Kisah Mataram di Poros Kedu-Prambanan

Kompas.com - 18/02/2012, 04:15 WIB
Editor

Poros Kedu-Prambanan kerap dipandang sebagai kawasan pusat Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah pada abad ke-8 hingga ke-10. Anggapan itu tak lepas dari kayanya tinggalan berupa candi-candi megah yang puncaknya adalah bangunan monumental Prambanan dan Borobudur.

Arkeolog dari Balai Arkeologi Yogyakarta, Sugeng Riyanto, mengatakan, wilayah Jawa Tengah berkembang menjadi pusat budaya masa klasik abad ke-7 sampai ke-10. Budaya yang dipengaruhi kebudayaan India itu mencapai perkembangan pesat di wilayah Kedu dan Prambanan. Poros Kedu-Prambanan meliputi daerah-daerah yang termasuk wilayah Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, dan Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, khususnya sekitar Prambanan.

Di kawasan Kedu terdapat Candi Borobudur, Mendut, Pawon, Ngawen, dan candi-candi lain di sekelilingnya. Di sekitar Prambanan terdapat Candi Prambanan (Lorojonggrang), Sewu, Plaosan, Sari, Kalasan, Sambisari, dan candi-candi lain. Selain candi, di kawasan ini ditemukan juga banyak prasasti.

Menurut Sugeng, banyaknya tinggalan candi besar dan megah tersebut menunjukkan indikasi adanya kota besar pada masa itu. Dengan banyaknya bangunan keagamaan tersebut, tentu di sekitarnya terdapat komunitas yang menggunakannya sebagai sarana ibadah.

Berbagai aspek kehidupan saat itu dipengaruhi pula oleh dua agama besar, yakni Hindu (Siwa) dan Buddha, serta pengaruh dua wangsa raja-raja, yaitu wangsa Syailendra dan Sanjaya. Soal adanya dua wangsa ini ditentang oleh Poerbatjaraka yang berpandangan hanya ada satu wangsa, yakni Syailendra. Anggota wangsa ini menganut agama Siwa, tetapi kemudian menjadi penganut agama Buddha Mahayana.

Nama Mataram diduga muncul pada awal abad ke-8, saat Sanjaya berkuasa. Ia menyebut dirinya sebagai Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya dengan Medang sebagai pusat kerajaan. Mengutip Sejarah Nasional Indonesia II (1984), sebelumnya tidak diketahui nama kerajaan di Jawa Tengah ini.

Pusat Mataram Kuno disebutkan berpindah dari daerah Kedu lalu ke lembah lereng Gunung Merapi di sebelah timur. Perpindahan itu diduga lantaran tanah dianggap kehilangan tuahnya karena perang atau bencana.



Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Mahfud MD Tolak Tawaran Bantuan Dubes AS untuk Atasi Persoalan Natuna

Mahfud MD Tolak Tawaran Bantuan Dubes AS untuk Atasi Persoalan Natuna

Nasional
Bamsoet Nilai Banjir Jakarta Bawa Hikmah, Minimal Saling Kenal Tetangga

Bamsoet Nilai Banjir Jakarta Bawa Hikmah, Minimal Saling Kenal Tetangga

Nasional
Bamsoet Minta Golkar Hati-hati Usung Calon pada Pilkada 2020

Bamsoet Minta Golkar Hati-hati Usung Calon pada Pilkada 2020

Nasional
Jokowi Ingatkan Yasonna, Ketua MPR: Itu Berlaku untuk Semua Pejabat

Jokowi Ingatkan Yasonna, Ketua MPR: Itu Berlaku untuk Semua Pejabat

Nasional
Golkar Sebut Penyederhanaan Partai di Parlemen Penting Dilakukan

Golkar Sebut Penyederhanaan Partai di Parlemen Penting Dilakukan

Nasional
Masjid Agung Demak dan Pengaruh Tionghoa...

Masjid Agung Demak dan Pengaruh Tionghoa...

Nasional
Mahfud MD Akan ke Malaysia, Bahas Penculikan WNI oleh Abu Sayyaf

Mahfud MD Akan ke Malaysia, Bahas Penculikan WNI oleh Abu Sayyaf

Nasional
Cerita Menhan Malaysia Naik Pesawat Buatan RI ke Jakarta, Penerbangan Jadi Lebih Lama

Cerita Menhan Malaysia Naik Pesawat Buatan RI ke Jakarta, Penerbangan Jadi Lebih Lama

Nasional
Ketua MPR Minta BPK Audit Menyeluruh Jiwasraya, Asabri, hingga BPJS

Ketua MPR Minta BPK Audit Menyeluruh Jiwasraya, Asabri, hingga BPJS

Nasional
Menurut Mahfud MD, Indonesia dan Malaysia Sama-sama Ingin Jadi Negara Islami

Menurut Mahfud MD, Indonesia dan Malaysia Sama-sama Ingin Jadi Negara Islami

Nasional
Bamsoet: Kita Hindari Pansus Jiwasraya untuk Kurangi Kegaduhan

Bamsoet: Kita Hindari Pansus Jiwasraya untuk Kurangi Kegaduhan

Nasional
Bambang Widjojanto Nilai Kenaikan Indeks Persepsi Korupsi Mesti Dilihat Hati-hati

Bambang Widjojanto Nilai Kenaikan Indeks Persepsi Korupsi Mesti Dilihat Hati-hati

Nasional
PDI-P: Hari Raya Imlek sebagai Hari Libur Nasional merupakan Ekspresi Semangat Kebangsaan

PDI-P: Hari Raya Imlek sebagai Hari Libur Nasional merupakan Ekspresi Semangat Kebangsaan

Nasional
Jejak Orang Tionghoa dalam Penyebaran Islam di Pulau Jawa

Jejak Orang Tionghoa dalam Penyebaran Islam di Pulau Jawa

Nasional
Dari Daratan Tiongkok ke Kota Medan, Tjong A Fie Sang Dermawan...

Dari Daratan Tiongkok ke Kota Medan, Tjong A Fie Sang Dermawan...

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X