Pengamat: Jokowi-Deddy Pilihan Tepat

Kompas.com - 19/03/2012, 15:11 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Pertimbangan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) "memasang" seniman dan budayawan Betawi, Deddy Mizwar, mendampingi Joko Widodo, dinilai tepat oleh sejumlah pengamat politik. Selain dianggap mampu mengikat isu-isu primordial, Deddy dianggap mampu mengikat pemilih akar rumput DKI.

Demikian rangkuman wawancara terpisah dengan pengamat politik Siti Zuhro dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Andrinof Chaniago dari UI, dan pengamat politik J Kristiadi, Senin (19/3/2012) pukul 14.00.

Chaniago mengatakan, jika dari segi visi, sebenarnya pasangan Jokowi (Joko Widodo, Wali Kota Solo, Jawa Tengah) dengan Ahok (Basuki Cahya Purnama) lebih cocok dibandingkan dengan Jokowi-Deddy. Tapi dari fungsi pemenangan, PDI-P ragu. Jika pilihannya adalah Jokowi-Ahok, mesin politik PDI-P dan Partai Gerindra harus bekerja lebih keras di lapangan.

Jika pilihannya adalah Jokowi-Deddy, kerja mesin politik bisa lebih ringan. Sebab, Deddy dianggap telah mewakili masyarakat luas Jakarta. Deddy pun mampu bekerja sama dengan Jokowi. "Deddy, kan, tipe orang yang visioner juga dalam berkarya?" kata Chaniago.

Menurut dia, jika PDI-P menetapkan pasangan Jokowi-Ahok, maka pasangan ini dikhawatirkan bakal dianggap calon pemilih sebagai pasangan dari luar Jakarta. Apalagi bila mereka terpilih dan harus menjalankan pemerintahan.

Chaniago berpendapat, dalam soal keterpilihan, Deddy punya tingkat elektabilitas yang tinggi. Sebagai sosok pun, Deddy punya karakter dan visi. "Dia tipikal orang yang cepat belajar," ucap Chaniago. Deddy, lanjutnya, berbeda dengan selebritas kebanyakan di Tanah Air. Selain itu, Deddy bakal mampu mengambil fungsi yang tidak tumpang tindih dengan Jokowi. "Artinya, potensi pecah diantara keduanya, rendah," ujar Chaniago.

Siti Zuhro menilai, Deddy bisa menjadi magnet kuat buat Jokowi, terutama dalam menggalang kekuatan etnis dan kelompok agamis, terutama golongan akar rumput. "Kalau Jokowi-Ahok yang dipilih. Jadilah mereka pasangan yang benar-benar asli dari luar yang dicangkokkan ke Jakarta," tegas Zuhro.

Hal ini bisa membuat calon pemilih menganggap, PDI-P mengabaikan masyarakat Betawi. "Ini bukan berarti saya menafikan kekuatan Ahok. Dia figur cemerlang dan sudah terbukti. Tetapi dalam kalkulasi politik pemenangan, justru bisa jadi ganjalan," tutur Zuhro.

Deddy, kata Zuhro, bakal mampu mendongkrak suara karena dia putra Betawi yang membumi. "Dia populer, senior, berkarakter, dan punya integritas," tuturnya. Zuhro mengingatkan, jaringan masyarakat Betawi masih penting menjadi pertimbangan pemenangan Pilkada DKI.

Zuhro menilai, pilihan PDI-P dan mitranya terhadap Jokowi-Deddy sudah melalui kalkulasi politik yang akurat dan telah mempertimbangkan semua sisi serta implikasinya.

Kristiadi sependapat. Menurut dia, pasangan Jokowi-Deddy akan membuat kerja mesin politik PDI-P dan kawan-kawan menjadi lebih ringan. "Ahok bakal lebih sulit menjangkau suara akar rumput karena persoalan primordialisme yang masih bak api dalam sekam di Jakarta," ujarnya.

Kristiadi mengatakan, sebenarnya partai-partai harus ikut mendidik calon pemilih berfikir jernih dan rasional dan meninggalkan politik * pencitraan*. "Apa yang dilakukan PDI-P dengan memasangkan Jokowi-Deddy ini kan masih berbau politik pencitraan," tandasnya. *(WINDORO ADI)*

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
    EditorRobert Adhi Ksp
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Close Ads X