Ingat Danau Kelimutu, Ingat Burung Garugiwa

Kompas.com - 01/10/2011, 02:47 WIB

Dalam studi tersebut terdata, total 49 jenis burung di dalam kawasan TN Kelimutu (termasuk garugiwa), 14 jenis mamalia, 4 jenis ular, 1 jenis kadal, dan 2 jenis moluska. Ada pula 78 jenis pohon yang berkelompok dalam 36 suku yang tumbuh subur di kawasan seluas 5.356,50 hektar itu.

Garugiwa mempunyai keistimewaan yang tidak dimiliki oleh jenis satwa lain di lingkungan TN Kelimutu. Kekhasan burung dengan warna bulu tubuh bagian atas hijau kekuningan dan bagian bawah kuning zaitun itu mempunyai 22 jenis kicauan. Selain dapat mengeluarkan bunyi siulan, garugiwa juga dapat menirukan suara mirip ciap anak ayam dan suara mirip dentang lonceng atau besi yang bertumbukan.

Masyarakat etnik Lio juga menjuluki burung ini sebagai burung arwah. Ini mungkin karena burung tersebut tinggal di kawasan Danau Kelimutu sebagai kampung arwah, atau masyarakat setempat dapat mendengar kicaunya yang indah, tetapi wujudnya sulit dilihat karena mungil. Jadi, seakan ini burung misterius.

Ukuran tubuh garugiwa lebih kurang sama dengan burung pipit, dengan panjang total 19,5 sentimeter. Untuk mendengar kicaunya tak sulit. Demikian halnya ketika Kompas tiba pukul 05.45 wita, dari area tempat parkir, sekitar 2 kilometer dari kawah Danau Kelimutu, sudah terdengar kicauannya yang sangat keras dan nyaring. Burung ini biasa berkicau antara pukul 06.00 dan 10.00, dan suka bertengger di tajuk pohon dengan ketinggian lebih dari 10 meter.

Terlihat saat itu seekor garugiwa jantan bertengger menawan dan memperdengarkan suaranya di dahan cemara di kawasan arboretum TN Kelimutu. Hal ini tentu menjadi daya tarik tersendiri. Sebab, di arboretum seluas 4,5 hektar itu pengunjung juga dapat menyaksikan 79 jenis tanaman dengan jumlah 250 tanaman, termasuk jenis flora endemik TN Kelimutu: Utaonga (Begonia kelimutuensis Wiriadinata).

Dengan pepohonan yang rindang, rimbun, dan hijau; udara yang bersih alami; dan hawa yang sangat sejuk, berada dalam dekapan arboretum tubuh ini serasa lebih bugar.

Kepala Subbagian Tata Usaha TN Kelimutu Agustinus Krisdijantoro mengatakan, keberadaan burung garugiwa di kawasan arboretum menjadi sarana wisata pengamatan burung (birdwatching tour) yang menarik. ”Namun, burung ini juga sangat peka sehingga pengunjung harus hati-hati waktu mendekat. Jangan menimbulkan gerakan yang dapat membuat burung ini takut, lalu menjauh,” kata Agustinus.

Menurut Agustinus, penelitian yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Biologi LIPI tahun 2007-2010 belum mengkaji secara spesifik tentang burung garugiwa.

”Saat itu, yang dilakukan baru pemetaan secara umum, menyangkut potensi flora dan fauna di dalam kawasan TN Kelimutu. Sehingga sampai saat ini belum dapat diketahui berapa populasi dan penyebaran burung garugiwa. Sedang diupayakan tahun depan (2012) untuk penelitian lebih mendalam soal burung ini. Bahkan, taman nasional juga memiliki fungsi untuk budidaya sehingga ke depan pengembangbiakan burung ini akan turut diperhatikan untuk mencegah kepunahan,” ujar Agustinus.

Keharmonisan Danau Kelimutu dan burung garugiwa ibarat masakan dan garam. Tanpa garam, masakan akan menjadi hambar. Keduanya juga boleh dikatakan bagaikan dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Jadi, ingat Danau Kelimutu ingat pula burung garugiwa…. (Samuel Oktora/Bambang Sigap Sumantri)

Halaman:


Editor

Terkini Lainnya

Lagi, Seorang TKI Ilegal Asal NTT Meninggal di Malaysia

Lagi, Seorang TKI Ilegal Asal NTT Meninggal di Malaysia

Nasional
LPSK Terbentur Aturan Permintaan Perlindungan Saksi, Ini Saran Pakar Hukum

LPSK Terbentur Aturan Permintaan Perlindungan Saksi, Ini Saran Pakar Hukum

Nasional
Survei SMRC, Kondisi Penegakan Hukum Sebelum dan Sesudah Kerusuhan 22 Mei Dinilai Baik

Survei SMRC, Kondisi Penegakan Hukum Sebelum dan Sesudah Kerusuhan 22 Mei Dinilai Baik

Nasional
Dugaan Kecurangan TSM dalam Pilpres, Pengamat Sebut Seharusnya Prabowo-Sandi Diperiksa Juga

Dugaan Kecurangan TSM dalam Pilpres, Pengamat Sebut Seharusnya Prabowo-Sandi Diperiksa Juga

Nasional
Tren Takut Bicara Politik dan Penangkapan Semena-mena Meningkat Pasca Kerusuhan 22 Mei

Tren Takut Bicara Politik dan Penangkapan Semena-mena Meningkat Pasca Kerusuhan 22 Mei

Nasional
Minim Jelaskan Hasil Hitung Suara Versi Prabowo-Sandi, Tim Hukum 02 Dikritik

Minim Jelaskan Hasil Hitung Suara Versi Prabowo-Sandi, Tim Hukum 02 Dikritik

Nasional
Survei SMRC: Pasca Kerusuhan 21-22 Mei, Penilaian Soeharto Demokratis Meningkat

Survei SMRC: Pasca Kerusuhan 21-22 Mei, Penilaian Soeharto Demokratis Meningkat

Nasional
Jabatan Ma'ruf Amin di Bank Syariah Dinilai Tak Timbulkan Konflik Kepentingan

Jabatan Ma'ruf Amin di Bank Syariah Dinilai Tak Timbulkan Konflik Kepentingan

Nasional
Survei SMRC: Soeharto Dinilai Diktator, SBY dan Jokowi Dinilai Demokratis

Survei SMRC: Soeharto Dinilai Diktator, SBY dan Jokowi Dinilai Demokratis

Nasional
Survei SMRC: 69 Persen Publik Nilai Pilpres 2019 Berlangsung Jurdil

Survei SMRC: 69 Persen Publik Nilai Pilpres 2019 Berlangsung Jurdil

Nasional
Survei SMRC: Mayoritas Publik Nilai Demokrasi Semakin Baik Selama 20 Tahun Terakhir

Survei SMRC: Mayoritas Publik Nilai Demokrasi Semakin Baik Selama 20 Tahun Terakhir

Nasional
Pakar: Petitum Gugatan Prabowo-Sandi Seakan Bukan Dibuat Orang Hukum

Pakar: Petitum Gugatan Prabowo-Sandi Seakan Bukan Dibuat Orang Hukum

Nasional
TKN: Tim Hukum 02 Bangun Narasi Saksinya Terancam

TKN: Tim Hukum 02 Bangun Narasi Saksinya Terancam

Nasional
Menurut KPK, Kasus Pelesiran Novanto Beresiko bagi Kredibilitas Kemenkumham

Menurut KPK, Kasus Pelesiran Novanto Beresiko bagi Kredibilitas Kemenkumham

Nasional
Tim 02 Minta Perlindungan Saksi, TKN Singgung Kasus yang Pernah Jerat Bambang Widjojanto

Tim 02 Minta Perlindungan Saksi, TKN Singgung Kasus yang Pernah Jerat Bambang Widjojanto

Nasional

Close Ads X