Hatta, Tan Malaka, dan Masa Depan Membaca

Kompas.com - 03/01/2012, 02:26 WIB
Editor

Hatta dan Tan Malaka adalah dua manusia pencinta buku. Namun, keduanya sedikit berbeda nasib dalam keterikatannya dengan buku. Tan Malaka, sebagai buronan politik, tak bisa membawa buku-bukunya dalam pelarian sehingga terpaksa membuang buku-bukunya. Hatta, meski dibuang ke Banda Naira, tetap bisa membawa berpeti-peti buku. Maka, jika ditanyakan kepada kedua orang itu apa pendapat mereka tentang e-book versus buku cetak konvensional terhadap masa depan membaca, tentu akan menarik.

Dalam pendahuluan magnum opus-nya, Madilog, Tan Malaka mengenang pembuangan Leon Trotzky ke Alma Ata dan pembuangan Muhammad Hatta. Dua tokoh pencinta buku itu membawa buku berpeti-peti ke tempat pembuangan mereka. ”Saya maklumi sikap kedua pemimpin itu dan sebetulnya saya banyak menyesal karena tak bisa berbuat begitu dan selalu gagal kalau mencoba berbuat begitu,” kata Tan Malaka.

Saya membayangkan Tan Malaka mungkin akan senang dan terbantu dengan e-book berikut perkakas pembacanya. Dengan perkakas itu, Tan Malaka bisa membawa ratusan, bahkan ribuan, buku dalam genggaman.

Sementara Hatta, saya membayangkan, tak begitu antusias dengan e-book. Bagi Hatta, buku (cetak) adalah benda sakral dalam hidupnya. Mungkin ia tak akan menemukan sakralitas buku dalam e-book. Di sana tak ada material, kenangan, sejarah, posisi ruang sebuah buku untuk ditata rapi, bau buku, coretan para pembaca, atau tanda tangan asli penulis.

”Membaca adalah pengalaman tersendiri, ditandai tegangan antara teks dan keadaan badan serta jiwa pembaca. Kian kuat dan mantap tegangan itu, menjadi kian ’fungsional’ teks itu,” tulis Ronald Barker dan Robert Escarpit (1976:156). Saya pikir, Hatta merasakan pengalaman itu.

Karakter ”e-book”

E-book hampir seperti benda yang tidak ada, yang bisa diraba, disentuh, dipegang, dan dipandang. E-book adalah benda maya. Saat manusia memegang iPad, misalnya, masihkah ia sadar bahwa ia memegang buku? Buku, dalam pengertian konvensional, hilang. E-book nyaris tak menghadirkan tubuh material buku di hadapan manusia. E-book hendak mengelak dari sejarah dan selalu memosisikan diri dalam sebuah rumah kaca. Hendak mengelak ruang dan waktu serta akan selalu baru saat dibuka. Tak ada bekas sentuhan manusia, tempat manusia menaruh sejarah.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Rasanya, e-book tak mungkin melahirkan manusia protektif terhadap buku. Diceritakan dalam buku Bung Hatta, Pribadinya dalam Kenangan. Saat menguji pemahaman satu buku yang dipinjam keponakannya, Hasyim Ning, Hatta menemukan halaman dilipat. Hatta marah dan meminta Hasyim mencari dan mengganti buku itu. Di seluruh Jakarta tak ada buku itu. Saat Hasyim pulang, Hatta tersenyum. Begitulah Hatta mengajari orang untuk menjaga dan menghormati buku.

E-book juga tak akan melahirkan manusia sentimental terhadap buku dan perpustakaan seperti Nobelis Sastra 2010, Mario Vargas Llosa. ”Belum pernah saya alami perasaan dikhianati dan kesepian macam ini sejak berumur lima tahun,” kata Llosa (2007), saat melihat pemugaran dan penghilangan ruang di British Museum, ruang ia membaca-menulis dan mengenang ruang membaca Karl Marx.

Teknologi membaca

Halaman:


Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.