkan

Nasional
Maruli Simanjuntak Ditunjuk Jadi Pangkostrad, PDI-P: Jangan Sampai Dipolitisasi

Maruli Simanjuntak Ditunjuk Jadi Pangkostrad, PDI-P: Jangan Sampai Dipolitisasi

Nasional
Soal Penunjukan Mayjen Maruli sebagai Pangkostrad, PDI-P: Bentuk Konsolidasi Politik Pertahanan Negara

Soal Penunjukan Mayjen Maruli sebagai Pangkostrad, PDI-P: Bentuk Konsolidasi Politik Pertahanan Negara

Nasional
PDI-P Nilai Penunjukan Maruli sebagai Pangkostrad Berdasarkan Pertimbangan yang Matang

PDI-P Nilai Penunjukan Maruli sebagai Pangkostrad Berdasarkan Pertimbangan yang Matang

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.