Pesan Provokatif di Ambon Juga Lewat Facebook

Kompas.com - 15/09/2011, 13:01 WIB
EditorHeru Margianto

JAKARTA, KOMPAS.com — Kepala Divisi Humas Polri Irjen Anton Bachrul Alam mengungkapkan, pesan provokatif yang memicu pertikaian di Ambon bukan hanya berasal dari short message service (SMS), melainkan juga dari jejaring sosial Facebook. Komentar ataupun testimoni dari Facebook diduga turut memicu pembacanya. Oleh karena itu, polisi saat ini juga melakukan pelacakan terhadap pesan-pesan di Facebook itu.

"Ada yang melalui SMS, ada yang melalui Facebook. Komentar-komentar yang sifatnya provokatif. Kita semua lacak ya," ujar Anton di Gedung Mabes Polri, Jakarta, Kamis (15/9/2011).

Sementara itu, menyangkut pesan singkat melalui telepon, kata Anton, juga tersebar di beberapa kota, salah satunya Jakarta. Hingga kini Polri masih terus melacak nomor-nomor yang mengirimkan pesan itu.

"Polri terus serius melakukan pelacakan SMS provokatif ini. Nanti kan bisa diurut dari mana saja. Siapa yang pertama kali membuat kan bisa ketahuan. Di Jakarta kan juga ada. Ada yang sama dan ada yang beda nomornya. Tapi, kita bisa tahu nanti. Mungkin nanti ada yang diperiksa," lanjutnya.

Sebelumnya diberitakan, Kabareskrim Komjen Sutarman juga menyatakan sudah mendeteksi pengirim pesan singkat provokatif terkait dengan kasus kekerasan di Ambon. Pesan singkat itu juga diikirim ke Surabaya dan Solo.

Pesan itu berisi isu bahwa tukang ojek Darfin Saimen yang tewas pada Sabtu pekan lalu bukan karena kecelakaan, melainkan dibunuh oleh kelompok tertentu. Inilah yang menyebabkan terjadi pertikaian antara dua kelompok di Ambon dan menewaskan tujuh warga sipil.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Tanoto Foundation Gandeng Pusdiklat Kesos untuk Cegah Stunting

Tanoto Foundation Gandeng Pusdiklat Kesos untuk Cegah Stunting

Nasional
Curhat Seorang Dokter ke Jokowi, Distigma hingga Diintimidasi Keluarga Pasien Covid-19

Curhat Seorang Dokter ke Jokowi, Distigma hingga Diintimidasi Keluarga Pasien Covid-19

Nasional
Tak Langsung Periksa Maria Pauline Lumowa, Bareskrim: Dia Sedang Istirahat

Tak Langsung Periksa Maria Pauline Lumowa, Bareskrim: Dia Sedang Istirahat

Nasional
Pembentukan Komisi Independen Dianggap Perlu Diatur dalam RUU PDP

Pembentukan Komisi Independen Dianggap Perlu Diatur dalam RUU PDP

Nasional
Enam Hal Ini Bisa Bantu Perbaiki Stigma Negatif Terkait Covid-19

Enam Hal Ini Bisa Bantu Perbaiki Stigma Negatif Terkait Covid-19

Nasional
Putusan MA Dinilai Tak Mungkin Ubah Hasil Pilpres 2019, Ini Alasannya

Putusan MA Dinilai Tak Mungkin Ubah Hasil Pilpres 2019, Ini Alasannya

Nasional
Dokter di Sampit ke Jokowi: Percuma Kita 'Tracing' Terus tetapi Tak Ada Alat

Dokter di Sampit ke Jokowi: Percuma Kita "Tracing" Terus tetapi Tak Ada Alat

Nasional
Periksa Eks Deputi Bappenas, KPK Gali Informasi Penerimaan Uang dari Mitra PT DI

Periksa Eks Deputi Bappenas, KPK Gali Informasi Penerimaan Uang dari Mitra PT DI

Nasional
Periksa Saksi, KPK Konfirmasi Aset Milik Nurhadi dan Menantunya yang Berada di SCBD

Periksa Saksi, KPK Konfirmasi Aset Milik Nurhadi dan Menantunya yang Berada di SCBD

Nasional
Belajar dari Putusan MA, Perludem Nilai Revisi UU Pemilu Perlu Memuat Putusan MK Terkait

Belajar dari Putusan MA, Perludem Nilai Revisi UU Pemilu Perlu Memuat Putusan MK Terkait

Nasional
Jokowi Tunjuk Prabowo jadi 'Leading Sector' Lumbung Pangan Nasional

Jokowi Tunjuk Prabowo jadi 'Leading Sector' Lumbung Pangan Nasional

Nasional
Pimpinan KPK Datangi Kantor Anies Baswedan, Ini yang Dibicarakan...

Pimpinan KPK Datangi Kantor Anies Baswedan, Ini yang Dibicarakan...

Nasional
Kejagung Periksa Tiga Saksi Terkait Korupsi Impor Tekstil India

Kejagung Periksa Tiga Saksi Terkait Korupsi Impor Tekstil India

Nasional
Putusan MA Dinilai Tak Pengaruhi Legitimasi Jokowi

Putusan MA Dinilai Tak Pengaruhi Legitimasi Jokowi

Nasional
Rekor 2.657 Kasus Baru Covid-19, Jokowi: Ini Lampu Merah Lagi

Rekor 2.657 Kasus Baru Covid-19, Jokowi: Ini Lampu Merah Lagi

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X