Ketika Pejabat Menjadi Abdi Dalem

Kompas.com - 21/09/2011, 03:44 WIB
Editor

Menjadi pejabat publik sering kali identik dengan sosok yang sulit dijangkau masyarakat kalangan bawah. Namun, di dalam lingkungan Keraton Yogyakarta, pejabat apa pun memiliki status yang sama, yaitu sebagai abdi dalem. A Budi Kurniawan

Situasi ini berlaku bagi beberapa pejabat yang diwisuda sebagai abdi dalem Keraton Yogyakarta, Selasa (13/9) pagi di Bangsal Kasatriyan, Keraton Yogyakarta. Mereka adalah mantan Jaksa Agung Hendarman Supandji, Wali Kota Yogyakarta Herry Zudianto, Bupati Sleman Sri Purnomo, dan Bupati Bantul Sri Surya Widati.

Bersama 251 abdi dalem lainnya, pejabat-pejabat tersebut antre di Bangsal Magangan sejak pukul 08.00 dan bersiap-siap menuju Bangsal Kasatriyan untuk menjalani prosesi wisuda sekaligus naik pangkat sebagai abdi dalem Keraton Yogyakarta.

Siapa pun yang ingin menjadi abdi dalem Keraton Yogyakarta wajib mendaftarkan diri, tidak terkecuali pejabat, pegawai negeri sipil (PNS), maupun masyarakat biasa. Selanjutnya, dalam waktu tiga bulan pihak keraton akan melakukan seleksi.

Khusus calon abdi dalem keprajan (pensiunan PNS atau pejabat) proses seleksi akan ditangani tim khusus yang disebut Ndoropuro. Sementara, calon abdi dalem punokawan (dari masyarakat umum) akan ditangani tim Parentah Hageng.

Dalam proses seleksi, para calon abdi dalem akan diteliti lebih lanjut mulai dari sejarah hidup, pangkat serta jabatan, hingga tingkah laku mereka. Bagi para calon abdi dalem yang pernah menduduki jabatan atau memiliki jasa tertentu, pihak keraton akan memberikan pangkat khusus. Dalam setahun, proses seleksi biasanya berlangsung dua kali, yaitu setiap bulan Jawa Syawal dan Ba’da Mulud.

Setelah selesai proses seleksi, calon-calon abdi dalem diundang Keraton Yogyakarta untuk menjalani proses magang. Abdi dalem punokawan diwajibkan menjalani masa magang selama beberapa pekan, sedangkan abdi dalem keprajan bisa langsung diwisuda sambil dalam perjalanan belajar tentang tata perilaku dan ritual keraton.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Di Keraton Yogyakarta, jabatan abdi dalem haram dikomersialkan. Siapa pun yang diketahui meminta pungutan kepada calon abdi dalem maka dirinya langsung dipecat. ”Dulu pernah ada salah satu abdi dalem juga anggota tim seleksi memungut uang kepada calon abdi dalem. Pihak keraton langsung memberikan sanksi miji tumpuk, atau kesalahan yang tak termaafkan. Dia langsung dipecat sebagai abdi dalem,” kata Kahartan Panitropuro Keraton Yogyakarta Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Condropurnomo.

Belajar jadi abdi dalem

Sama seperti lainnya, calon abdi dalem juga harus belajar unggah-ungguh (sopan santun) keraton, seperti duduk bersila atau laku ndhodhok (berjalan dengan bertumpu pada lutut) saat memasuki Bangsal Magangan (tempat magang) ataupun Bangsal Kasatriyan (tempat wisuda abdi dalem). Karena tak terbiasa duduk bersila berjam-jam, beberapa pejabat atau mantan pejabat sering kali tampak kesemutan dan berulang kali memperbaiki posisi kaki.

”Jalan jongkok saja saya belum bisa, sekarang malah langsung praktik,” kata mantan Jaksa Agung Hendarman Supandji di sela prosesi wisuda abdi dalem.

Setelah tak menjabat sebagai Jaksa Agung, Hendarman merasa terpanggil untuk menjadi abdi dalem Keraton Yogyakarta. Keinginan ini diperkuat dengan sejarah hidupnya di Yogyakarta. Enam tahun ia menjalani sekolah dasar di Yogyakarta dan dua tahun pernah menjabat sebagai Jaksa Tinggi.

”Di sini saya mendapat berkah. Setelah jadi Jaksa Tinggi selama dua tahun di Yogya, karier saya langsung melesat mulai dari menjabat Jaksa Muda Pidana Khusus, Ketua Tim Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, hingga Jaksa Agung. Sekarang, meski tak lagi menjadi pejabat, saya tetap harus mengabdi, memelihara nilai-nilai luhur dan belajar nrimo dengan menjadi abdi dalem,” paparnya.

Mengabdi: melayani

Sementara itu, Wali Kota Yogyakarta Herry Zudianto, mengaku baru berani mendaftar sebagai abdi dalem setelah hampir 10 tahun melayani masyarakat Yogyakarta. Ketertarikan dirinya menjadi abdi dalem terinspirasi dari visi Sultan Hamengku Buwono IX, ”Takhta untuk Rakyat”.

”Simbolisasi keraton tertanam pada visi Sultan HB IX itu, di mana pemimpin bukan meminta tapi memberi. Seorang penguasa harus menjadi pelayan rakyat dan bukan sekadar penguasa. Keraton menjadi simbol manunggaling kawulo Gusti,” kata Herry.

Pejabat yang baru saja terpilih sebagai Bupati Sleman, Sri Purnomo, merasa berkewajiban memelihara sejarah serta nilai-nilai luhur keraton. Karena itulah, ia memutuskan diri untuk mendaftar sebagai abdi dalem tiga bulan lalu. Hal serupa juga dilakukan Bupati Sleman Sri Surya Widati.

Dalam wisuda abdi dalem ini, para pejabat mendapat pangkat Bupati Sepuh dari Sultan Hamengku Buwono X. Karena telah masuk dalam jajaran abdi dalem, Hendarman Supanji mendapat gelar Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Panjiwiduro, kemudian Herry mendapat gelar KRT Wasesadipraja, Sri Purnomo mendapat gelar Kanjeng Mas Tumenggung Purnamapradipta, dan Bupati Bantul Sri Surya Widati bergelar Nyai KRT Suryawati.

Panghageng Kawedanan Hageng Panitropuro Keraton Ngayogyakarta Gusti Bendoro Pangeran Haryo (GBPH) Joyohadikusumo mengatakan, menjadi abdi dalem berarti menjadi abdi kebudayaan Keraton Yogyakarta. ”Abdi dalem sanes (bukan) batur (pembantu) Sultan, tetapi abdi kebudayaan Keraton Yogyakarta. Abdi dalem harus mengetahui jati diri priayi Ngayogyakarta,” ucapnya.

Menurut Joyo, di lingkungan abdi dalem Keraton Yogyakarta terdapat macam-macam kalangan masyarakat, mulai dari profesor, doktor, pejabat, hingga rakyat biasa. Meski demikian, tidak ada istilah atasan atau bawahan di dalamnya.

Untuk menghilangkan kesenjangan, di keraton digunakan bahasa Bagongan, yaitu perpaduan bahasa kromo (bahasa halus) dan ngoko (bahasa kasar). Bahasa ini tidak membedakan atasan atau bawahan, semuanya sama, mulai dari status Pangeran hingga abdi dalem terendah. Selain kepada Sultan, semua kalangan keraton berdialog menggunakan bahasa ini. Justru di sini abdi dalem dari berbagai kalangan saling memperlakukan dan diperlakukan sejajar, termasuk para pejabat.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.