Antara Setan, Neraka, dan Koruptor

Kompas.com - 24/07/2011, 03:50 WIB
Editor

Lebih polos lagi, Benyamin ”mentransformasikan” gaya menyanyi penyanyi rock yang pecicilan dan penuh teriak itu dalam lagu ”Kesurupan.” Ia menirukan gaya orang kesurupan dengan gaya banyolan khasnya, ”Hei setan mana ini? Setan Gundul.” Di tangan Benyamin, rock menjadi komedi. Lagu rock digunakan untuk main-main dengan semangat kerakyatan.

Meniru dan identitas 

Apa boleh buat, rock datang ke Indonesia sebagai suara. Bukan sebagai sebuah gerakan budaya kaum muda seperti yang terjadi di Barat, tanah asalnya. Yang kemudian tertangkap di sini adalah aspek suara yang ingar. Bernyanyi rock dalam bahasa Indonesia dirasa oleh seniman Melayu sebagai perkara yang tidak mudah.

”Penataan nadanya susah karena kita terbiasa menggunakan bahasa Inggris. Kemudian kita harus menggunakan bahasa Indonesia. Mengucapkan ’aku cinta padamu’ saja rasanya juga aneh,” kata Ian Antono mengenang masa ketika harus membuat rock dalam bahasa Indonesia. Belakangan Ian produktif menulis lagu rock, bekerja sama dengan penulis lirik.

Pengamat dan praktisi musik, Remy Sylado, bisa memahami kesulitan musisi Indonesia tersebut. Salah satu faktor penyebabnya adalah panjangnya suku kata dalam bahasa Indonesia. ”Untuk mengatakan I love you saja dari tiga suku kata perlu tujuh suku kata menjadi a-ku cin-ta pa-da-mu,” tuturnya.

Proses mengindonesiakan rock memang melewati tahapan meniru.

Arthur Kaunang, pemetik bas band AKA dan kemudian membentuk SAS bersama personel AKA Sunata Tanjung dan Sjech Abidin, itu mengakui proses meniru merupakan sesuatu yang wajar. AKA dan SAS, misalnya, banyak membawakan lagu Jimi Hendrix, James Brown, Black Sabbath, Grand Funk Railroad, dan ELP.

”Kami saat itu masih sebagai pemain (lagu orang). Tapi, itu menjadi dasar untuk menjadikan rock sebagai tuan rumah di negeri sendiri,” kata Arthur.

Ian Antono juga mengakui melewati proses meniru sebagai semacam tahapan belajar untuk akhirnya mendapatkan identitas personal dan rasa percaya diri . ”Aransemen (band yang ditiru) itu melekat di kepala. Menghilangkannya yang susah. Sampai ada not-not Genesis yang masih terasa,” kata Ian jujur.

Dalam proses tersebut, penyanyi Ikang Fawzi memilih Rod Stewart yang bersuara serak. Di panggung ia sering membawakan lagu Rod, seperti ”I Don't Wanna Talk About It.” Menurut Ikang, banyak orang yang suka ketika ia membawakan lagu-lagu penyanyi Rod. “Dulu saya nyanyi berbagai lagu, tapi kalau pas membawakan lagu rock, apalagi dari Rod Stewart, responsnya meriah, jadilah saya sering nyanyi lagu-lagunya,” kata Ikang.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.