Revitalisasi Mesin Hemat Energi Perlu Dipercepat

Kompas.com - 02/03/2012, 05:26 WIB
Editor

Jakarta, Kompas - Kalangan industri sebaiknya secepat mungkin merevitalisasi permesinan sehingga dapat menghemat energi. Penyebabnya adalah pertumbuhan ekonomi yang tinggi mengonsumsi lebih banyak energi. Di samping itu, tarif energi terus naik. Pemerintah juga telah menjanjikan insentif untuk revitalisasi permesinan.

”Sekaranglah saat yang tepat untuk merevitalisasi permesinan, terutama untuk industri plastik dan karet. Apalagi per 1 April 2012, boleh jadi tarif dasar listrik akan naik 10 persen,” kata Sekretaris Jenderal Indonesian Olefin Aromatic and Plastic Associations (INAplas) Budi Sadiman, Kamis (1/3), di Jakarta, dalam seminar The Italian Plastics and Rubber Machinery Technology.

Menurut Budi, tiga tahun lalu, terjadi pembelian besar-besaran mesin dari China. ”Ketika produksi sudah berjalan, kini saatnya membeli mesin-mesin dari Eropa yang modern juga hemat energi,” ujar dia.

Budi menekankan, di Indonesia, biaya energi mencapai 40 persen dari biaya produksi. ”Bulan April, beban listrik naik 10 persen. Dua tahun lagi, diperkirakan juga naik 10 persen. Di Eropa, isu itu sudah ditangani, sekarang giliran Indonesia,” kata dia.

Direktur Jenderal Italian Plastic and Rubber Processing Machinery and Moulds Manufacturers Association (Assocomaplast) Mario Maggiani mengatakan, kebetulan Italia dan Jerman telah bekerja sama untuk menghasilkan mesin-mesin yang hemat energi. Dalam ajang PLAST 2012 di Milan, Italia, pada Mei 2012, fokus utamanya memang mesin hemat energi.

Saat ini, penetrasi ekspor permesinan dari Jerman mencapai 20 persen di dunia, disusul Italia sebesar 10 persen. Adapun penetrasi terbesar tetap dipegang China, dengan menguasai 30 persen pangsa pasar dunia.

”Eropa memang sedang terkena krisis. Saya takkan menyangkalnya. Namun, sektor industri kami tidak surut. Kami tetap akan menghasilkan mesin berkualitas dan segera bekerja sama dengan negara seperti Indonesia, di mana kelas menengahnya sedang tumbuh pesat,” kata Duta Besar Italia untuk Indonesia Federico Failla.

Dalam industri plastik dan karet, nilai total impor mesin dari Indonesia terus meningkat. Tahun 2009 tercatat 348,08 juta dollar AS, tahun 2010 tercatat 540,39 juta dollar AS, dan Januari-November 2011 sebesar 680,67 juta dollar AS. Meski, nilai impor dari Italia baru mencapai 6,5 persen pada tahun 2011.

Salah satu perusahaan yang hadir di Jakarta adalah Techomatic. Lebih dari 30 tahun beroperasi, perusahaan tersebut terus menyempurnakan produk berupa berbagai macam pipa. Produk perpipaan kini sangat dibutuhkan ketika pembangunan infrastruktur mulai bergulir.

Perusahaan Costruzioni Macchine Speciali SpA telah menghasilkan mesin yang mendukung upaya pembuatan mobil balap Formula One (F1), yacht, pembangkit listrik tenaga angin, hingga pesawat tempur. (RYO)



Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X