KNKT Perlu Waktu Satu Minggu Teliti Kotak Hitam

Kompas.com - 16/05/2012, 14:29 WIB
|
EditorHertanto Soebijoto

JAKARTA, KOMPAS.com — Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) membutuhkan waktu sekitar satu minggu untuk meneliti data kotak hitam milik pesawat Sukhoi Superjet 100 yang baru saja ditemukan. Rekaman dari kotak hitam itu dinilai akan memberikan informasi signifikan bagi penyelidikan penyebab kecelakaan pesawat buatan Rusia tersebut.

Hal itu diungkapkan Ketua Tim Investigasi dari KNKT, Prof Mardjono Siswosuarno, Rabu (16/5/2012) di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta. "Kalau satu tahun itu untuk menulis laporan lengkapnya, tapi kalau seminggu ini mudah-mudahan selesai," kata Mardjono.

Perkiraan itu didapat Mardjono dengan membandingkan kasus-kasus lainnya, seperti kecelakaan pesawat Garuda Indonesia yang terbakar di Yogyakarta pada tahun 2009. Saat itu, kotak hitam pesawat Garuda Indonesia ditemukan dalam kondisi tidak utuh.

"Kotak hitamnya meleleh dan ada lubangnya, makanya cukup sulit waktu itu. Bahkan perlu dibawa ke Amerika Serikat untuk baca datanya. Butuh waktu 1,5 bulan," ujarnya.

Akan tetapi, kondisi CVR (cockpit voice recorder), salah satu komponen kotak hitam yang ditemukan tim Kopassus di antara puing-puing pesawat Sukhoi Superjet 100 dinilai cukup baik. Kondisi CVR saat ditemukan masih utuh kendati berwarna hitam karena terbakar. Seharusnya, warna komponen-komponen kotak hitam adalah oranye, untuk memudahkan pencarian.

Mardjono menjelaskan, proses paling sulit dalam membaca kotak hitam adalah proses transkrip. "Kalau transkrip suara ke tertulis tidak boleh tertinggal detik demi detik. Proses transkrip ini lama karena harus ada penerjemah dari Rusia ke Inggris dan ke Indonesia," ucapnya.

Tim Charlie Kopassus berhasil menemukan keberadaan kotak hitam atau black box milik pesawat Sukhoi Superjet 100 pada Selasa (15/5/2012) di tebing Gunung Salak, Jawa Barat. Namun, di dalam kotak hitam itu ternyata hanya ditemukan cockpit voice recorder (CVR). Sementara itu, komponen lain dari kotak hitam, yakni flight data recorder (FDR), hingga kini masih belum ditemukan. Adapun FDR berfungsi untuk mencatat ketinggian, kecepatan, tekanan udara, dan kondisi cuaca selama penerbangan. Sementara itu, CVR berfungsi untuk merekam pembicaraan antara pilot dan pemandu lalu lintas udara atau air traffic control (ATC).

Jika FDR nantinya tidak ditemukan, maka KNKT tetap bisa bekerja dengan menggunakan bahan-bahan tambahan dari ATC seperti soal rute sampai percakapan antara petugas ATC dan pilot serta data-data lain soal rute penerbangan Sukhoi Superjet 100 sesaat sebelum kecelakaan terjadi.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.