Hari Pers Nasional dan Pernyataan Presiden

Kompas.com - 07/02/2012, 02:50 WIB
Editor

Mari kita baca kembali beberapa cuplikan kalimat ucapan para presiden pada Hari Pers Nasional yang jatuh setiap 9 Februari. Tahun 1998, Presiden Soeharto, di Istana Negara, mengatakan, pers jangan hanya memberikan informasi, tetapi juga harus bisa membuat masyarakat arif.

Menurut Soeharto, di era informasi, kekuasaan bukan ditegakkan dengan kekuatan militer dan senjata, melainkan dengan kekuatan informasi. Pers, kata presiden terlama di Indonesia itu, mempunyai kekuatan tersebut. Tetapi, pers di Indonesia banyak dipengaruhi sistem media massa global yang komersial. Karena itu, ia minta agar dibuat kode etik jurnalistik untuk media siaran televisi dan radio.

Tahun 1997, di Istana Negara, Jakarta, Soeharto mensinyalir, pers Indonesia terlalu menggunakan nilai atau kerangka pikir pers asing. Setahun sebelumnya, di Alun-alun Utara Keraton Surakarta, Solo, Jawa Tengah, Soeharto mengatakan, pers Indonesia sering melakukan pelanggaran etika pers.

Tahun 1999, Presiden BJ Habibie, di Istana Negara, Jakarta, mengatakan, tidak mungkin demokrasi dibangun tanpa kemerdekaan pers. Namun, ia meminta agar pers jangan menyiarkan berita dusta dan fitnah yang bisa menimbulkan keresahan dan kekacauan masyarakat.

Tahun 2000, di Solo, Jawa Tengah, Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri minta agar pers nasional tidak hanya menyiarkan berita obyektif dan tidak memihak. Itu tidak cukup. Pers harus bisa ikut mencegah kekerasan.

Tahun 2002, di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Megawati yang sudah menjadi presiden meminta agar pers nasional jangan hanya bisa mengkritik dan memberikan solusi atas persoalan. Pers, katanya, perlu bersedia menjadi pelaksana untuk membuktikan kebenaran dan keandalan dari alternatif yang ditawarkan. Tahun 2003, di Denpasar, Megawati menyerukan kepada masyarakat untuk bersikap kritis kepada pers yang semena-mena.

Pada penutupan Hari Pers Nasional tahun 2000, para tokoh pers datang ke Istana Negara, Jakarta, menemui Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Gus Dur mengucapkan terima kasih kepada para tokoh pers itu. Namun, kemudian, dengan ringan ia mengatakan, ”Apa perlunya sampai harus ditutup di istana. Kalau betul-betul independen, kan tidak perlu di istana.... Ini menunjukkan ketergantungan.”

Akan tetapi, Gus Dur mengatakan sangat sayang kepada pers. ”Karena, bagaimanapun, saya dulu wartawan walau wartawan tanpa surat kabar alias WTS,” ujarnya.

Pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tentang pers lebih menarik di luar Hari Pers Nasional. Ketika mantan Bendahara Umum Partai Demokrat M Nazaruddin ”bernyanyi ” dari luar negeri, SBY, di Sentul, Bogor, minta kader Partai Demokrat menggunakan media pers sebagai kancah tempur berdiplomasi. Selamat berjuang lewat pers, Pak SBY. (J Osdar)



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X